Kolaborasi Kampus-Industri Didorong untuk Mitigasi Karhutla

Despian Nurhidayat
18/4/2026 16:10
Kolaborasi Kampus-Industri Didorong untuk Mitigasi Karhutla
APHI menggelar pertemuan dengan Fakultas Pertanian Universitas Jambi.(APHI)

Sinergi antara dunia usaha dan perguruan tinggi dinilai kian penting dalam menjawab tantangan pengelolaan hutan berkelanjutan di Indonesia. Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) mendorong peran aktif perguruan tinggi dalam mempercepat implementasi multiusaha kehutanan serta pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), melalui kolaborasi strategis dengan Universitas Jambi.

Ketua Umum APHI, Soewarso, menegaskan keterlibatan akademisi penting untuk memperkuat dasar ilmiah dalam pengelolaan hutan yang adaptif terhadap tantangan ekologis dan ekonomi.

“Kami mendorong keterlibatan aktif perguruan tinggi dalam pengembangan multiusaha kehutanan berbasis lanskap, baik melalui riset, inovasi teknologi, maupun penyusunan model bisnis yang berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pendekatan multiusaha kehutanan (MUK) berbasis lanskap memungkinkan optimalisasi fungsi hutan secara terpadu, termasuk produksi, konservasi, dan pemberdayaan ekonomi.

Selain itu, APHI juga menyoroti pentingnya strategi jangka benah dalam penataan kawasan hutan, termasuk penanganan keberadaan kelapa sawit di dalam kawasan hutan. Pendekatan ini dinilai mampu menyeimbangkan aspek legalitas, produktivitas, dan keberlanjutan lingkungan secara bertahap.

Dalam konteks karhutla, Soewarso menekankan pentingnya kolaborasi multipihak antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan akademisi, khususnya dalam penguatan mitigasi di kawasan rawan seperti lahan gambut.

“Pencegahan karhutla harus menjadi prioritas bersama dengan mengedepankan upaya dini, peningkatan kapasitas SDM, serta pemanfaatan teknologi untuk deteksi dan respons cepat,” katanya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jambi, Bambang Irawan, menilai integrasi MUK dengan strategi jangka benah menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan hutan.

Menurutnya, pendekatan berbasis lanskap juga relevan dalam menjawab tantangan keterbatasan lahan pangan, karena memungkinkan sinergi antara sektor kehutanan dan pertanian tanpa mengorbankan fungsi ekologis.

Di sisi akademik, Universitas Jambi terus memperkuat kapasitas pendidikan kehutanan, termasuk melalui pengembangan Program Studi Silvikultur dan kerja sama dengan industri seperti APP Group.

“Penguatan kurikulum berbasis praktik dan kebutuhan industri menjadi kunci dalam mencetak SDM kehutanan yang kompeten dan siap terjun ke lapangan,” ujar Bambang.

Ia menambahkan, peran kampus juga diperkuat melalui wadah kolaborasi seperti Sekretariat Bersama Pengelolaan Sumber Daya Hutan (PSDH), yang dinilai strategis dalam mendorong implementasi MUK sekaligus memperkuat upaya pengendalian karhutla secara terkoordinasi.

Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu mempercepat transformasi pengelolaan hutan menuju model yang lebih produktif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan lingkungan. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya