Petani di Jepara Hadapi Cuaca Ekstrem dengan Padi Biosalin 

Andhika Prasetyo
25/4/2026 21:09
Petani di Jepara Hadapi Cuaca Ekstrem dengan Padi Biosalin 
Kelompok tani di Jepara melakukan panen padi.(PGN)

Inovasi pertanian berbasis riset semakin menunjukkan perannya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Di tengah tantangan cuaca ekstrem dan meningkatnya salinitas lahan pesisir, budidaya padi biosalin terbukti menjadi solusi adaptif yang mampu menjaga produktivitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Hal ini terlihat dari keberhasilan program pengembangan budidaya padi biosalin di wilayah pesisir Kabupaten Jepara. Program tanggung jawab sosial perusahaan yang dijalankan oleh PGN, bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional dan Pemerintah Kabupaten Jepara, berhasil melampaui target panen pada musim tanam kali ini.

Dari target awal seluas 20 hektare, realisasi panen mencapai 22 hektare. Capaian tersebut menjadi indikator bahwa model pertanian biosalin mampu beradaptasi dengan baik di tengah tekanan iklim dan tantangan lingkungan khas wilayah pesisir.
Produktivitas panen pun tergolong tinggi. Rata-rata hasil panen mencapai 7 hingga 9 ton per hektare, sehingga total produksi diperkirakan mencapai sekitar 176 ton gabah. Dengan asumsi harga gabah sebesar Rp7.000 per kilogram, nilai ekonomi yang dihasilkan mencapai sekitar Rp1,23 miliar.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Arif Satria, menegaskan bahwa penerapan teknologi berbasis riset menjadi kunci dalam menjawab tantangan pertanian modern, khususnya di kawasan pesisir yang rentan terhadap intrusi air laut, banjir rob, dan perubahan iklim.

“Keunggulan varietas biosalin ini adalah mampu menghasilkan kurang lebih 9 ton per hektare dan memiliki masa tanam antara 84 hingga 107 hari. Yang tidak kalah penting, varietas biosalin ini tahan terhadap hama penyakit dan mampu bertahan di lahan marginal,” jelasnya.

Menurut Arif, pengembangan varietas biosalin tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi mitigasi risiko dan pemulihan sektor pertanian di wilayah rawan bencana.

“Kami mendorong agar model seperti ini dapat direplikasi di berbagai wilayah pesisir lainnya di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa. Dengan demikian, inovasi berbasis riset benar-benar menjadi pendorong dalam menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menilai keberhasilan ini sebagai momentum penting bagi penguatan ketahanan pangan daerah. Menurutnya, program ini telah membuktikan bahwa lahan pesisir yang sebelumnya kurang produktif dapat dioptimalkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

“Keberhasilan panen ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, sektor pertanian tetap bisa tumbuh dan memberikan nilai ekonomi, bahkan di tengah tekanan cuaca ekstrem,” kata Witiarso.

Ia juga mengapresiasi kolaborasi antara PGN dan BRIN yang dinilai telah menghadirkan inovasi sekaligus pendampingan nyata bagi petani setempat.

“Di tengah tantangan cuaca ekstrem dan kondisi lahan pesisir yang sebelumnya merupakan lahan tidur, program ini justru mampu mendongkrak hasil panen petani. Kolaborasi ini tidak hanya menjaga produktivitas pertanian, tetapi juga memberikan harapan baru bagi para petani,” tambahnya.

Sementara itu, Division Head Corporate Social Responsibility PGN, Krisdyan Widagdo Adhi, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan.

Menurutnya, melalui program CSR, PGN tidak hanya memberikan pendampingan teknis, tetapi juga memperkuat kapasitas petani melalui transfer pengetahuan agar mampu menerapkan praktik pertanian adaptif secara mandiri.

“Keberhasilan hari ini menjadi fondasi agar petani dapat terus berproduksi tanpa ketergantungan pada intervensi program di masa depan,” jelas Krisdyan.

Ia menambahkan, program padi biosalin sejalan dengan komitmen perusahaan dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), khususnya dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat di wilayah operasional.

“Kami berharap program ini dapat terus berkembang sebagai model pemberdayaan berbasis riset dan kolaborasi, sekaligus menjadi kontribusi nyata dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan pembangunan berkelanjutan,” pungkasnya. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya