Kemenhut Lakukan Modifikasi Cuaca di Riau untuk Cegah Karhutla

Atalya Puspa    
16/4/2026 12:14
Kemenhut Lakukan Modifikasi Cuaca di Riau untuk Cegah Karhutla
Personel Manggala Agni Daops Sumatera IV Pekanbaru berusaha memadamkan karhutla Riau.(Dok. Antara)

KEMENTERIAN Kehutanan (Kemenhut) menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) di Provinsi Riau sebagai langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian mengkhawatirkan. Riau sendiri telah berstatus siaga darurat karhutla sejak 2 Februari 2026 dan diperpanjang hingga 30 November 2026.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut Thomas Nifinluri mengatakan operasi yang berlangsung 14–22 April 2026 ini menargetkan 14 sortie penerbangan untuk meningkatkan kelembaban lahan, mengisi embung, dan memupuk cadangan air di wilayah gambut guna mencegah karhutla Riau.

"Hingga 15 April, telah dilaksanakan penyemaian bahan semai sebanyak 2 sortie dengan total 1.600 kg NaCl dengan area semai di sekitar Kabupaten Siak, Kabupaten Bengkalis, Kepulauan Meranti, dan Kota Dumai," ujar Thomas, Kamis (16/4).

Operasi ini melibatkan kerja sama antara Kemenhut, BMKG, dan TNI AU dengan mengerahkan tiga armada pesawat yang beroperasi secara paralel. Selain dukungan Kemenhut, sebelumnya BNPB telah lebih dahulu menjalankan operasi serupa di Riau sebanyak tiga tahap sejak status siaga darurat ditetapkan.

Riau menjadi salah satu provinsi prioritas karena memasuki musim kemarau lebih awal sejak Februari 2026. Berdasarkan data Kemenhut, luas karhutla secara nasional pada Januari hingga Maret 2026 telah mencapai 55.324,2 hektare. Kalimantan Barat mencatat angka tertinggi dengan 25.420,73 hektare, disusul Riau dengan 8.555,37 hektare, dan Kepulauan Riau sebesar 4.167,78 hektare.

Thomas menegaskan operasi modifikasi cuaca telah menjadi bagian dari strategi pencegahan karhutla sejak 2015, berjalan beriringan dengan patroli lapangan, kampanye publik, dan pemberdayaan Masyarakat Peduli Api.

"Upaya penanggulangan dilaksanakan melalui patroli dan operasi udara, serta operasi pemadaman darat yang dilakukan antara lain oleh Manggala Agni Kemenhut bersama dengan para pihak lainnya di lapangan," pungkas Thomas.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo menjelaskan waktu paling ideal pelaksanaan operasi ini adalah menjelang musim kemarau, sehingga kelembaban tanah terjaga dan kubah gambut terisi sebelum kekeringan puncak tiba.

"Saat ini terdapat tiga armada pesawat untuk pelaksanaan OMC dukungan BNPB dan Kemenhut yang akan berjalan secara paralel dengan pembagian wilayah area semai," kata Budi.

Ia berharap setelah operasi Kemenhut selesai, mitra swasta dapat meneruskan penyemaian untuk menjaga kelembaban dan tingkat muka air tanah tetap di atas ambang batas aman. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya