Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERUBAHAN suasana hati atau mood swings menjelang menstruasi sering kali dianggap sebagai hal yang lumrah bagi kaum perempuan. Namun, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan jika kondisi tersebut sudah mengarah pada gejala depresi berat hingga munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri.
Psikiater dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, menjelaskan bahwa kondisi ekstrem ini dikenal dalam dunia medis sebagai Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). Menurutnya, PMDD merupakan gangguan suasana hati yang jauh lebih berat dan serius dibandingkan sindrom pramenstruasi (PMS) biasa.
“Kalau suasana hati jauh lebih depresif dibandingkan biasanya, bahkan sampai muncul ide menyakiti diri atau pesimisme yang ekstrem, itu bukan lagi kondisi normal dan perlu bantuan profesional,” ujar Elvine saat ditemui dalam sebuah acara bincang-bincang, dikutip Senin (27/4).
Secara klinis, Elvine menyebutkan bahwa fluktuasi hormon estrogen yang terjadi secara ekstrem dapat memengaruhi kadar serotonin di otak. Ketidakseimbangan inilah yang memicu gangguan suasana hati yang lebih berat pada sebagian perempuan.
Berbeda dengan kelelahan biasa, PMDD memiliki pola yang spesifik. Berikut adalah perbandingan antara kondisi normal dan gejala yang perlu diwaspadai berdasarkan penjelasan dr. Elvine Gunawan:
| Aspek | PMS Biasa (Normal) | PMDD (Waspada) |
|---|---|---|
| Intensitas Emosi | Mudah tersinggung atau sedih ringan. | Depresi berat, pesimisme ekstrem. |
| Keamanan Diri | Tidak ada keinginan menyakiti diri. | Muncul ide atau dorongan menyakiti diri. |
| Dampak Fungsi | Masih bisa beraktivitas harian. | Mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan. |
| Sifat Gejala | Muncul sesekali. | Berulang dan cenderung memburuk jika tidak ditangani. |
Elvine mendorong para perempuan untuk lebih peka terhadap pola emosi mereka sendiri. Salah satu langkah praktis yang disarankan adalah dengan melakukan journaling atau mencatat siklus menstruasi yang dibarengi dengan catatan perubahan suasana hati setiap bulan.
“Dengan mencatat, kita bisa tahu apakah respons emosi di masa tertentu lebih berat dibandingkan periode lain. Dari situ bisa dinilai apakah masih dalam batas wajar atau sudah mengarah ke gangguan,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa mencari bantuan ke psikolog atau psikiater bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, PMDD adalah kondisi medis nyata yang memerlukan penanganan profesional. Semakin cepat seseorang mencari bantuan, semakin besar peluang untuk mengendalikan gejala dan mencegah kondisi yang lebih buruk di masa depan. (Ant/Z-1)
Waspadai PMDD jika depresi saat menstruasi memicu keinginan menyakiti diri. Psikiater dr. Elvine Gunawan ingatkan bahaya fluktuasi hormon ekstrem.
Psikolog Ratih Ibrahim memperingatkan risiko PTSD pada korban kecelakaan kereta api. Simak gejala, faktor risiko, dan pentingnya penanganan dini di sini.
Penelitian terbaru mengungkap konsep 'affective tactile memory'. Ternyata, tubuh kita merekam sentuhan bermakna sebagai sensasi fisik yang membentuk rasa aman seumur hidup.
Psikolog Ratih Ibrahim menjelaskan pentingnya resiliensi dan dukungan keluarga bagi korban kecelakaan kereta api untuk pulih dari trauma psikologis.
Ia juga mengingatkan bahwa menghindari sepenuhnya stimulus yang berkaitan dengan trauma dalam jangka panjang dapat menghambat proses pemulihan.
Ia menjelaskan, gejala yang muncul bisa beragam, seperti perasaan cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian.
Masalah emosi dan perilaku pada anak usia dini kerap kali dipersepsikan sebagai fase perkembangan yang wajar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved