Trump Tolak Perpanjang Gencatan Senjata, Krisis Selat Hormuz Mengancam Global

Wisnu Arto Subari
22/4/2026 06:43
Trump Tolak Perpanjang Gencatan Senjata, Krisis Selat Hormuz Mengancam Global
Ilustrasi.(Freepik)

KETEGANGAN antara Amerika Serikat dan Iran mencapai titik kritis setelah Presiden Donald Trump menyatakan keengganannya untuk memperpanjang masa gencatan senjata yang akan berakhir dalam hitungan jam. Trump menegaskan bahwa AS berada dalam posisi tawar yang kuat dan siap mengambil tindakan militer jika kesepakatan tidak segera tercapai.

"Kita tidak punya banyak waktu," ujar Trump kepada CNBC pada Selasa (21/4) pagi. Ia memperingatkan bahwa serangan udara bisa kembali dilakukan jika perundingan mengalami kebuntuan. "Saya memperkirakan akan melakukan pengeboman karena saya pikir itu adalah sikap yang lebih baik untuk memulai. Militer kami sangat bersemangat untuk bertindak," tambahnya.

Iran: Tidak Ada Negosiasi di Bawah Ancaman

Di pihak lain, Teheran menunjukkan sikap menantang. Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada tekanan militer. Ia memperingatkan bahwa Iran siap mengungkapkan kartu baru di medan perang jika kedaulatan mereka terus diusik.

Duta Besar Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam, menyebut posisi Iran sebagai prinsip teologis yang substansial. Sementara itu, Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ali Abdollahi, menyatakan bahwa kontrol atas Selat Hormuz tidak akan bisa dieksploitasi oleh pihak yang ia sebut sebagai pemimpin delusi.

Status Perundingan di Pakistan:
  • Delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, didampingi Steve Witkoff dan Jared Kushner.
  • Iran belum mengonfirmasi kehadiran delegasi mereka di Islamabad hingga Selasa sore.
  • Gencatan senjata dijadwalkan berakhir pada Rabu dini hari waktu Iran.

Blokade Selat Hormuz dan Dampak Ekonomi Dunia

Konflik ini berpusat pada perebutan kendali di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui seperlima produksi minyak global. Angkatan Laut AS baru-baru ini menyita kapal Iran di Teluk Oman, tindakan yang disebut Iran sebagai pelanggaran gencatan senjata. Sebaliknya, AS menuduh Iran melumpuhkan perdagangan global dengan menembakkan peluru di jalur pelayaran tersebut.

Kepala Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa konflik ini telah memicu krisis energi terbesar dalam sejarah, melampaui dampak gabungan dari krisis gas Rusia-Ukraina. Ketidakstabilan harga energi mulai dirasakan konsumen dunia, mulai dari lonjakan harga tiket pesawat hingga kenaikan harga BBM di pompa bensin.

Pemimpin Dunia Posisi / Tindakan
Keir Starmer (Inggris) & Emmanuel Macron (Prancis) Membentuk misi multinasional defensif untuk melindungi kapal dagang dan pembersihan ranjau.
Xi Jinping (Tiongkok) Menyerukan gencatan senjata segera dan komprehensif untuk mengamankan jalur perdagangan.
Kemenlu Pakistan Mendesak perpanjangan gencatan senjata selama dua minggu untuk memberi ruang bagi diplomasi.

Dengan berakhirnya masa gencatan senjata yang rapuh ini, dunia kini menanti apakah diplomasi menit-menit terakhir di Islamabad dapat mencegah pecahnya perang terbuka yang lebih luas di Timur Tengah. (Time/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya