Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
IRAN menyatakan tidak akan membiarkan Amerika Serikat, Israel, maupun negara sekutunya menerima pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah selama konflik masih berlangsung. Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ali Mohammad Naini, pada Selasa (10/3).
"Di tengah agresi yang terus berlangsung dari Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap rakyat Iran serta infrastruktur sipil kami, angkatan bersenjata Iran tidak akan membiarkan setetes pun minyak diekspor dari kawasan ini kepada pihak yang bermusuhan dan mitra mereka hingga pemberitahuan lebih lanjut," kata Naini seperti dikutip kantor berita Tasnim.
Naini juga menilai upaya pihak lawan untuk menekan serta mengendalikan harga minyak dan gas global tidak akan berdampak lama. Menurutnya, langkah tersebut hanya bersifat sementara dan tidak akan mampu mengubah situasi secara signifikan.
Ia menambahkan bahwa setiap upaya pihak lawan untuk menekan dan mengendalikan harga minyak serta gas hanya akan bersifat sementara dan tidak akan berhasil.
Lebih lanjut, Naini menegaskan bahwa Iran masih memegang kendali atas perkembangan konflik yang sedang terjadi. Menurut Naini, Teheran saat ini memegang kendali atas perkembangan konflik yang sedang berlangsung.
Ia menegaskan Iran pula yang akan menentukan kapan konflik tersebut akan berakhir.
Dalam kesempatan yang sama, Naini membantah pernyataan sejumlah pejabat Amerika Serikat yang menyebut kemampuan Iran dalam meluncurkan rudal mulai menurun. Menurutnya, Iran justru akan meningkatkan kapasitas serangan rudal yang dimiliki.
Sebaliknya, kata dia, Iran justru akan meningkatkan kekuatan serangan rudalnya. Ia menyebutkan bahwa Iran berencana menggunakan rudal dengan kekuatan lebih besar, termasuk hulu ledak dengan bobot minimal satu ton.
Pernyataan keras dari Iran muncul setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari, termasuk wilayah ibu kota Teheran.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas dan menimbulkan korban di kalangan warga sipil. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Pada awalnya, Washington dan Tel Aviv menyatakan bahwa serangan militer tersebut merupakan langkah pencegahan terhadap ancaman yang dinilai berasal dari program nuklir Iran. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, kedua negara juga menyampaikan keinginan untuk melihat perubahan kekuasaan di Iran. (Ant/E-4)
MENTERI Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan tetap melanjutkan kunjungannya ke Pakistan pada Minggu (26/4).
PROSPEK tercapainya terobosan diplomatik dalam konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kian memudar.
Pentagon mengumumkan pengunduran diri Sekretaris Angkatan Laut AS John Phelan secara mendadak. Langkah ini memperpanjang daftar "pembersihan" pejabat militer era Trump.
MENTERI Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyerukan agar Amerika Serikat dan Iran mempertimbangkan perpanjangan masa gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada Rabu (22/4).
Paus Leo mengklarifikasi pidatonya tentang biaya perang yang dianggap menyindir Donald Trump. Simak penjelasannya saat melakukan kunjungan ke Afrika.
PRESIDEN Donald Trump menyatakan bahwa proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berlangsung dan menunjukkan kemajuan positif.
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved