Kesehatan Mental Anak Didorong Masuk Kurikulum Nasional

Irvan Sihombing
11/4/2026 13:10
Kesehatan Mental Anak Didorong Masuk Kurikulum Nasional
Ilustrasi(Antara)

WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong agar kesehatan mental dijadikan bagian inti dalam kurikulum pendidikan nasional, menyusul meningkatnya kasus depresi dan kecemasan pada anak dan remaja yang dinilai sudah memasuki kondisi darurat.

Menurut Lestari, situasi kesehatan mental anak dan remaja saat ini membutuhkan penanganan yang terintegrasi dan melibatkan berbagai pihak. Ia menegaskan langkah tersebut penting demi melindungi masa depan generasi penerus bangsa.

"Penanganan yang terintegrasi untuk mengatasi masalah kesehatan mental anak dan remaja sangat krusial, demi menyelamatkan masa depan generasi penerus bangsa," ujar Lestari dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (11/4).

Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada awal 2026 menunjukkan sekitar 5% anak dan remaja di Indonesia mengalami gejala gangguan jiwa, terutama depresi dan kecemasan. Temuan ini diperkuat hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Maret 2026 yang mencatat satu dari sepuluh anak menghadapi indikasi masalah kesehatan jiwa.

Dari sekitar 7 juta anak yang menjalani skrining, sebanyak 363.326 anak atau 4,8% menunjukkan gejala depresi, sementara 338.316 anak atau 4,4% mengalami gejala kecemasan. Namun, hanya 2,6% dari mereka yang mendapatkan penanganan profesional.

Perempuan yang akrab disapa Rerie itu menilai sejumlah kasus kekerasan yang melibatkan anak dan remaja dalam beberapa bulan terakhir bukanlah kejadian yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari gejala yang lebih luas.

"Itu adalah gejala. Gejala dari sistem yang gagal membekali mereka dengan kemampuan paling dasar sebagai manusia, yaitu memahami diri sendiri," tegasnya.

Ia juga mengkritisi sistem pendidikan nasional yang dinilai terlalu menitikberatkan pada capaian akademik seperti nilai dan peringkat, namun mengabaikan aspek kesehatan mental dan kematangan emosi.

"Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka sekolah tanpa disadari akan menjadi ruang yang justru memproduksi tekanan, bukan membangun ketahanan. Kesehatan mental harus menjadi bagian inti dalam kurikulum nasional," ujarnya.

Lestari menambahkan, anak-anak saat ini tumbuh di tengah tekanan yang semakin kompleks, tetapi belum dibekali kemampuan yang memadai untuk memahami dan mengelola tekanan tersebut.

Tanpa intervensi serius, ia mengingatkan bahwa Indonesia berisiko kehilangan satu generasi akibat rapuhnya kondisi kesehatan mental.

"Untuk menjadi bangsa yang kuat, kita membutuhkan generasi penerus yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental," ujarnya.

Ia menekankan perlunya komitmen kuat dari para pemangku kepentingan untuk menghadirkan mekanisme yang mampu mencetak generasi yang sehat secara mental, berkarakter kuat, dan memiliki daya saing di masa depan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya