Lebih dari Sekadar Sensasi, Mengapa Tubuh Kita Tak Pernah Melupakan Sentuhan Kasih Sayang

Thalatie K Yani
29/4/2026 13:00
Lebih dari Sekadar Sensasi, Mengapa Tubuh Kita Tak Pernah Melupakan Sentuhan Kasih Sayang
Ilustrasi(freepik)

ADA hal unik tentang ingatan manusia. Seseorang mungkin kesulitan mendeskripsikan sosok neneknya dengan kata-kata, namun begitu mengingat caranya mengelus pipi, ekspresi wajah orang tersebut akan langsung berubah. Ingatan itu hadir bukan sebagai informasi, melainkan sebagai sensasi, seolah-olah kulit itu sendiri yang sedang mengingat.

Selama ini, sains cenderung menganggap sentuhan hanya sebagai alat navigasi fisik, seperti membedakan sutra dari amplas. Namun, sebuah makalah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Neuroscience & Biobehavioral Reviews membalikkan perspektif tersebut. Para peneliti berargumen bahwa fungsi terpenting dari sentuhan bukanlah memberi tahu kita tentang dunia luar, melainkan membentuk dunia batin dan kesehatan emosional kita seumur hidup.

Konsep Affective Tactile Memory

Studi ini memperkenalkan konsep yang disebut affective tactile memory (memori taktil afektif). Konsep ini menjelaskan mengapa sentuhan yang bermakna menetap lebih lama di dalam diri kita dibandingkan sensasi biasa.

Hal ini dimungkinkan karena kulit manusia memiliki serat saraf khusus yang dirancang hanya untuk merespons sentuhan lembut dan hangat, seperti belaian orang tua atau genggaman tangan pasangan. Saraf ini terhubung langsung ke pusat emosi di otak, berbeda dengan saraf yang mendeteksi tindakan fisik sehari-hari.

Tubuh Sebagai Penyimpan Ingatan

Penelitian ini menunjukkan saat kita mengingat sentuhan bermakna, otak tidak hanya memutar ulang rekaman video di kepala. Sebaliknya, tubuh ikut berpartisipasi dalam menghidupkan kembali kenangan tersebut.

“Mungkin saja ketika kita mengingat sentuhan yang bermakna, otak mengaktifkan kembali jejak bagaimana pengalaman itu dirasakan di dalam tubuh,” ujar Dr. Laura Crucianelli dari Queen Mary University of London.

Berbeda dengan ingatan visual yang seperti foto, memori sentuhan adalah "pemutaran ulang fisik" yang samar namun nyata, terdistribusi melalui sistem saraf yang sama yang menangani sensasi aslinya.

Membangun Rasa Aman dan Kepercayaan

Efek dari memori sentuhan ini sangat krusial bagi perkembangan manusia. Jauh sebelum seorang anak bisa memahami kata "cinta", sistem saraf mereka sudah memahaminya melalui sentuhan.

“Sentuhan yang menenangkan tidak hilang begitu saja; ia bisa menjadi bagian dari diri kita,” kata Dr. Crucianelli. “Melalui interaksi antara sinyal sensorik dan jaringan otak emosional, pengalaman sentuhan membentuk seberapa aman perasaan kita dan bagaimana kita menavigasi hubungan sepanjang hidup.”

Relevansi di Era Digital

Di era di mana komunikasi lebih banyak terjadi melalui layar, penelitian ini memberikan peringatan halus. Meski panggilan video dan pesan teks terasa hangat, keduanya tidak bisa menggantikan peran fisik sentuhan dalam membangun keterikatan emosional yang mendalam.

Tanpa sentuhan, ada bagian kecil namun vital dari hubungan manusia yang tetap tidak terpenuhi. Penemuan ini diharapkan dapat membantu para klinis dalam menangani gangguan kecemasan dan masalah keterikatan (attachment) yang berakar dari bagaimana seseorang memproses memori emosional melalui tubuh mereka. (Earth/Z-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya