Kasus DBD di Garut Meningkat: 629 Positif dan 4 Meninggal Dunia

Kristiadi
28/4/2026 19:34
Kasus DBD di Garut Meningkat: 629 Positif dan 4 Meninggal Dunia
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Asep Surahman.(MI/Kristiadi)

DINAS Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Garut, Jawa Barat, menggencarkan aksi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di seluruh lingkungan masyarakat. Langkah ini diambil menyusul temuan 629 warga yang terkonfirmasi positif Demam Berdarah Dengue (DBD) sepanjang periode Januari hingga April 2026.

Lonjakan kasus ini juga telah menyebabkan empat orang meninggal dunia. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Garut, Asep Surahman, mengungkapkan bahwa intensitas hujan yang tinggi menjadi pemicu utama meningkatnya populasi nyamuk Aedes aegypti.

"Kasus DBD sejak Januari hingga April 2026 terus mengalami peningkatan karena musim hujan merata di berbagai daerah, termasuk Garut. Selain faktor cuaca, kurangnya perhatian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan sekitar juga menjadi penyebab," ujar Asep Surahman, Selasa (28/4).

Edukasi dan Fogging di Lokasi Endemik

Asep menjelaskan, pihaknya tengah berupaya menekan angka kasus melalui edukasi masif dan tindakan teknis di lapangan. Selain PSN, petugas kesehatan juga melakukan pengasapan (fogging) di sejumlah lokasi yang tergolong endemik serta melakukan pemeriksaan jentik secara berkala di rumah-rumah warga.

"Kami mengimbau masyarakat untuk rutin melakukan 3M Plus: menguras bak air, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas, serta menjaga Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Serangan nyamuk tidak memandang usia, sehingga kewaspadaan harus ditingkatkan," tegasnya.

Data Kasus DBD Garut (Januari - April 2026):
  • Total Kasus Positif: 629 Orang
  • Korban Meninggal Dunia: 4 Orang
  • Status: Peningkatan akibat faktor cuaca dan lingkungan

Kondisi di Kota Tasikmalaya

Kondisi serupa juga menjadi perhatian di wilayah tetangga. Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Asep Hendra, menyebutkan bahwa meski situasi masih terkendali, pihaknya mencatat ada 60 orang positif DBD di wilayahnya dalam periode yang sama.

Menurut Asep Hendra, abainya masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, seperti membuang sampah sembarangan, menjadi faktor risiko utama. Ia menekankan bahwa Dinkes tidak bisa bekerja sendiri dalam memutus rantai penyebaran DBD.

"Kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan harus digalakkan kembali agar jentik nyamuk tidak berkembang menjadi dewasa. Gerakan PSN dan 3M harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya petugas kesehatan," pungkasnya.

Hingga saat ini, Dinkes di kedua wilayah tersebut terus memantau perkembangan kasus dan memastikan fasilitas kesehatan siap menangani pasien yang menunjukkan gejala demam tinggi guna mencegah bertambahnya korban jiwa. (AD/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner