Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MASA kanak-kanak menuju remaja bagi perempuan sering kali ditandai dengan transformasi drastis dan kecemasan yang meluap. Di fase ini, mereka merasa penampilan, ambisi, sikap, hingga keamanan diri terus-menerus berada di bawah pengawasan dan penilaian orang lain. Ditambah lagi, ada tekanan besar untuk mulai memikirkan pilihan sulit: mengejar karier, berkeluarga, atau keduanya.
Maka, bukan hal yang mengejutkan jika data terbaru dari Girl Scouts of the USA menunjukkan adanya peningkatan angka kecemasan yang signifikan di kalangan anak perempuan terkait masa depan mereka. Berdasarkan survei tersebut, 54% anak perempuan usia 5-13 tahun merasa ide menjadi dewasa adalah hal yang menakutkan atau melelahkan. Angka ini meningkat menjadi 60% pada kelompok usia 11-13 tahun.
Salah satu faktor pendorong utama kecemasan ini adalah pengaruh media sosial dan apa yang disebut survei sebagai dunia "hyper-digital". Perubahan dunia yang drastis pasca-pandemi covid-19 juga turut memperberat beban mental yang mereka rasakan saat mencoba menavigasi identitas diri.
Organisasi Girl Scouts menegaskan salah satu cara untuk meredakan kecemasan ini adalah dengan memberikan mentor dan dukungan sejak usia dini. Peran orang dewasa yang suportif menjadi kunci bagi perkembangan karakter mereka.
"Anak-anak perempuan tumbuh dewasa di dunia yang berubah lebih cepat dari sebelumnya, dan mereka memikul beban perubahan itu sambil tetap berusaha menjadi anak-anak," ujar Bonnie Barczykowski, CEO Girl Scouts, dalam pernyataan persnya.
"Itulah mengapa sangat penting bagi anak perempuan untuk memiliki orang dewasa yang suportif dalam hidup mereka, seperti sukarelawan Girl Scout, yang dapat membantu mereka menavigasi dunia di sekitar mereka, membangun kepercayaan diri, dan mengembangkan keterampilan yang tetap melekat pada mereka seiring pertumbuhan mereka," tambahnya.
Untuk membantu anak perempuan, orang dewasa disarankan memprioritaskan pembangunan kepercayaan diri dan resiliensi (ketangguhan). Mengajarkan keterampilan hidup nyata seperti literasi keuangan, serta memberikan teladan tentang cara menyeimbangkan ambisi dengan perawatan diri (self-care), sangatlah penting. Melalui nilai-nilai ini, anak perempuan belajar bahwa mereka tidak perlu mengorbankan harga diri atau prinsip mereka untuk menjadi sukses dan bahagia.
Di tengah tekanan standar kecantikan yang tidak realistis di platform seperti Instagram, survei ini membawa kabar baik: 85% anak perempuan yang disurvei menyatakan bahwa "mereka mengagumi orang lain karena apa yang bisa mereka lakukan dibandingkan dengan bagaimana penampilan mereka."
Meski menghadapi penilaian dan tekanan yang berat, sebagian besar anak perempuan tetap melihat pencapaian dan mimpi besar mereka sebagai sesuatu yang layak diperjuangkan. Hal ini memberikan secercah harapan bagi para orang tua bahwa dengan dukungan yang tepat, generasi muda ini akan mampu melewati tantangan tersebut dengan baik. (Parents/Z-2)
Akademi Pediatri Amerika (AAP) merilis laporan klinis terbaru mengenai krisis kesehatan mental anak yang mencapai tahap mengkhawatirkan.
Masalah emosi dan perilaku pada anak usia dini kerap kali dipersepsikan sebagai fase perkembangan yang wajar.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong kesehatan mental menjadi bagian inti kurikulum nasional menyusul meningkatnya kasus depresi dan kecemasan pada anak dan remaja di Indonesia.
Kenali ciri-ciri anak korban child grooming menurut pakar IDAI. Mulai dari perubahan perilaku hingga kepemilikan barang mewah yang mencurigakan.
Pemerintah Austria resmi mengumumkan rencana pelarangan media sosial untuk anak usia di bawah 14 tahun demi melindungi kesehatan mental dari algoritma adiktif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved