Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Polusi udara yang terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia, tak hanya menimbulkan ancaman kesehatan bagi masyarakat, namun juga berdampak pada pelestarian eksistensi hewan serangga seperti Lebah. Lebih jauh lagi, hal ini juga bisa menyebabkan krisis pangan.
Hasil studi terbaru dari Pusat Ekologi & Hidrologi Inggris (UKCEH) dan Universitas Birmingham, Reading, Surrey dan Southern Queensland menunjukkan, partikel polusi udara dapat menyebabkan penurunan jumlah serangga global secara signifikan.
Penurunan tersebut terjadi karena terjadi pelemahan terhadap kemampuan serangga untuk menemukan makanan dan pasangan ketika antena mereka terkontaminasi partikel dari aktivitas manusia terutama industri, transportasi, dan sumber polusi lain.
Jika sudah begitu, polusi udara secara langsung dapat menghalangi penyerbuk bunga untuk menghasilkan buah dan sayuran yang menjadi pangan utama bagi manusia seperti dilansir dari laman resmi Universitas Birmingham Inggris, pada Senin (11/9).
Tim peneliti lebih lanjut menemukan bahwa lapisan ozon secara substansial mengubah ukuran dan gumpalan aroma yang dikeluarkan oleh bunga. Bahkan, polusi udara juga bisa mengurangi kemampuan penting serangga untuk mendeteksi bau guna mencari makanan dan pasangan hingga 90% hanya dari jarak beberapa meter.
Ozon yang terbentuk di permukaan tanah biasanya berasal dari emisi nitrogen oksida kendaraan dan industri yang bereaksi dengan senyawa organik mudah menguap. Senyawa ini dipancarkan dari tumbuh-tumbuhan sebagai akibat paparan sinar matahari. Jika hal ini terus berlanjut, akan berdampak pula pada penurunan kuantitas jumlah lebah madu.
Krisis Pangan
Serangga seperti lebah dan kupu-kupu merupakan jenis hewan yang tidak memiliki indra penciuman seperti hidung, melainkan akan menggunakan antenanya untuk mendeteksi aroma. Antena itu membantu mereka menemukan makanan dan banyak lagi. Namun, polusi udara yang menguasai lingkungan membuat para serangga cenderung sulit mencium aroma bunga sehingga tak mampu menemukan bunga atau menyerbukinya.
Professor Christian Pfrang dari Universitas Birmingham menjadi salah satu yang menyimpulkan implikasi negatif tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa ozon kemungkinan besar berdampak negatif terhadap perkembangan bunga dan hasil panen pertanian.
Penelitian berskala internasional ini telah membuktikan bahwa ozon mempunyai dampak negatif terhadap produksi pangan karena merusak pertumbuhan tanaman. Padahal, sejatinya manusia bergantung pada serangga untuk menyerbuki tanaman yang menghasilkan banyak bahan makanan berupa buah, kacang-kacangan, dan sayuran yang kita makan.
“Studi kami memberikan bukti kuat bahwa perubahan akibat ozon di permukaan tanah pada aroma bunga, menyebabkan proses penyerbuk serangga kesulitan menjalankan peran penting mereka di lingkungan alam. Hal ini akan berdampak pada ketahanan pangan,” ujar Profesor Christian Perang.
Dr Ben Langford, seorang ilmuwan atmosfer di UKCEH yang memimpin penelitian tersebut menyatakan bahwa sekitar 75% tanaman pangan di dunia dan hampir 90% tanaman berbunga liar, proses pembuahannya bergantung pada penyerbukan hewan, terutama serangga.
“Oleh karena itu, pahami apa dampak buruknya jika populasi lebah berkurang dan terjadi penurunan terkait kemampuan lebah dalam menemukan bunga. Hal ini akan mempengaruhi proses penyerbukan. Kita harus terus membantu serangga karena sangat penting untuk membantu kita melestarikan berbagai jenis tanaman yang bisa menghasilkan bahan makanan, tekstil, biofuel, dan obat-obatan,” imbuhnya.
Penelitian yang didanai oleh Natural Environment Research Council, bagian dari UK Research and Innovation dan diterbitkan dalam jurnal Environmental Pollution itu, melibatkan proses eksperimen sains menggunakan terowongan angin sepanjang 30 m di Universitas Surrey untuk memantau bagaimana ukuran dan bentuk gumpalan bau berubah dengan adanya ozon.
Para ilmuwan juga menemukan aroma dari gumpalan tersebut berubah secara signifikan. Ini karena senyawa tertentu bereaksi jauh lebih cepat dibandingkan senyawa ain. Lebah madu dilatih mengenali campuran bau yang sama dan kemudian dipaparkan dengan bau baru yang dimodifikasi dengan ozon. Serangga penyerbuk menggunakan bau bunga untuk menemukan bunga.
Serangga juga belajar mengasosiasikan campuran unik dari senyawa kimia dengan jumlah nektar yang dihasilkannya. Ini memungkinkan mereka menemukan spesies bunga yang sama di masa depan.
Penelitian menunjukkan bahwa di tengah gumpalan-gumpalan aroma, 52% lebah madu mengenali bau pada jarak 6 meter. Lalu kemampuan itu menurun menjadi 38% pada jarak 12 meter Di bagian tepi gumpalan aroma, yang terdegradasi lebih cepat, 32% lebah madu mengenali bunga dari jarak 6 meter.
Sementara, hanya sepersepuluh serangga yang dapat mengenalinya dari jarak 12 meter. Studi ini menunjukkan bahwa ozon juga dapat mempengaruhi perilaku serangga lain yang mengendalikan bau seperti menarik pasangan.
Professor Christian Pfrang dalam penelitiannya memberi kesimpulan bahwa polusi udara berdampak buruk terhadap kesehatan manusia, ketahanan pangan, pelestarian keanekaragaman hayati, dan iklim.
“Hal ini seharusnya menjadi peringatan dan seruan penting bagi para pengambil kebijakan untuk mengatasi polusi udara, karena tindakan pencegahan ini dapat membantu kita untuk menjaga produksi pangan dan keanekaragaman hayati di masa depan.(M-3)
Di tengah kebutuhan memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, kolaborasi antara dunia pendidikan, pelaku usaha, dan pemerintah menjadi kunci untuk mendorong hilirisasi sawit.
PARTAI Keadilan Sejahtera (PKS) menyoroti penguatan ketahanan ekonomi, pangan, dan energi sebagai fondasi kemandirian nasional di peringatan puncak Milad ke-24.
Di tengah tantangan cuaca ekstrem dan meningkatnya salinitas lahan pesisir, budidaya padi biosalin terbukti menjadi solusi adaptif yang mampu menjaga produktivitas.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI melalui Program Lumbung Pangan di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) sukses panen raya, dengan potensi hasil mencapai 400 ton jagung.
Gerakan Percepatan Tanam Serentak di area persawahan Kelurahan Mulyorejo, Kota Malang, Jawa Timur.
PEMPROV Bengkulu, akan menargetkan potensi peningkatan produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 10 ribu ton per tahun dari total luasan lahan program cetak sawah pada 2026.
Pembentukan Satgas ini menjadi langkah strategis tindak lanjut Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026 untuk memperkuat tata kelola kawasan konservasi secara menyeluruh.
Ketua Pansus Pengelolaan Sampah DPRD DKI, Judistira Hermawan, menegaskan percepatan dilakukan agar solusi konkret segera diterapkan di lapangan.
PENGADILAN Negeri (PN) Medan menolak seluruh permohonan praperadilan yang diajukan oleh tersangka berinisial MN (53) terkait kasus pengangkutan kayu hasil hutan ilegal.
Tempat Penampungan Sementara (TPS) di kawasan CitraRaya, Tangerang, tengah dipersiapkan untuk bertransformasi menjadi fasilitas pengelolaan sampah berbasis metode controlled landfill.
PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) meraih Penghargaan Proper Hijau dalam ajang Anugerah Lingkungan Proper 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup
PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) kembali menegaskan komitmennya terhadap praktik bisnis berkelanjutan dengan meraih peringkat Proper Emas dan Hijau dalam Proper 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved