Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
GERHANA Matahari total adalah salah satu pertunjukan langit paling menakjubkan yang bisa disaksikan manusia. Tapi ada kabar mengejutkan: fenomena itu tidak akan selamanya ada.
Bulan, satelit alami Bumi, perlahan namun pasti terus menjauh. Proses kosmik yang sudah berlangsung miliaran tahun ini kini mulai mengarah pada satu konsekuensi besar, suatu hari nanti, gerhana Matahari total akan lenyap dari Bumi.
Menurut data reflektor laser yang dipasang dalam misi Apollo, jarak Bulan dari Bumi bertambah rata-rata 3,8 sentimeter setiap tahun. Penyebabnya adalah tarikan gravitasi dan interaksi pasang surut antara keduanya.
Gravitasi Bulan menciptakan gelombang pasang di lautan Bumi. Sementara rotasi Bumi yang lebih cepat secara perlahan mentransfer energi ke Bulan, mendorongnya semakin jauh ke orbit luar.
Saat ini, Bulan berada pada jarak rata-rata sekitar 384.400 kilometer. Jarak “pas” inilah yang memungkinkan Bulan tampak sama besar dengan Matahari di langit, sehingga dapat menutupi cakram Matahari sepenuhnya dan menciptakan gerhana total.
Namun jarak itu tidak akan bertahan.
Seiring Bulan makin menjauh, ukuran tampaknya di langit akan mengecil. Pada titik tertentu, Bulan tidak lagi cukup besar untuk menutup Matahari sepenuhnya.
Para astronom memperkirakan bahwa dalam 600 hingga 700 juta tahun ke depan, gerhana Matahari total tidak akan lagi terjadi. Bumi hanya akan mengalami gerhana cincin, ketika Matahari tampak seperti lingkaran cahaya terang mengelilingi siluet Bulan.
Fenomena itu sebenarnya sudah bisa diamati sekarang, ketika Bulan berada di titik terjauh orbitnya, yang disebut apogee.
Meski terdengar dramatis, perubahan ini berlangsung sangat lambat dan tidak berdampak langsung bagi kehidupan manusia hari ini. Namun bagi ilmu pengetahuan, hilangnya gerhana total adalah kehilangan besar.
Gerhana total adalah momen langka ketika ilmuwan bisa mempelajari korona Matahari, lapisan atmosfer terluar yang biasanya tersembunyi oleh silau fotosfer. Banyak penemuan penting tentang struktur dan suhu korona berasal dari pengamatan selama gerhana total.
Lebih jauh lagi, dinamika menjauhnya Bulan juga memengaruhi Bumi: rotasi planet ini melambat, sehingga panjang hari perlahan bertambah.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa tata surya bukan sistem yang statis. Langit yang kita kenal hari ini terus berubah.
Gerhana Matahari total yang kita nikmati sekarang hanyalah “jendela singkat” dalam skala kosmik, sebuah kebetulan astronomi yang tidak akan berlangsung selamanya. (NASA/Z-10)
Banyak orang mengira bintang benar-benar berkelip atau berubah-ubah cahaya. Namun, faktanya tidak demikian. Dilansir dari laman Online Star Register, efek berkelip tersebut bukan berasal
Kemiringan Bumi pada porosnya menjadi penyebab dari pergeseran jalur Matahari ke utara pada waktu yang sama setiap tahunnya.
Februari 2026 menghadirkan parade planet langka. Merkurius, Venus, Neptunus, Saturnus, Uranus, dan Jupiter akan terlihat bersamaan, puncaknya pada 28 Februari.
Fenomena astronomi langka akan menyapa langit Bumi pada akhir Februari 2026 lewat peristiwa yang dikenal sebagai parade enam planet.
Sayangnya, Gerhana Matahari Cincin sempurna kali ini tidak melewati wilayah Indonesia dan hanya melintasi wilayah terpencil di Antartika.
KLAIM yang menyebutkan bahwa Bumi akan mengalami kegelapan total selama beberapa menit pada Agustus 2027 sempat ramai beredar di media sosial.
Pada 2 Agustus 2027 mendatang, bulan akan berada tepat di antara Bumi dan Matahari, sehingga menutupi cahaya Matahari sepenuhnya di wilayah tertentu.
Kuartet Artemis II bakal memecahkan rekor jarak terjauh manusia di luar angkasa sekaligus menyaksikan gerhana matahari unik selama 53 menit dari kapsul Orion.
Pada 17 Februari bertepatan dengan kemunculan Bulan baru. Momen ini juga diramaikan perayaan Tahun Baru Imlek dan bersiapnya sebagian umat menyambut Ramadan.
Peneliti ungkap reaksi unik hewan di padang rumput saat Gerhana Matahari Total April 2024 melalui rekaman suara. Apakah alam benar-benar menjadi sunyi?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved