Karhutla hanya Bisa Dicegah dengan Antisipasi Kolektif Maksimal sejak Dini

Despian Nurhidayat
23/4/2026 17:59
Karhutla hanya Bisa Dicegah dengan Antisipasi Kolektif Maksimal sejak Dini
ilustrasi(Antara)

Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) mendorong penguatan langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul adanya potensi fenomena El Nino pada pertengahan tahun 2026. Fenomena ini diprediksi akan menurunkan curah hujan secara drastis dan meningkatkan risiko kekeringan ekstrem di berbagai wilayah Indonesia.

Peringatan tersebut mengemuka dalam diskusi daring APHI yang menghadirkan Tenaga Ahli APHI bidang geospasial, hidrometeorologi, dan mitigasi perubahan iklim, Asep Karsidi, pada Rabu (22/4). Ketua Umum APHI, Soewarso, menegaskan bahwa seluruh anggota asosiasi wajib meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah pencegahan maksimal.

“Kita harus antisipasi penuh, full effort secara maksimal dengan berbagai upaya pencegahan yang bisa dilakukan. Risiko karhutla tidak boleh dianggap remeh dan membutuhkan upaya kolektif yang serius,” ujar Soewarso dalam keterangan resminya.

Soewarso menyoroti bahwa karhutla sering kali merupakan dampak dari interaksi berbagai faktor, termasuk tantangan sosial dan budaya di lapangan. Menurutnya, pendekatan pencegahan tidak boleh dilakukan secara parsial.

“Karhutla ini adalah akibat, bukan sebab. Ini terjadi karena berbagai faktor, termasuk faktor sosial budaya masyarakat yang pengaruhnya cukup besar terhadap kebakaran hutan dan lahan,” tambahnya.

Ia menekankan pentingnya penguatan koordinasi di tingkat tapak, patroli rutin, penyediaan sarana prasarana, serta edukasi konsisten kepada masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Transisi El Nino di Sumatera dan Kalimantan

Tenaga Ahli APHI, Asep Karsidi, menjelaskan bahwa dinamika iklim tahun 2026 menunjukkan transisi menuju El Nino yang signifikan, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Periode April hingga awal Mei 2026 dinilai sebagai fase krusial untuk melakukan intervensi sebelum memasuki musim kemarau penuh.

Strategi Antisipasi Karhutla 2026:

  • Pergeseran Paradigma: Beralih dari tindakan reaktif menjadi antisipatif berbasis prediksi iklim.
  • Teknologi OMC: Pemanfaatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menjaga kelembaban lingkungan.
  • Manajemen Air: Penguatan sistem pemantauan dan pengelolaan sumber daya air di kawasan rawan.
  • Kolaborasi: Penguatan peran Masyarakat Peduli Api (MPA) melalui insentif dan peningkatan kapasitas.

Asep menilai karhutla sebagai fenomena sistemik yang melibatkan faktor atmosfer, hidrologi, dan aktivitas manusia. Oleh karena itu, penggunaan teknologi seperti OMC harus dilakukan pada waktu yang tepat sebagai instrumen strategis.

Sebagai penutup, APHI menegaskan komitmennya untuk terus berkolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah. Fokus utama saat ini adalah sosialisasi dini agar masyarakat menahan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, mengingat potensi musim kemarau yang diprediksi akan berlangsung lebih panjang pada tahun ini.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya