Menkes Ungkap Kasus DBD Berpotensi Naik saat El Nino, Masyarakat Diminta Waspada

Atalya Puspa    
20/4/2026 15:29
Menkes Ungkap Kasus DBD Berpotensi Naik saat El Nino, Masyarakat Diminta Waspada
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin.(Dok. Antara)

PEMERINTAH menegaskan bahwa kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia memiliki pola musiman yang erat kaitannya dengan fenomena iklim seperti El Nino

Kondisi ini membuat DBD menjadi ancaman kesehatan yang berulang setiap tahun, terutama saat terjadi perubahan cuaca ekstrem.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, berbeda dengan campak yang penularannya dipengaruhi mobilitas manusia, DBD sangat bergantung pada faktor lingkungan dan iklim.

“Dengue itu benar-benar mengikuti pola El Nino. Begitu fenomena itu muncul, kasusnya langsung meningkat,” ujarnya dalam Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR RI, Senin (20/4).

Menurut dia, lonjakan kasus DBD tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga secara global, terutama di kawasan tropis dan subtropis. 

Pada periode El Nino sebelumnya, kasus dengue tercatat meningkat signifikan di berbagai negara, termasuk di Amerika Selatan.

DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang banyak berkembang di lingkungan perkotaan. Kondisi cuaca, seperti suhu dan curah hujan, sangat memengaruhi siklus hidup nyamuk tersebut. Saat kondisi mendukung, populasi nyamuk meningkat dan risiko penularan pun ikut naik.

Secara jumlah kasus, DBD memang masih berada di bawah penyakit menular lain seperti tuberkulosis, HIV, dan malaria. Namun dari sisi kematian, DBD justru mencatat angka fatalitas yang lebih tinggi dibandingkan malaria. 

Hal ini menunjukkan bahwa meski jumlah kasusnya tidak sebesar penyakit lain, dampaknya tetap signifikan.

Meski demikian, Kementerian Kesehatan menilai penanganan DBD di Indonesia relatif lebih terkendali pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. 

Penguatan sistem layanan kesehatan dan pengalaman tenaga medis dalam menangani kasus dengue dinilai berkontribusi dalam menekan angka kematian.

“Kalau dirawat dengan baik, dengue seharusnya tidak berkembang menjadi kondisi berat seperti dengue shock syndrome. Dokter-dokter kita sudah sangat berpengalaman menangani ini,” kata Budi.

Berbeda dengan penyakit lain yang dapat dicegah melalui vaksinasi massal, penanganan DBD masih lebih difokuskan pada pengendalian lingkungan dan vektor nyamuk. Upaya seperti pemberantasan sarang nyamuk, pengelolaan sanitasi, serta edukasi masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan penyebaran penyakit ini.

Pemerintah juga mengakui bahwa vaksin dengue sudah tersedia, namun belum menjadi prioritas dalam program imunisasi nasional. 

Hal ini karena kebijakan vaksinasi masih difokuskan pada penyakit dengan beban kasus dan kematian yang lebih tinggi, seperti tuberkulosis. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya