MESKIPUN ketegangan akibat perang di Iran telah mendorong harga bensin di Amerika Serikat (AS) melampaui US$4 per galon atau sekitar Rp68 ribu--level tertinggi dalam empat tahun terakhir--konsumen Amerika ternyata masih menikmati harga yang jauh lebih murah dibandingkan penduduk di negara maju lain.
Perbedaan harga yang mencolok antara AS dengan negara-negara di Eropa atau Asia bukan terjadi tanpa alasan. Terdapat dua faktor utama yang mendasarinya yaitu kebijakan pajak yang rendah dan dominasi produksi minyak domestik.
Faktor Utama: Kebijakan Pajak yang Rendah
Menurut data S&P Global Energy, perbedaan harga bensin di seluruh dunia sebagian besar disebabkan oleh kebijakan pajak masing-masing negara. Pemerintah AS mengenakan salah satu tarif pajak bahan bakar terendah di dunia.
Sebagai gambaran, pada Maret lalu, saat konsumen Amerika membayar rata-rata US$3,64 per galon, hanya sekitar 60 sen yang dialokasikan untuk pajak federal dan negara bagian. Sebaliknya, di Eropa, pajak mencakup 50% hingga 60% dari harga eceran bahan bakar.
| Negara | Harga Rata-rata | Komponen Pajak |
|---|---|---|
| Amerika Serikat | US$3,64 - US$4,00 | ~60 Sen |
| Meksiko | US$5,07 | ~US$2,00 |
| Jerman | US$8,75 | > 50% (PPN & Bea Cukai) |
Produksi Minyak Domestik yang Melimpah
Selain pajak, ketahanan energi AS didorong oleh statusnya sebagai produsen minyak terbesar di dunia. Saat ini, AS memproduksi minyak jauh lebih banyak dibandingkan masa krisis energi tahun 1970-an. Hal ini memberikan perlindungan ekstra bagi konsumen domestik dari guncangan pasokan global akibat konflik di Timur Tengah.
Ketergantungan warga Amerika terhadap kendaraan pribadi juga sangat tinggi. Data federal menunjukkan rata-rata warga AS mengemudi sejauh 13.000 mil per tahun, membuat mereka sangat sensitif terhadap fluktuasi harga di SPBU.
Perbedaan Alokasi Pendapatan Negara
Rob Smith, Direktur Ritel Bahan bakar Global S&P Energy, menjelaskan bahwa AS umumnya menyalurkan pajak bahan bakar khusus untuk pemeliharaan jalan raya. Sementara itu, negara-negara lain menggunakan pajak bensin untuk mendanai sistem transportasi umum hingga pengeluaran pemerintah secara umum.
Meskipun beberapa negara bagian seperti California mulai menerapkan biaya tambahan terkait regulasi karbon dan lingkungan untuk menekan penggunaan bahan bakar fosil, kebijakan tersebut masih dianggap kurang komprehensif jika dibandingkan dengan standar ketat yang diterapkan di Uni Eropa. (WSJ/I-2)
