Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan tegas terkait eskalasi ketegangan dengan Iran dalam pidatonya di forum Future Investment Initiative (FII) Priority Summit di Miami Beach, Florida, Jumat waktu setempat. Trump menekankan operasi militer di wilayah tersebut masih jauh dari kata selesai.
“Ini belum berakhir. Saya tidak mengatakan ini hampir selesai, tapi memang belum berakhir. Ini harus diselesaikan,” ujar Trump di hadapan peserta delegasi.
Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Trump sempat mengklaim kemenangan atas Iran dalam pernyataan di Oval Office pada Selasa lalu. Namun, kali ini ia menyoroti bahwa masih ada agenda militer yang harus dituntaskan dengan cepat.
Secara spesifik, Trump mengungkapkan militer AS masih memiliki daftar target yang sangat besar di Iran. “Masih ada 3.554 target lagi yang harus dihantam. Itu akan dilakukan dengan cukup cepat,” cetusnya. Ia juga mengklaim bahwa kekuatan Iran saat ini telah jauh melemah, "Mereka belum pernah melihat yang seperti ini."
Menariknya, Trump secara konsisten menggunakan istilah "konflik militer" ketimbang "perang" dalam pidatonya. Ia mengakui ada alasan legal di balik pemilihan kata tersebut.
“Mereka menyebutnya perang. Saya menyebutnya konflik militer, tapi ada alasan hukum untuk itu,” ungkapnya. Langkah ini diyakini sebagai upaya untuk menghindari hambatan dari War Powers Resolution 1973, yang mewajibkan Presiden mendapatkan izin Kongres jika operasi militer melebihi batas waktu tertentu. Trump memproyeksikan operasi ini akan tuntas dalam lima minggu, tetap berada di bawah ambang batas hukum 60 hari.
Di tengah ketegangan, Trump sempat melontarkan candaan dengan menyebut Selat Hormuz sebagai "Selat Trump" sebelum mengoreksinya kembali. "Maksud saya Hormuz. Maafkan saya, kesalahan yang sangat buruk," candanya yang disambut riuh penonton.
Namun, di balik candaan tersebut, terselip ancaman serius. Trump menuntut Iran membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya. Jalur pelayaran vital yang telah tertutup selama hampir empat minggu ini telah mengacaukan pasar minyak dunia. Trump menetapkan tenggat waktu baru hingga Senin, 6 April mendatang. Jika gagal, ia mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik di seluruh Iran.
Meskipun intensitas militer meningkat, Trump mengklaim Iran sedang berada dalam posisi terdesak untuk bernegosiasi. “Mereka sedang memohon untuk membuat kesepakatan,” klaimnya. Ia menyebut izin melintas bagi 10 kapal tanker minyak baru-baru ini adalah bentuk kompensasi Iran setelah sebelumnya membantah adanya jalur negosiasi.
Di akhir pidatonya, Trump kembali menyuarakan ambisi diplomatiknya untuk memperluas Abraham Accords, prestasi kebijakan luar negeri dari masa jabatan pertamanya. Ia mengajak lebih banyak negara Timur Tengah untuk melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.
“Kami berharap semua negara akan bergabung dalam Abraham Accords. Kita memiliki beberapa negara sangat berani yang sudah melakukannya,” tutup Trump. (CNN/Z-2)
MENTERI Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan tetap melanjutkan kunjungannya ke Pakistan pada Minggu (26/4).
PROSPEK tercapainya terobosan diplomatik dalam konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kian memudar.
Pentagon mengumumkan pengunduran diri Sekretaris Angkatan Laut AS John Phelan secara mendadak. Langkah ini memperpanjang daftar "pembersihan" pejabat militer era Trump.
MENTERI Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyerukan agar Amerika Serikat dan Iran mempertimbangkan perpanjangan masa gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada Rabu (22/4).
Paus Leo mengklarifikasi pidatonya tentang biaya perang yang dianggap menyindir Donald Trump. Simak penjelasannya saat melakukan kunjungan ke Afrika.
PRESIDEN Donald Trump menyatakan bahwa proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berlangsung dan menunjukkan kemajuan positif.
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved