Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGAI wujud nyata komitmen perguruan tinggi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya pada aspek kesehatan mental anak, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta (LPPM UNJ) mendukung pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang diinisiasi oleh tim dosen Fakultas Psikologi (FPsi) UNJ dan juga melibatkan peran mahasiswa. Kegiatan bertajuk “Deteksi Dini Masalah Emosi dan Perilaku Anak Usia Dini” ini diselenggarakan di TK Negeri 02 Pulau Panggang.
Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman orang tua dan pendidik mengenai pentingnya mengenali sejak dini berbagai permasalahan emosi dan perilaku anak sebagai langkah preventif sekaligus dasar penanganan yang tepat. Kegiatan ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3: Good Health and Well-Being, yang menekankan pentingnya menjamin kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua kelompok usia, termasuk kesehatan mental anak sejak masa perkembangan awal.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Sekolah, Yayat Hidayat, yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara institusi pendidikan dan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam memperkuat kapasitas guru dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak, baik dari aspek akademik, emosional, maupun sosial.
Selanjutnya, Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Kahfi Hizbullah, dalam sambutannya menekankan bahwa masalah emosi dan perilaku pada anak usia dini kerap kali dipersepsikan sebagai fase perkembangan yang wajar. Padahal, dalam sejumlah kasus, kondisi tersebut memerlukan perhatian khusus dan intervensi yang tepat. Oleh karena itu, peningkatan literasi psikologis bagi guru dan orang tua menjadi sangat penting agar gejala yang muncul dapat dikenali lebih awal dan ditangani secara tepat. Kegiatan ini juga didukung oleh anggota tim, Nanda Putri Adhiningtyas dan Dewinta Ariani, yang berperan aktif dalam mendukung kelancaran pelaksanaan program di lapangan.
Dalam sesi utama, kegiatan menghadirkan dua narasumber yang memiliki kompetensi di bidang psikologi perkembangan anak. Irma Rosalinda menyampaikan materi mengenai tahapan perkembangan emosi dan perilaku anak usia dini. Ia menekankan bahwa setiap fase usia memiliki karakteristik perkembangan yang berbeda, sehingga penting bagi orang tua untuk mampu membedakan antara perilaku yang masih sesuai dengan tahap perkembangan dan perilaku yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Pemahaman ini diharapkan dapat mendorong respons orang dewasa yang lebih adaptif, suportif, dan konstruktif terhadap perilaku anak.
Sementara itu, Iriani Indri Hapsari memaparkan pentingnya deteksi dini terhadap masalah emosi dan perilaku anak. Dalam penjelasannya, ia menguraikan sejumlah indikator yang perlu diwaspadai, seperti ledakan emosi yang berlebihan, kesulitan dalam mengikuti aturan, kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial, perilaku agresif, hingga gangguan konsentrasi yang berlangsung secara menetap. Ia menegaskan bahwa deteksi dini memungkinkan dilakukannya intervensi secara lebih efektif sebelum permasalahan berkembang menjadi lebih kompleks.
Melalui kegiatan ini, FPsi UNJ berharap dapat meningkatkan kepekaan guru dan orang tua terhadap kondisi psikologis anak sejak dini. Dengan dukungan lingkungan yang responsif dan memahami kebutuhan emosional serta perilaku anak, diharapkan proses tumbuh kembang anak dapat berlangsung secara optimal, sehat, dan positif. Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk konkret kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan masyarakat melalui pendekatan edukatif berbasis keilmuan.(H-2)
Akademi Pediatri Amerika (AAP) merilis laporan klinis terbaru mengenai krisis kesehatan mental anak yang mencapai tahap mengkhawatirkan.
Survei terbaru Girl Scouts mengungkap 60% remaja putri merasa tertekan menghadapi masa dewasa.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong kesehatan mental menjadi bagian inti kurikulum nasional menyusul meningkatnya kasus depresi dan kecemasan pada anak dan remaja di Indonesia.
Kenali ciri-ciri anak korban child grooming menurut pakar IDAI. Mulai dari perubahan perilaku hingga kepemilikan barang mewah yang mencurigakan.
Pemerintah Austria resmi mengumumkan rencana pelarangan media sosial untuk anak usia di bawah 14 tahun demi melindungi kesehatan mental dari algoritma adiktif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved