Mengapa Mayoritas Remaja Putri Merasa Cemas Jadi Dewasa?

Thalatie K Yani
21/4/2026 11:45
Mengapa Mayoritas Remaja Putri Merasa Cemas Jadi Dewasa?
Ilustrasi(Unsplash)

MASA kanak-kanak menuju remaja bagi perempuan sering kali ditandai dengan transformasi drastis dan kecemasan yang meluap. Di fase ini, mereka merasa penampilan, ambisi, sikap, hingga keamanan diri terus-menerus berada di bawah pengawasan dan penilaian orang lain. Ditambah lagi, ada tekanan besar untuk mulai memikirkan pilihan sulit: mengejar karier, berkeluarga, atau keduanya.

Maka, bukan hal yang mengejutkan jika data terbaru dari Girl Scouts of the USA menunjukkan adanya peningkatan angka kecemasan yang signifikan di kalangan anak perempuan terkait masa depan mereka. Berdasarkan survei tersebut, 54% anak perempuan usia 5-13 tahun merasa ide menjadi dewasa adalah hal yang menakutkan atau melelahkan. Angka ini meningkat menjadi 60% pada kelompok usia 11-13 tahun.

Dampak Dunia "Hyper-Digital"

Salah satu faktor pendorong utama kecemasan ini adalah pengaruh media sosial dan apa yang disebut survei sebagai dunia "hyper-digital". Perubahan dunia yang drastis pasca-pandemi covid-19 juga turut memperberat beban mental yang mereka rasakan saat mencoba menavigasi identitas diri.

Organisasi Girl Scouts menegaskan salah satu cara untuk meredakan kecemasan ini adalah dengan memberikan mentor dan dukungan sejak usia dini. Peran orang dewasa yang suportif menjadi kunci bagi perkembangan karakter mereka.

"Anak-anak perempuan tumbuh dewasa di dunia yang berubah lebih cepat dari sebelumnya, dan mereka memikul beban perubahan itu sambil tetap berusaha menjadi anak-anak," ujar Bonnie Barczykowski, CEO Girl Scouts, dalam pernyataan persnya.

"Itulah mengapa sangat penting bagi anak perempuan untuk memiliki orang dewasa yang suportif dalam hidup mereka, seperti sukarelawan Girl Scout, yang dapat membantu mereka menavigasi dunia di sekitar mereka, membangun kepercayaan diri, dan mengembangkan keterampilan yang tetap melekat pada mereka seiring pertumbuhan mereka," tambahnya.

Membangun Resiliensi dan Kepercayaan Diri

Untuk membantu anak perempuan, orang dewasa disarankan memprioritaskan pembangunan kepercayaan diri dan resiliensi (ketangguhan). Mengajarkan keterampilan hidup nyata seperti literasi keuangan, serta memberikan teladan tentang cara menyeimbangkan ambisi dengan perawatan diri (self-care), sangatlah penting. Melalui nilai-nilai ini, anak perempuan belajar bahwa mereka tidak perlu mengorbankan harga diri atau prinsip mereka untuk menjadi sukses dan bahagia.

Di tengah tekanan standar kecantikan yang tidak realistis di platform seperti Instagram, survei ini membawa kabar baik: 85% anak perempuan yang disurvei menyatakan bahwa "mereka mengagumi orang lain karena apa yang bisa mereka lakukan dibandingkan dengan bagaimana penampilan mereka."

Meski menghadapi penilaian dan tekanan yang berat, sebagian besar anak perempuan tetap melihat pencapaian dan mimpi besar mereka sebagai sesuatu yang layak diperjuangkan. Hal ini memberikan secercah harapan bagi para orang tua bahwa dengan dukungan yang tepat, generasi muda ini akan mampu melewati tantangan tersebut dengan baik. (Parents/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya