Dampak Pola Asuh Kritikal pada Kesehatan Mental Perempuan Menurut Psikiater Description

Basuki Eka Purnama
27/4/2026 18:46
Dampak Pola Asuh Kritikal pada Kesehatan Mental Perempuan Menurut Psikiater  Description
Ilustrasi(Freepik)

POLA asuh di masa kecil memegang peranan krusial dalam membentuk karakter dan keberanian seseorang dalam berkomunikasi saat dewasa. Psikiater dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, mengungkapkan bahwa perempuan yang tumbuh dalam lingkungan dengan pola asuh kritikal cenderung mengalami kesulitan untuk terbuka saat menghadapi persoalan hidup.

Menurut Elvine, lingkungan yang sering menyalahkan atau menyudutkan anak akan membekas hingga mereka dewasa.

"Kalau sejak kecil terbiasa dikritik atau disalahkan, ketika dewasa mereka lebih mudah menarik diri dan memilih diam saat ada masalah," ujar Elvine dalam sebuah acara bincang-bincang memperingati Hari Kartini di Jakarta, dikutip Senin (27/4).

Akar Masalah: Rasa Tidak Aman dan Self-Stigma

Kondisi ini, lanjut Elvine, berakar pada rasa tidak aman (insecurity) dan pola keterikatan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak. Ketika respons emosional seorang anak perempuan tidak diterima atau dianggap berlebihan oleh lingkungannya, mereka mulai menginternalisasi stigma tersebut.

Dampaknya tidak hanya datang dari luar, tetapi berkembang menjadi self-stigma. Ini adalah kondisi di mana perempuan mulai menyalahkan diri sendiri atas emosi atau kondisi biologis yang mereka alami.

"Perempuan bisa merasa kenapa saya begini, kenapa saya terlalu emosional. Padahal proses biologis seperti menstruasi adalah hal normal," tambahnya.

Pengaruh Budaya Patriarki

Selain faktor keluarga, Elvine menyoroti budaya patriarki yang masih kuat sebagai penghambat keberanian perempuan untuk bersuara. Hal ini terlihat jelas dalam kasus-kasus sensitif seperti kekerasan seksual, di mana korban sering kali memilih bungkam karena takut dihakimi atau justru disalahkan oleh masyarakat.

Berikut adalah ringkasan faktor-faktor yang memengaruhi keterbukaan emosional perempuan berdasarkan penjelasan dr. Elvine Gunawan:

Faktor Penyebab Dampak pada Perempuan
Pola Asuh Kritikal Cenderung menarik diri dan memilih diam saat ada masalah.
Internalisasi Stigma Munculnya self-stigma atau menyalahkan diri sendiri.
Budaya Patriarki Ketakutan untuk bersuara karena risiko penghakiman sosial.
Kurangnya Ruang Aman Memendam masalah yang berdampak pada kesehatan mental jangka panjang.

Edukasi Dimulai dari Rumah

Sebagai solusi, Elvine menekankan pentingnya memulai edukasi dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. Orang tua diharapkan mampu menciptakan ruang diskusi yang jujur dan tanpa stigma mengenai berbagai isu, mulai dari kesehatan mental, batasan diri (boundaries), hingga hal biologis seperti menstruasi.

Edukasi ini harus diberikan secara adil kepada anak perempuan maupun laki-laki. "Ketika anak merasa didengar dan tidak dihakimi, mereka akan lebih berani menyampaikan apa yang dirasakan," tegasnya.

Membangun lingkungan yang aman dan suportif di rumah adalah langkah preventif yang paling efektif untuk mencegah perempuan terus memendam masalah, yang jika dibiarkan, dapat merusak kesehatan mental mereka dalam jangka panjang. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya