Jumlah Titik Panas Naik Drastis, KLH Tingkatkan Kewaspadaan Karhutla Riau

Atalya Puspa    
26/4/2026 10:49
Jumlah Titik Panas Naik Drastis, KLH Tingkatkan Kewaspadaan Karhutla Riau
Upaya pemadaman Karhutla Riau.(Dok. Antara)

JUMLAH titik panas di Provinsi Riau melonjak drastis. Hingga 23 April 2026, tercatat 840 titik panas dengan 318 titik pada tingkat kepercayaan tinggi, meningkat enam kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu. Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau saat ini telah melejit 20 kali lipat menjadi 8.555,37 hektare dibanding 2025.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan tidak ada ruang untuk menunggu dalam penanganan karhutla. "Pengendalian karhutla harus mengedepankan deteksi dini dan respons cepat. Jangan menunggu api membesar. Begitu terdeteksi hotspot, harus langsung ditangani di lapangan. Kecepatan dan ketepatan menjadi kunci utama," tegas Hanif, Minggu (26/4).

Ia menegaskan bahwa ancaman semakin berat karena BMKG memprediksi Indonesia tengah menuju fase El Nino lemah hingga moderat yang berpotensi membuat musim kemarau lebih panjang dan lebih kering, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Kondisi ini memperparah kerentanan ekosistem gambut yang mudah terbakar saat kekeringan.

Hanif meminta seluruh unsur dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, hingga dunia usaha untuk memperkuat patroli terpadu dan memastikan kesiapan personel serta peralatan menghadapi potensi meluasnya karhutla Riau.

Perusahaan perkebunan dan kehutanan juga diingatkan memastikan sarana prasarana pengendalian karhutla siap pakai, menjaga tata kelola air di lahan gambut, dan mengoptimalkan teknologi pemantauan hotspot.

Pemerintah menegaskan tidak ada toleransi terhadap praktik pembakaran lahan. Penegakan hukum akan dilakukan secara tegas termasuk evaluasi hingga pencabutan izin bagi pihak yang terbukti melanggar.

General Manager PHR Zona Rokan Andre Wijanarko menegaskan karhutla bukan hanya ancaman lingkungan, melainkan risiko operasional nyata bagi industri energi nasional.

"Penurunan visibilitas, gangguan kesehatan pekerja, serta ancaman terhadap keselamatan masyarakat sekitar adalah risiko yang wajib kami mitigasi secara komprehensif sejak fase awal. Kesiagaan personel fire brigade dan formasi armada alat berat kami di lapangan hari ini merepresentasikan ketegasan PHR dalam melindungi aset negara sekaligus mengamankan ruang hidup masyarakat," ujar Andre. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya