Waspada PTSD Pascakecelakaan Kereta Api, Psikolog: Segera Tangani Jika Gejala Lebih dari Sebulan

Basuki Eka Purnama
29/4/2026 20:41
Waspada PTSD Pascakecelakaan Kereta Api, Psikolog: Segera Tangani Jika Gejala Lebih dari Sebulan
Ilustrasi--Petugas gabungan mengevakuasi gerbong KRL dan lokomotif Argo Bromo pascatabrakan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026).(MI/Usman Iskandar)

KECELAKAAN transportasi, khususnya kereta api, tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga ancaman serius terhadap kesehatan mental para penyintasnya. Psikolog klinis Ratih Ibrahim, M.M., memperingatkan bahwa trauma psikologis akibat kecelakaan kereta api memiliki risiko besar berkembang menjadi Gangguan Stres Pascatrauma atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Menurut Ratih, risiko ini jauh lebih tinggi bagi korban yang mengalami langsung peristiwa tersebut, terutama mereka yang menderita luka serius atau berada dalam situasi yang mengancam nyawa. Pengalaman traumatis ini meninggalkan dampak emosional yang sangat mendalam.

“Trauma kecelakaan berpotensi sangat besar untuk berkembang menjadi PTSD, terutama jika korban mengalami langsung kejadian, terluka, dan berada dalam situasi yang dekat dengan maut,” ujar Ratih saat dihubungi di Jakarta.

Guncangan Psikologis dan Gejala Kilas Balik

Kecelakaan kereta api sering kali terjadi secara tiba-tiba dan mengejutkan, memicu guncangan psikologis yang intens. Salah satu ciri utama dari kondisi ini adalah munculnya pengalaman kilas balik atau flashback.

Psikolog yang juga tergabung dalam Tim Ahli Kelompok Kerja Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI ini menjelaskan bahwa korban cenderung mengingat kembali peristiwa tragis tersebut secara berulang. Sensasi yang dirasakan seolah-olah kejadian itu sedang terulang kembali di depan mata.

“Pengalaman melihat kematian atau kehilangan secara tragis di depan mata memberikan tekanan emosional yang sangat kuat. Hal ini dapat berlangsung dalam jangka waktu lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari,” tambahnya.

Identifikasi Risiko & Gejala PTSD

Kategori Detail Penjelasan
Pemicu Utama Luka serius, situasi dekat maut, melihat kematian/kehilangan tragis.
Gejala Khas Kilas balik (flashback), ingatan berulang, guncangan emosional intens.
Durasi Kritis Gejala yang berlangsung lebih dari satu bulan wajib diwaspadai sebagai PTSD.
Faktor Penghambat Kondisi sosial, ekonomi, dan tekanan budaya di lingkungan korban.

Pentingnya Penanganan Cepat

Ratih menegaskan bahwa trauma tidak memandang jenis kelamin atau peran gender. Siapa pun yang berada dalam peristiwa traumatis memiliki risiko psikologis yang sama. Namun, ia memberikan catatan penting mengenai durasi gejala.

Jika gejala trauma tidak kunjung mereda setelah satu bulan, kondisi tersebut memerlukan penanganan profesional lebih lanjut agar tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih kronis. Selain faktor internal, lingkungan sosial juga memegang peranan penting dalam proses penyembuhan.

“Konteks sosial dan tekanan yang dihadapi individu bisa memperparah kondisi, sehingga pemulihan menjadi lebih lama,” jelasnya. Hal ini merujuk pada dampak psikologis yang masih dirasakan para penyintas kecelakaan kereta api di wilayah Bekasi Timur beberapa waktu lalu.

Sebagai penutup, Ratih menekankan bahwa penanganan trauma secara tepat dan sedini mungkin adalah kunci utama agar para penyintas dapat kembali menjalani kehidupan normal tanpa bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya