Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAH Anda menyadari bahwa wajah Bulan yang kita lihat malam ini selalu sama dengan yang dilihat nenek moyang kita ribuan tahun lalu? Meski Bulan terus berputar pada porosnya, bagian yang sering disebut sebagai "sisi jauh" tetap menjadi misteri yang tersembunyi dari pandangan mata manusia di Bumi.
Rahasia di balik tampilan konsisten ini terletak pada sinkronisasi gerak yang presisi. NASA menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena periode orbit Bulan sama persis dengan waktu rotasinya pada porosnya sendiri. Sederhananya, Bulan berputar dengan kecepatan yang sama dengan perjalanannya mengelilingi Bumi.
Keselarasan ini bukan terjadi secara instan, melainkan hasil kerja keras gravitasi Bumi selama miliaran tahun. Pasca terbentuk dari tabrakan asteroid raksasa, Bulan awalnya berputar sangat cepat dengan durasi orbit hanya 10 jam.
Namun, gravitasi Bumi yang kuat menarik dan mengubah bentuk Bulan menjadi sedikit oval. Tarikan ini bekerja layaknya rem; memperlambat putaran Bulan hingga mencapai titik keseimbangan sempurna. Fenomena yang dikenal sebagai tidal locking (penguncian pasang surut) ini memastikan satu sisi Bulan selamanya terkunci menghadap Bumi.
Berkat fenomena "librasi" atau goyangan akibat orbit elips, manusia sebenarnya bisa melihat hingga 59% permukaan Bulan, bukan hanya separuh bagian saja.
Sisi jauh Bulan yang misterius pertama kali diabadikan oleh wahana Soviet, Luna 3, pada tahun 1959. Namun, sejarah baru saja tercipta pada 6 April 2026 lalu melalui misi Artemis II.
Para astronot dalam misi tersebut menjadi manusia pertama yang berhasil menyaksikan bagian-bagian tertentu dari permukaan sisi jauh Bulan dengan mata telanjang. Penemuan ini semakin mempertegas kemajuan teknologi manusia dalam memetakan wilayah yang selama ini dianggap sebagai "sisi gelap" yang tak terjangkau.
Fenomena serupa ternyata tidak hanya terjadi pada Bulan kita, tetapi juga dialami oleh sebagian besar satelit alami di tata surya akibat dominasi gravitasi planet induk mereka. (The Hill, Britannica, Science Focus/Z-10)
Gerhana Matahari total adalah salah satu pertunjukan langit paling menakjubkan yang bisa disaksikan manusia. Tapi ada kabar mengejutkan: fenomena itu tidak akan selamanya ada.
Sebuah penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal ilmiah dan dilansir oleh laman PsyPost mengungkap bahwa misi luar angkasa tidak hanya berdampak pada otot dan tulang manusia
Sejak jutaan tahun lalu, rotasi Bumi terus mengalami perlambatan. Perlambatan ini terjadi akibat tarikan gravitasi Bulan yang menciptakan gaya pasang surut, berfungsi seperti rem alami.
Gagasan bahwa suatu hari Bumi akan memiliki 25 jam dalam sehari bukanlah mitos. Secara ilmiah, hal itu memungkinkan.
Penelitian terbaru dalam dunia astronomi mengungkapkan fakta mengejutkan: Bumi pernah memiliki hingga enam “bulan mini” sekaligus.
Pencapaian ini memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang misi Apollo 13 dengan jarak 400.141 kilometer pada April 1970, rekor yang bertahan lebih dari 55 tahun.
NASA merilis foto terbaru dari misi Artemis II, memperlihatkan sisi lain Bulan yang selama ini selalu hanya memperlihatkan satu wajah yang sama ke Bumi.
Empat astronaut misi Artemis II yang bertugas Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen berhasil mengabadikan serangkaian foto yang memperlihatkan lanskap Bulan
Misi Artemis II milik NASA mencatat sejarah baru dalam eksplorasi antariksa setelah para astronautnya berhasil menempuh jarak terjauh dari Bumi
PADA Rabu (1/4) pukul 18.24 EDT nanti akan menjadi penanda misi eksplorasi manusia ke Bulan dalam peluncuran penerbangan Misi Artemis II NASA.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved