Waspada PMDD, Gangguan Suasana Hati Ekstrem Saat Menstruasi

Basuki Eka Purnama
27/4/2026 09:25
Waspada PMDD, Gangguan Suasana Hati Ekstrem Saat Menstruasi
Ilustrasi(Freepik)

PERUBAHAN suasana hati atau mood swings menjelang menstruasi sering kali dianggap sebagai hal yang lumrah bagi kaum perempuan. Namun, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan jika kondisi tersebut sudah mengarah pada gejala depresi berat hingga munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri.

Psikiater dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, menjelaskan bahwa kondisi ekstrem ini dikenal dalam dunia medis sebagai Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). Menurutnya, PMDD merupakan gangguan suasana hati yang jauh lebih berat dan serius dibandingkan sindrom pramenstruasi (PMS) biasa.

“Kalau suasana hati jauh lebih depresif dibandingkan biasanya, bahkan sampai muncul ide menyakiti diri atau pesimisme yang ekstrem, itu bukan lagi kondisi normal dan perlu bantuan profesional,” ujar Elvine saat ditemui dalam sebuah acara bincang-bincang, dikutip Senin (27/4).

Penyebab dan Karakteristik PMDD

Secara klinis, Elvine menyebutkan bahwa fluktuasi hormon estrogen yang terjadi secara ekstrem dapat memengaruhi kadar serotonin di otak. Ketidakseimbangan inilah yang memicu gangguan suasana hati yang lebih berat pada sebagian perempuan.

Berbeda dengan kelelahan biasa, PMDD memiliki pola yang spesifik. Berikut adalah perbandingan antara kondisi normal dan gejala yang perlu diwaspadai berdasarkan penjelasan dr. Elvine Gunawan:

Aspek PMS Biasa (Normal) PMDD (Waspada)
Intensitas Emosi Mudah tersinggung atau sedih ringan. Depresi berat, pesimisme ekstrem.
Keamanan Diri Tidak ada keinginan menyakiti diri. Muncul ide atau dorongan menyakiti diri.
Dampak Fungsi Masih bisa beraktivitas harian. Mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan.
Sifat Gejala Muncul sesekali. Berulang dan cenderung memburuk jika tidak ditangani.

Pentingnya Deteksi Dini melalui Jurnal Emosi

Elvine mendorong para perempuan untuk lebih peka terhadap pola emosi mereka sendiri. Salah satu langkah praktis yang disarankan adalah dengan melakukan journaling atau mencatat siklus menstruasi yang dibarengi dengan catatan perubahan suasana hati setiap bulan.

“Dengan mencatat, kita bisa tahu apakah respons emosi di masa tertentu lebih berat dibandingkan periode lain. Dari situ bisa dinilai apakah masih dalam batas wajar atau sudah mengarah ke gangguan,” tambahnya.

Ia juga menegaskan bahwa mencari bantuan ke psikolog atau psikiater bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, PMDD adalah kondisi medis nyata yang memerlukan penanganan profesional. Semakin cepat seseorang mencari bantuan, semakin besar peluang untuk mengendalikan gejala dan mencegah kondisi yang lebih buruk di masa depan. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya