UNICEF: Akses Sanitasi Layak Kunci Hapus Stigma Menstruasi pada Remaja Putri

Basuki Eka Purnama
25/4/2026 21:29
UNICEF: Akses Sanitasi Layak Kunci Hapus Stigma Menstruasi pada Remaja Putri
Ilustrasi(Freepik)

AKSES terhadap sanitasi yang layak bukan sekadar masalah infrastruktur, melainkan kunci utama bagi perempuan dan remaja putri untuk melewati masa menstruasi dengan aman dan nyaman. Hal ini ditegaskan oleh Water Sanitation and Hygiene (WASH) Specialist UNICEF Indonesia, Muhammad Zainal, dalam sebuah diskusi di Jakarta, baru-baru ini.

Zainal menyoroti bahwa hingga saat ini, menstruasi masih sering dianggap sebagai hal yang tabu di tengah masyarakat. Stigma ini berdampak langsung pada aktivitas remaja putri, di mana tidak sedikit dari mereka yang terpaksa membatasi kegiatan di sekolah saat sedang datang bulan.

"Kita mendorong agar anak, termasuk perempuan, dapat melewati menstruasinya tanpa stigma, tanpa diskriminasi, dan tetap bisa aktif mengikuti proses belajar di sekolah serta beraktivitas seperti biasa," ujar Zainal.

Hak Dasar Perempuan dalam Kesehatan Reproduksi

Menurut Zainal, ada sejumlah hak dasar yang harus dipenuhi untuk menjamin martabat perempuan selama masa menstruasi. Hak-hak tersebut mencakup akses fisik hingga edukasi yang komprehensif. Berikut adalah poin-poin utama yang menjadi perhatian UNICEF:

Kategori Hak Deskripsi Kebutuhan
Sanitasi Akses terhadap fasilitas air bersih dan toilet yang layak, aman, serta privat.
Produk Kebersihan Ketersediaan pembalut dengan harga terjangkau dan sesuai preferensi individu.
Edukasi Informasi yang tepat mengenai kesehatan reproduksi dan manajemen kebersihan menstruasi (MKM).

Tantangan Komunikasi di Lingkungan Keluarga

Zainal mengungkapkan data yang cukup memprihatinkan mengenai pola komunikasi antara orang tua dan anak terkait kesehatan reproduksi. Minimnya pembahasan mengenai menstruasi di tingkat keluarga membuat remaja putri seringkali merasa bingung saat menghadapi siklus pertamanya.

Data Kunci: Sebanyak 65% ibu diketahui tidak pernah membicarakan masalah menstruasi kepada anak-anak mereka.

Kondisi ini diperparah dengan belum meratanya edukasi kesehatan reproduksi di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, Zainal mendorong adanya kolaborasi lintas pihak, mulai dari keluarga, pemerintah, hingga sektor swasta, untuk memasifkan kampanye edukasi ini.

Peran Pemerintah dan Program WASH UNICEF

Pemerintah dan pihak sekolah memegang peran sentral sebagai pembuat kebijakan dan pengelola anggaran. Pembangunan fasilitas sanitasi yang memadai di sekolah-sekolah harus menjadi prioritas agar siswi tidak merasa terhambat dalam belajar.

Sebagai langkah nyata, UNICEF melalui program Water, Sanitation and Hygiene (WASH) telah bergerak ke berbagai sekolah di Indonesia. Program ini bertujuan untuk:

  • Memberikan edukasi bahwa menstruasi adalah proses pertumbuhan biologis yang wajar.
  • Memastikan akses air bersih dan sanitasi di daerah-daerah terkelola dengan aman.
  • Meningkatkan praktik kebersihan di lingkungan pendidikan dan masyarakat luas.

Zainal berharap, melalui inovasi dan kolaborasi yang berkelanjutan, kenyamanan perempuan dalam mengelola kesehatan reproduksinya dapat dimulai dari lingkup terkecil, yaitu rumah, hingga ke ruang publik dan institusi pendidikan. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya