Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
EMIRAT Arab secara mengejutkan mengumumkan pengunduran diri dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) serta aliansi OPEC+. Keputusan yang berlaku efektif mulai 1 Mei ini diprediksi akan mengguncang kendali harga minyak global yang selama ini didominasi oleh Arab Saudi.
Menteri Energi Emirat, Suhail Al Mazrouei, menyampaikan apresiasinya melalui media sosial atas kerja sama yang terjalin selama puluhan tahun. "Kami berterima kasih kepada OPEC dan negara-negara anggotanya atas kerja sama konstruktif selama beberapa dekade," tulisnya.
Berdasarkan pernyataan resmi yang dirilis kantor berita negara Emirat, langkah besar ini diambil untuk mencerminkan visi strategis dan ekonomi jangka panjang negara tersebut. Selain itu, profil energi Emirat yang terus berkembang menjadi alasan utama di balik keputusan untuk berdiri sendiri di luar kartel minyak tersebut.
Keputusan Emirat keluar dari OPEC terjadi di tengah situasi geopolitik yang sangat panas. Gangguan di Selat Hormuz akibat konflik yang melibatkan Iran mengganggu dinamika pasokan minyak mentah dunia secara signifikan. Penutupan sebagian jalur pelayaran vital tersebut oleh Iran merupakan respons terhadap serangan dari Amerika Serikat dan Israel.
Kondisi ini diperparah dengan langkah Amerika Serikat yang memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, menciptakan guncangan energi global yang merambat ke seluruh sektor ekonomi dunia.
Keluarnya Emirat menjadi pukulan diplomatik dan ekonomi bagi Arab Saudi yang selama ini menjadi pemimpin de facto kelompok tersebut. Langkah ini juga sejalan dengan kritik yang sering dilontarkan Presiden Donald Trump terhadap peran OPEC dalam menentukan harga minyak global secara sepihak.
Dengan hengkangnya Emirat, kini OPEC hanya menyisakan 11 anggota inti, yaitu:
| Wilayah | Negara Anggota Tersisa |
|---|---|
| Timur Tengah | Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait |
| Afrika | Aljazair, Kongo, Guinea Ekuatorial, Gabon, Libya, Nigeria |
| Amerika Selatan | Venezuela |
Kepergian Emirat menandai babak baru dalam peta energi Timur Tengah. Negara-negara produsen mulai memprioritaskan kepentingan nasional dan fleksibilitas ekonomi di atas solidaritas kartel tradisional. (Washington Post/I-2)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Hingga 29 April 2026, sebanyak 122 kelompok terbang (kloter) atau 47.834 jemaah telah diberangkatkan menuju Tanah Suci.
Ia memastikan bahwa kondisi para korban terus dipantau secara intensif oleh petugas, dengan seluruh kebutuhan medis maupun logistik telah terpenuhi.
Di sisi lain, layanan kesehatan di Daerah Kerja Madinah juga terus dioptimalkan. Tercatat 1.373 jemaah menjalani rawat jalan.
Arab Saudi intensifkan diplomasi di Libanon melalui Perjanjian Taif untuk melucuti senjata Hizbullah di tengah goyahnya gencatan senjata Israel-Hizbullah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved