Remaja Putri belum Menstruasi? Dokter Ungkap Batas Usia dan Tanda Bahayanya

 Gana Buana
22/4/2026 18:23
Remaja Putri belum Menstruasi? Dokter Ungkap Batas Usia dan Tanda Bahayanya
Remaja putri belum menstruasi hingga usia 14 atau 16 tahun.(Dok. Freepik)

KETERLAMBATAN menstruasi pada remaja putri bukan sekadar fase biasa yang bisa diabaikan. Dokter spesialis kebidanan dan kandungan, Dinda Derdameisya (Sp.OG), menegaskan ada batas usia dan tanda-tanda tertentu yang wajib diwaspadai oleh orang tua.

Menurut Dinda, remaja perempuan yang belum mengalami menstruasi hingga usia tertentu perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis. Ia menekankan bahwa usia 14 tahun menjadi batas penting, terutama jika belum terlihat tanda-tanda pubertas.

“Jika sampai usia 14 tahun belum muncul tanda seks sekunder seperti pertumbuhan payudara atau rambut halus, sebaiknya segera konsultasi,” ujar Dinda dilansir dari Antara, Rabu (22/4).

Tak hanya itu, kondisi berbeda juga perlu diwaspadai. Remaja yang sudah menunjukkan perubahan fisik, namun belum mengalami menstruasi hingga usia 16 tahun, juga disarankan untuk segera memeriksakan diri.

Dokter lulusan Universitas Indonesia tersebut menjelaskan bahwa secara umum, menstruasi pertama biasanya terjadi pada rentang usia 10 hingga 11 tahun, dengan batas maksimal normal di usia 16 tahun.

Selain usia, faktor pertumbuhan tubuh juga menjadi indikator penting. Tinggi badan dan perkembangan fisik harus sesuai dengan kurva pertumbuhan anak.

Menstruasi sendiri merupakan proses alami yang menandakan kematangan hormon reproduksi. Saat hormon mencapai tingkat tertentu, tubuh akan mempersiapkan kehamilan dengan menebalkan dinding rahim. Jika tidak terjadi pembuahan, lapisan tersebut akan luruh sebagai darah menstruasi.

Namun pada anak di bawah usia 11 tahun, hormon reproduksi masih berada pada tahap awal sehingga belum cukup matang untuk memicu menstruasi.

Dinda juga menyoroti pentingnya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak. Minimnya edukasi sering membuat remaja kebingungan menghadapi perubahan tubuhnya sendiri.

“Jangan sampai anak tidak paham karena orang tuanya juga tidak memberikan penjelasan yang cukup,” katanya.

Ia menegaskan bahwa keluarga memiliki peran utama sebagai sumber edukasi pertama agar remaja mendapatkan informasi yang benar dan dapat menjaga kesehatannya sejak dini. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya