Antisipasi El Nino, Kemenhut dan BMKG Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca

Atalya Puspa    
23/4/2026 07:15
Antisipasi El Nino, Kemenhut dan BMKG Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca
Sejumlah pengendara motor melintasi jalan yang diselimuti kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (5/3/2026).(Antara/Jessica Wuysang)

KEMENTERIAN Kehutanan (Kemenhut) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi memperkuat sinergi untuk menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah antisipatif ini dilakukan menyusul ancaman fenomena El Nino yang diperkirakan muncul pada semester II 2026.

Penguatan kerja sama strategis itu ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Kantor BMKG, Kamis (23/4). Prosesi ini turut disaksikan oleh Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki beserta jajaran pejabat tinggi dari kedua institusi.

Optimalisasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)

Salah satu poin krusial dalam kerja sama ini yaitu optimalisasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Saat ini, OMC diimplementasikan di wilayah rawan seperti Riau dan Kalimantan Barat sebagai bagian dari langkah deteksi dini dan pencegahan karhutla secara permanen.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa OMC merupakan titik balik dalam strategi Indonesia menekan angka karhutla. Fokus utama saat ini adalah menjaga kondisi hidrologis lahan gambut agar tetap basah.

"Mencegah jauh lebih baik daripada memadamkan. Kami terus memantau tinggi muka air tanah, khususnya di lahan gambut. Jika sudah di bawah 40 cm, OMC segera dilakukan untuk pembasahan kembali guna menjaga cadangan air," ujar Raja Juli Antoni.

Ia menambahkan bahwa akurasi data dari BMKG sangat berperan penting dalam tren penurunan luas kebakaran hutan sejak peristiwa besar tahun 2015. Namun, tantangan 2026 diprediksi lebih berat akibat El Nino, sehingga intervensi teknologi menjadi harga mati.

Integrasi Data dan Pemasangan Sensor Iklim

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menekankan bahwa kolaborasi ini mengedepankan upaya preventif ketimbang responsif. BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini akan datang lebih awal dengan durasi yang lebih panjang.

"Kami mendukung pengendalian karhutla dan kekeringan melalui integrasi data untuk memprediksi wilayah rawan. Kesiapsiagaan harus diperkuat sejak dini," jelas Teuku Faisal.

Sebagai bagian dari penguatan infrastruktur data, BMKG berkoordinasi dengan Kemenhut untuk memasang alat operasional utama (aloptama) serta sensor meteorologi langsung di dalam kawasan hutan. Hal ini bertujuan meningkatkan akurasi informasi iklim secara real-time di titik-titik yang sulit dijangkau.

Pemerintah menyatakan optimisme bahwa melalui koordinasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, serta partisipasi aktif masyarakat, risiko karhutla pada tahun 2026 dapat ditekan semaksimal mungkin demi menjaga ekosistem dan kesehatan masyarakat dari dampak kabut asap. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya