Ketahanan Perbankan RI Tetap Kuat Hadapi Risiko Dampak Perang Timur Tengah

Media Indonesia
22/4/2026 21:05
Ketahanan Perbankan RI Tetap Kuat Hadapi Risiko Dampak Perang Timur Tengah
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (tengah)(Antara)

BANK Indonesia (BI) menegaskan kondisi sektor perbankan nasional masih berada dalam posisi yang solid untuk menghadapi potensi risiko dari meningkatnya ketegangan dan dampak perang di kawasan Timur Tengah.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa stabilitas perbankan saat ini ditopang oleh fundamental yang kuat, mulai dari likuiditas yang memadai, permodalan yang kokoh, hingga risiko kredit yang tetap terkendali.

"Perkembangan ini ditandai dengan likuiditas perbankan yang memadai, kapasitas permodalan yang terjaga pada level tinggi, dan risiko kredit yang tetap rendah," ungkapnya dalam agenda Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan April 2026 yang diadakan secara virtual, Jakarta, Rabu.

Permodalan Perbankan Masih Sangat Kuat

Dari sisi permodalan, industri perbankan Indonesia mencatat rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) yang tinggi. Pada Februari 2026, CAR berada di level 25,83 persen, yang menunjukkan kemampuan bank yang kuat dalam menyerap potensi risiko sekaligus mendukung ekspansi kredit.

Risiko Kredit Tetap Terkendali

Sementara itu, kualitas kredit perbankan juga masih terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat rendah, yakni 2,17% (bruto) dan 0,83% (neto) pada Februari 2026. Angka ini mencerminkan risiko pembiayaan yang masih dalam batas aman.

BI juga menyampaikan bahwa hasil stress test menunjukkan sistem perbankan nasional tetap resilien menghadapi berbagai tekanan eksternal, termasuk dampak rambatan dari konflik global di Timur Tengah. Ketahanan ini didukung oleh kemampuan bayar sektor korporasi serta profitabilitas yang tetap stabil.

"Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan makroprudensial dan sinergi kebijakan bersama KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) dalam rangka turut menjaga stabilitas sistem keuangan," ujar Perry Warjiyo.

Kredit Perbankan Tumbuh Lebih Tinggi

Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit perbankan juga menunjukkan peningkatan. Pada Maret 2026, kredit tumbuh 9,49% year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 9,37% yoy.

Berdasarkan jenisnya, pertumbuhan kredit ditopang oleh:

  • Kredit investasi tumbuh 20,85% yoy
  • Kredit modal kerja naik 4,38% yoy
  • Kredit konsumsi meningkat 5,88% yoy

Proyeksi Pertumbuhan Kredit Masih Positif

BI memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 akan tetap berada di kisaran 8–12%, yang dipengaruhi oleh keseimbangan antara sisi permintaan dan penawaran.

Dari sisi permintaan, masih terdapat ruang besar bagi peningkatan pembiayaan perbankan, terutama melalui pemanfaatan fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan) yang mencapai Rp2.527,46 triliun atau 22,59% dari total plafon kredit.

Sementara dari sisi penawaran, kapasitas perbankan dinilai masih kuat. Hal ini tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang berada di level 27,85% serta pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang masih tinggi sebesar 13,55% yoy pada Maret 2026.

BI Dorong Penguatan Pendanaan Perbankan

Ke depan, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sumber pendanaan perbankan guna mendukung pertumbuhan kredit, termasuk melalui pengembangan instrumen pendanaan nonkonvensional.

"Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat kapasitas pendanaan perbankan, termasuk pengembangan instrumen nontraditional funding (non-DPK) guna mendukung penyaluran kredit perbankan," kata Gubernur BI. (Ant/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya