Sering Depresi saat Haid? Psikiater Peringatkan Bahaya PMDD dan Gangguan Serotonin

 Gana Buana
21/4/2026 21:23
Sering Depresi saat Haid? Psikiater Peringatkan Bahaya PMDD dan Gangguan Serotonin
Waspadai PMDD jika depresi saat menstruasi memicu keinginan menyakiti diri.(Freepik)

PERUBAHAN suasana hati menjelang atau saat menstruasi sering kali dianggap sebagai hal lumrah. Namun, batasan antara sindrom pramenstruasi (PMS) biasa dengan gangguan medis serius kini menjadi sorotan tajam para ahli kesehatan mental.

Psikiater Elvine Gunawan (Sp.KJ), menegaskan bahwa perempuan harus mulai waspada jika depresi yang dirasakan saat siklus bulanan sudah mencapai tahap ekstrem. Kondisi ini dikenal secara medis sebagai Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD).

“Kalau suasana hati jauh lebih depresif dibandingkan biasanya, bahkan sampai muncul ide menyakiti diri atau pesimisme yang ekstrem, itu bukan lagi kondisi normal dan perlu bantuan profesional,” ujar dr. Elvine dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Pemicu Biologis: Hormon dan Serotonin

Bukan sekadar masalah emosional, Elvine menjelaskan adanya mekanisme biologis yang kompleks di balik PMDD. Fluktuasi hormon estrogen yang terjadi secara ekstrem pada sebagian perempuan dapat mengganggu keseimbangan serotonin di otak.

Serotonin merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab menjaga stabilitas suasana hati. Ketika kadar ini terganggu secara drastis, dampaknya bukan lagi sekadar "bad mood", melainkan gangguan suasana hati berat yang bersifat berulang setiap bulan.

“Dengan mencatat (jurnal menstruasi), kita bisa tahu apakah respons emosi di masa tertentu lebih berat dibandingkan periode lain. Dari situ bisa dinilai apakah masih dalam batas wajar atau sudah mengarah ke gangguan,” ungkap Elvine Gunawan.

Deteksi Dini Melalui Jurnal Emosi

Untuk membedakan PMS biasa dengan PMDD, Elvine menyarankan perempuan untuk lebih peka terhadap pola emosi mereka sendiri. Salah satu langkah konkret yang bisa diambil adalah dengan melakukan journaling atau mencatat siklus menstruasi sekaligus perubahan suasana hati harian.

Langkah ini penting karena gejala PMDD yang tidak ditangani cenderung memburuk seiring berjalannya waktu. Jika kondisi emosional sudah mulai mengganggu fungsi sehari-hari, seperti pekerjaan atau hubungan sosial, maka bantuan dari psikolog atau psikiater menjadi mutlak diperlukan.

Ia juga menekankan pentingnya menghapus stigma terhadap kesehatan mental perempuan. Menurutnya, gangguan suasana hati terkait menstruasi bukanlah bentuk kelemahan karakter, melainkan kondisi medis nyata yang dapat dikendalikan melalui penanganan profesional yang tepat.

Kategori Gejala yang Perlu Diwaspadai
Emosional Depresi berat, pesimisme ekstrem, keputusasaan.
Fisik/Mental Ide menyakiti diri sendiri (self-harm).
Durasi Muncul secara berulang pada fase menjelang menstruasi.

(Ant/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya