4 Kecamatan di Kabupaten Cirebon Tetapkan KLB Campak

Nurul Hidayah    
29/4/2026 23:30
4 Kecamatan di Kabupaten Cirebon Tetapkan KLB Campak
Tenaga kesehatan yang tergabung dalam Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menyiapkan vaksin difteri (Diphtheria) dan rotavirus (Rotavirus) untuk imunisasi bayi di TPMB Cut Khairiati, Banda Aceh, Aceh, Selasa (28/4/2026).(Antara)

DINAS Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon menetapkan empat kecamatan berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) campak

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon, Eni Suhaeni menjelaskan KLB campak ditetapkan di 4 kecamatan menyusul temuan puluhan kasus pada pekan ke-15 tahun 2026. Keempat wilayah tersebut masing-masing Kecamatan Mundu, Sumber, Greged, dan Ciwaringin.

“Secara umum Kabupaten Cirebon tidak berstatus KLB campak,” tutur Eni, Rabu (29/4). Namun terjadi lonjakan kasus campak di empat kecamatan tersebut hingga ditetapkan status KLB campak secara terbatas. 

Berdasarkan data Dinkes, total terdapat 119 kasus suspek campak di empat kecamatan tersebut. Dari jumlah itu, 23 kasus telah terkonfirmasi positif.

Ada pun rinciannya Kecamatan Mundu mencatat 29 kasus suspek dengan dua kasus positif, Kecamatan Sumber 24 suspek dengan lima positif, Kecamatan Greged 33 suspek dengan tujuh positif, serta Kecamatan Ciwaringin 33 suspek dengan sembilan kasus positif. "Sampai sekarang tidak dilaporkan adanya kematian akibat penyakit tersebut. Dinkes menilai kondisi masih dapat dikendalikan,” tutur Eni. 

Selanjutnya sebagai langkah penanggulangan, Dinkes telah melaksanakan program vaksinasi kejar atau catch-up campaign (CUC) yang menyasar anak usia 9 bulan hingga 59 bulan. Program ini mencatat capaian hingga 95 persen di tingkat kabupaten.  

“Kami juga bersiap melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) yang menyasar kelompok usia lebih luas, yakni anak 9 bulan hingga 13 tahun,” tutur Eni. 

Namun program ORI ini, lanjut Eni, ini tidak hanya difokuskan di wilayah yang sudah ditetapkan KLB, tetapi juga akan diperluas ke tujuh kecamatan lain sebagai langkah pencegahan. “Tingginya mobilitas penduduk antarwilayah berpotensi mempercepat penyebaran virus campak dari daerah yang telah terdampak ke wilayah lain,” jelas Eni. 

Pertimbangan lainnya, capaian imunisasi measles-rubella (MR) dalam lima tahun terakhir di Kabupaten Cirebon rata-rata masih berada di bawah 80%. Angka ini dinilai belum cukup untuk membentuk kekebalan kelompok secara optimal, sehingga risiko penularan tetap terbuka. 

Selanjutnya Dinkes Kabupaten Cirebon juga mengintensifkan pemantauan kasus campak ini melalui fasilitas pelayanan kesehatan, puskesmas dan rumah sakit, “Sehingga deteksi dini dan penanganan cepat terhadap pasien dengan gejala campak bisa dilakukan,” tutur Eni. 

Masyarakat diimbau segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala seperti demam, ruam kemerahan, batuk, dan mata merah. “Kami juga meminta  orang tua untuk memastikan status imunisasi anak telah lengkap sesuai jadwal untuk mencegah penyakit campak,” tutur Eni. (UL/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner