Pameran Tatah di Museum Nasional Soroti Seni Ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Dunia

Ficky Ramadhan
29/4/2026 17:36
Pameran Tatah di Museum Nasional Soroti Seni Ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Dunia
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat(MI)

UPAYA menciptakan maestro seni ukir kelas dunia menjadi salah satu fokus penting dalam penguatan budaya nasional. Hal ini mengemuka dalam Forum Diskusi Denpasar 12, yang bertepatan dengan pembukaan Pameran Tatah: Seni Ukir Jepara yang digelar di Museum Nasional pada 29 April hingga 25 Juli 2026.

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat menegaskan bahwa seni ukir bukan sekadar karya artistik, melainkan bagian dari identitas budaya bangsa yang memiliki nilai historis, filosofis, sekaligus ekonomi.

"Ketika kita berbicara seni ukir, ini tidak bisa dilepaskan dari kekayaan dan identitas budaya, khususnya seni ukir Jepara. Namun secara umum, seni ukir tradisional Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke dengan kekhasan masing-masing," kata Lestari dalam Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (29/4).

Ia menjelaskan bahwa ragam seni ukir di Indonesia mencerminkan kearifan lokal yang beragam, mulai dari motif khas Jepara, ukiran Bali, seni ukir Asmat, hingga ukiran Dayak di Kalimantan yang kaya pola geometris. Keberagaman ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam melahirkan maestro ukir berkelas dunia.

Menurutnya, perkembangan seni ukir di Indonesia tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang, dari teknik sederhana hingga keterampilan kompleks yang melibatkan pemahatan detail dan pemahaman ruang. Selain itu, pengaruh akulturasi budaya juga turut memperkaya bentuk dan gaya ukiran yang ada saat ini.

Lestari juga menyoroti pentingnya pengakuan internasional terhadap seni ukir Jepara sebagai warisan budaya dunia. Salah satu syarat utama yang harus dipenuhi adalah adanya sistem transmisi pengetahuan yang terdokumentasi dengan baik dari para maestro kepada generasi penerus.

"Salah satu tantangan kita adalah memastikan jejak sejarah dan proses pewarisan ini terekam dengan baik. Pameran Tatah hari ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa proses itu masih berjalan," ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan perlunya keseimbangan antara nilai seni dan nilai ekonomi dalam pengembangan seni ukir. Menurutnya, seni ukir tidak boleh terjebak semata pada komersialisasi, tetapi juga harus tetap menjaga nilai budaya dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

"Seni ukir Jepara adalah representasi identitas budaya bangsa, warisan nilai dan pengetahuan leluhur. Ia harus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan jati dirinya," tegasnya.

Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang terbuka untuk memperkuat komitmen bersama dalam pembangunan budaya, sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak maestro seni ukir Indonesia yang mampu bersaing di tingkat global.

Dengan penguatan dokumentasi, regenerasi, serta inovasi berbasis tradisi, seni ukir Indonesia diyakini tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menjadi kekuatan budaya yang mendunia. (Fik/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya