Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ILMUWAN Tiongkok mulai memetakan waktu terbaik bagi manusia untuk beraktivitas di Bulan. Mereka tidak sedang mencari zona aman dalam arti tempat yang sepenuhnya terlindungi, tetapi menentukan kapan kondisi lingkungan paling memungkinkan untuk bekerja, bergerak, dan bertahan hidup.
Penelitian dari Purple Mountain Observatory dan University of Science and Technology of China menyoroti waktu di Bulan tidak bisa disamakan dengan waktu di Bumi. Mereka mengembangkan sistem waktu khusus berbasis perhitungan relativitas, karena waktu di Bulan berjalan lebih cepat sekitar 56 mikrodetik per hari dibandingkan di Bumi.
Ilmuwan menyebut bahwa sistem ini penting untuk menjaga sinkronisasi aktivitas, mulai dari pergerakan rover hingga jadwal kerja astronot.
Ilmuwan menjelaskan tidak ada zona aman permanen di Bulan, tetapi ada waktu-waktu tertentu yang lebih aman untuk beraktivitas. Mereka menegaskan kondisi lingkungan di Bulan berubah drastis tergantung posisi Matahari.
Satu hari di Bulan berlangsung sekitar 29,5 hari di Bumi. Kondisi ini membuat perbedaan suhu menjadi ekstrem. Siang hari bisa mencapai lebih dari 100 derajat Celsius, sementara malam hari bisa turun hingga minus 170 derajat Celsius.
Ilmuwan menegaskan penentuan waktu aktivitas menjadi krusial. Pasalnya paparan radiasi dan suhu ekstrem dapat langsung berdampak pada kesehatan manusia.
Ilmuwan menyatakan radiasi di Bulan jauh lebih tinggi dibandingkan di Bumi karena tidak adanya atmosfer pelindung. Mereka menekankan paparan radiasi dalam waktu yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko kerusakan sel hingga gangguan kesehatan serius.
Para ilmuan juga menjelaskan aktivitas di waktu yang salah bisa menyebabkan stres termal pada tubuh. Kondisi ini dapat memicu dehidrasi, gangguan fungsi organ, hingga risiko kematian jika tidak dikendalikan. Karena itu, ilmuwan menegaskan pengaturan waktu bukan sekadar soal efisiensi, tetapi soal keselamatan hidup manusia.
Ilmuwan menyimpulkan sistem waktu Bulan akan menjadi fondasi penting untuk misi jangka panjang, termasuk pembangunan basis manusia di sana. Mereka menyatakan bahwa tanpa standar waktu yang akurat, koordinasi antar misi dan perangkat akan berisiko kacau.
Mereka juga menegaskan penelitian ini bukan solusi instan untuk tinggal di Bulan. Tetapi langkah awal yang wajib dilakukan sebelum manusia benar-benar bisa hidup di luar Bumi.
Singkatnya, ilmuwan menegaskan bahwa bertahan di Bulan bukan soal menemukan tempat aman, tetapi soal memilih waktu yang tepat untuk hidup. (Live Science/Z-2)
Menurut Menbud RI, tahun lalu, Indonesia memproduksi sekitar 250 film dengan penonton lebih dari 80 juta. “Film kita punya potensi besar untuk go international “ ujarnya.
Ilmuwan Tiongkok identifikasi dua mineral langka, magnesiochangesite-(Y) dan changesite-(Ce), dari sampel Bulan misi Chang’e-5. Simak dampaknya bagi sains.
National Gallery Singapore menghadirkan pameran retrospektif pertama He Xiangning di Asia Tenggara, menampilkan 50 karya seni tinta legendaris.
Pakar ITB Yannes Martinus Pasaribu ungkap alasan mobil Tiongkok ungguli merek Jepang di pasar Indonesia, mulai dari fitur melimpah hingga insentif EV.
Pihak Imigrasi mengamankan 29 warga negara asing (WNA) asal Tiongkok dalam operasi gabungan di kawasan Marina City Waterfront, Batam.
Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan yang terletak di wilayah tengah dan barat daya Tiongkok, direncanakan menjadi lokasi Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI).
Ilmuwan Tiongkok temukan dua mineral baru di Bulan, Magnesiochangesite-(Y) dan Changesite-(Ce), dari sampel Chang'e-5. Total mineral Bulan kini jadi 8.
Terungkap alasan ilmiah mengapa manusia hanya melihat satu sisi Bulan. Simak fenomena tidal locking dan fakta misi Artemis II terbaru.
Kenapa bulan bisa terlihat berbeda di tiap negara? Ternyata bukan berubah bentuk. Ini penjelasan ilmiah soal orientasi bulan yang sering bikin bingung.
Menurut para astronom, perbedaan ini terjadi karena faktor perspektif. Posisi pengamat di Bumi terutama perbedaan garis lintang membuat orientasi Bulan terlihat berbeda
Tampilan bulan ternyata bisa berbeda di tiap negara. Faktor lintang dan perspektif pengamat membuat bulan tampak terbalik, berputar, atau beda fase.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved