Menkes Berharap Label Nutri-level Ciptakan Tren FOMO Hidup Sehat

Putri Rosmalia Octaviyani
23/4/2026 14:19
Menkes Berharap Label Nutri-level Ciptakan Tren FOMO Hidup Sehat
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin.(Dok. Antara)

MENTERI Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menilai kebijakan pelabelan gizi atau Nutri-level memiliki potensi besar untuk menciptakan fenomena Fear Of Missing Out (FOMO) yang positif. Menurutnya, rasa khawatir tertinggal tren ini dapat menjadi motor penggerak bagi masyarakat Indonesia untuk mengadopsi gaya hidup yang lebih sehat.

Menkes berharap, dengan adanya label nutri-level yang jelas, masyarakat akan merasa "ikut-ikutan" untuk memilih produk yang lebih sehat karena dianggap sebagai gaya hidup yang lebih baik dan modern.

Sejak diterbitkannya Keputusan Menkes HK.01.07/MENKES/301/2026 mengenai pencantuman label gizi Nutri-level, respons positif mulai bermunculan dari berbagai sektor. Tidak hanya dari masyarakat umum, tetapi juga dari pelaku industri.

"Bukan hanya dari masyarakat saja, tapi ada pengelola mal juga yang sudah datang, yang ingin mengimplementasikan. Ada juga chain restoran yang sudah mau mengimplementasikan. Mereka ingin mendapatkan citra bahwa mereka menyediakan makanan dan minuman yang sehat," ujar Menkes Budi dalam sebuah sesi bincang-bincang di Jakarta, Rabu (22/4).

Edukasi Melalui Tren

Budi Gunadi menekankan bahwa perubahan perilaku menuju gaya hidup sehat tidak bisa dilakukan dengan paksaan. Kesadaran kolektif dari ratusan juta rakyat Indonesia adalah kunci utama agar mereka tetap produktif dan memiliki kualitas hidup yang baik di masa tua.

Ia memberikan perumpamaan menarik mengenai fenomena Car Free Day (CFD). Menurutnya, mengajak orang lari untuk sekadar menurunkan tekanan darah jauh lebih sulit dibandingkan mengajak mereka lari di CFD yang dianggap sebagai kegiatan yang "keren".

"Orang-orang berbondong-bondong ikut lari saat CFD karena ada unsur gaya hidup di sana," tambahnya.

Pada tahap awal ini, implementasi Nutri-level masih bersifat imbauan dan edukasi. Namun, merujuk pada keberhasilan di negara-negara seperti Prancis, Singapura, Belgia, dan Swiss, sistem pelabelan ini terbukti efektif dalam membantu masyarakat menentukan pilihan konsumsi yang lebih bijak

Urgensi Menekan Penyakit tidak Menular

Penerapan label gizi ini bukan tanpa alasan kuat. Menkes mengungkapkan data yang mengkhawatirkan terkait beban kesehatan nasional akibat Penyakit Tidak Menular (PTM). Stroke tercatat sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia dengan angka mencapai 300 ribu jiwa per tahun.

Posisi selanjutnya ditempati oleh penyakit jantung dengan 250 ribu kematian per tahun, diikuti oleh kanker dan penyakit ginjal yang berkisar di angka 50 ribu hingga 60 ribu jiwa per tahun.

Kondisi ini juga berdampak langsung pada beban keuangan negara melalui Mata Uang Rupiah yang dialokasikan untuk BPJS Kesehatan. "Biaya BPJS-nya besar. Untuk penyakit jantung saja, kalau tidak salah mencapai Rp17 triliun setahun," pungkas Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Melalui desain label yang sederhana dan mudah dipahami, pemerintah berharap industri pangan dapat terus berinovasi menyediakan pilihan produk yang lebih sehat bagi konsumen Indonesia. (Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya