Bukan Sekadar Fisik, Dokter Anak Kini Harus Prioritaskan Kesehatan Mental

Thalatie K Yani
29/4/2026 11:30
Bukan Sekadar Fisik, Dokter Anak Kini Harus Prioritaskan Kesehatan Mental
Ilustrasi(freepik)

MENYAMBUT Bulan Kesadaran Kesehatan Mental pada Mei ini, Akademi Pediatri Amerika (AAP) merilis laporan klinis mendalam mengenai tantangan perkembangan mental dan emosional yang dihadapi anak-anak saat ini. Laporan tersebut mendesak para dokter anak untuk tidak lagi memisahkan kesehatan fisik dari kesehatan emosional sejak dini.

"Perkembangan mental dan emosional bukanlah sesuatu yang hanya ditangani saat muncul kekhawatiran atau terjadi krisis," ujar dr. Evelyn Berger-Jenkins, MD, MPH, FAAP, penulis utama laporan tersebut. "Ini adalah bagian inti dari perawatan anak sejak bayi hingga remaja."

Krisis yang Mencapai Titik Didih

Laporan AAP menyoroti peningkatan tajam tantangan mental yang dialami anak-anak, terutama pasca pandemi covid-19. Meskipun pandemi telah berakhir, krisis kesehatan mental justru mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Data menunjukkan krisis ini sebenarnya telah berkembang selama beberapa dekade.

Beberapa faktor pemicu utama yang diidentifikasi meliputi pengaruh media sosial, tekanan akademik, gaya hidup yang terlalu sibuk, hingga paparan informasi yang tidak sesuai usia. Dr. Sahar Rahim, seorang dokter anak di Tufts Medical Center, menegaskan, "Pandemi telah berakhir, tetapi krisis kesehatan mental belum."

Hambatan Akses Layanan Kesehatan

Salah satu poin krusial dalam laporan ini adalah sulitnya akses bagi keluarga untuk mendapatkan bantuan. Masalah utamanya meliputi:

  • Kurangnya Tenaga Ahli: Terdapat kelangkaan profesional yang terlatih khusus untuk menangani anak dan keluarga.
  • Kendala Biaya: Banyak asuransi yang tidak menanggung layanan kesehatan mental secara memadai.
  • Waktu Tunggu: Keluarga seringkali harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan layanan terapi bicara, perilaku, atau konseling.

Dr. Marie E. Briody dari Staten Island University Hospital menjelaskan model perawatan baru yang diusulkan AAP bertujuan mengintegrasikan komponen fisik, emosional, dan sosial guna mengatasi hambatan budaya dan stigma yang ada.

Rekomendasi Baru untuk Dokter Anak

AAP memberikan daftar rekomendasi agar dokter anak mengambil pendekatan proaktif, di antaranya:

  • Melakukan skrining dan diagnosis kesehatan emosional secara rutin.
  • Menerapkan pendekatan berbasis kekuatan (strength-based) daripada hanya fokus pada "apa yang salah."
  • Bekerja sama secara kolaboratif dengan sekolah dan komunitas.
  • Menangani isu ketimpangan, rasisme, dan trauma dalam praktik kesehatan.

Dr. Rahim menambahkan penting bagi dokter untuk memberikan afirmasi kepada orangtua. "Mengasuh anak adalah salah satu pekerjaan tersulit di dunia. Sedikit penguatan dari profesional tepercaya dapat meningkatkan kepercayaan diri orangtua di rumah," ungkapnya.

Pesan untuk Orangtua

Melalui laporan ini, para ahli menekankan kesehatan emosional setara pentingnya dengan pertumbuhan fisik. Orangtua diimbau untuk memercayai insting mereka dan tidak menunggu hingga kondisi menjadi parah sebelum mencari bantuan.

Jika terdapat perubahan perilaku, gangguan tidur, atau kesulitan sosial yang menetap pada anak, segera konsultasikan dengan tenaga profesional. Pencegahan sejak dini adalah kunci agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal secara menyeluruh. (Parents/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya