Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
LANGIT malam kerap dihiasi oleh bintang-bintang yang tampak berkelip indah. Fenomena ini bukan hanya memikat mata, tetapi juga memunculkan rasa penasaran, “mengapa bintang terlihat berkedip?”
Banyak orang mengira bintang benar-benar berkelip atau berubah-ubah cahaya. Namun, faktanya tidak demikian. Dilansir dari laman Online Star Register, efek berkelip tersebut bukan berasal dari bintang itu sendiri, melainkan akibat pengaruh atmosfer Bumi.
Cahaya bintang sejatinya bergerak lurus dan stabil saat melintasi ruang angkasa. Namun, ketika memasuki atmosfer Bumi, cahaya tersebut harus melewati lapisan udara yang terus bergerak dan memiliki perbedaan suhu serta kepadatan.
Kondisi ini menyebabkan cahaya mengalami pembiasan atau perubahan arah. Akibatnya, cahaya yang sampai ke mata manusia tampak bergetar atau berkelip. Dalam dunia sains, fenomena ini dikenal sebagai _stellar scintillation_. Secara sederhana, atmosfer bertindak seperti lensa yang tidak rata, sehingga cahaya bintang tampak berpendar dan berubah-ubah.
Meski begitu, tidak semua bintang terlihat berkelip dengan intensitas yang sama. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi atmosfer pada saat pengamatan.
Pada malam yang tenang dengan udara stabil, bintang cenderung tampak lebih “diam”. Sebaliknya, ketika angin kencang, kelembapan tinggi, atau polusi udara meningkat, efek kelipan akan terlihat lebih jelas.
Selain itu, posisi bintang juga berpengaruh. Bintang yang berada dekat cakrawala biasanya tampak lebih berkelip karena cahayanya harus melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal dibandingkan bintang yang berada tepat di atas kepala.
Menariknya, bintang tidak hanya berkelip, tetapi juga bisa tampak berubah warna. Hal ini terjadi karena setiap warna cahaya dibiaskan dengan sudut yang berbeda saat melewati atmosfer.
Efek ini membuat bintang terlihat seperti memancarkan warna merah, biru, hingga putih secara bergantian. Fenomena ini sering terlihat pada bintang terang seperti Sirius dan Capella, terutama saat posisinya rendah di langit.
Berbeda dengan bintang, planet umumnya tampak bersinar stabil tanpa kelipan. Hal ini karena planet berada lebih dekat ke Bumi dan terlihat seperti cakram kecil, bukan titik cahaya.
Cahaya dari cakram tersebut cenderung “merata”, sehingga efek distorsi dari atmosfer menjadi tidak terlalu terlihat. Itulah sebabnya, objek yang tampak berkedip tajam di langit malam hampir pasti adalah bintang, bukan planet.
Bagi pengamat langit, efek berkelip terkadang bisa mengganggu. Namun, ada beberapa cara untuk meminimalkannya, antara lain:
Tak heran jika banyak observatorium dibangun di puncak gunung atau bahkan di luar angkasa untuk mendapatkan hasil pengamatan yang lebih akurat.
Meski kerap dianggap mengganggu, fenomena ini justru bermanfaat bagi ilmuwan. Dengan mempelajari bagaimana cahaya bintang berubah saat melewati atmosfer, para peneliti dapat memahami kondisi atmosfer Bumi lebih dalam.
Informasi ini berguna untuk berbagai keperluan, mulai dari prediksi cuaca hingga pengembangan teknologi pengamatan luar angkasa.
Sumber: Online Star Register
hingga saat ini belum teknologi yang mampu untuk menghitung jarak orbit secara presisi untuk mengetahui berapa lama pergi ke planet lain.
Ternyata bintang tidak benar-benar berkelip. Fenomena scintillation atmosfer inilah yang menyebabkan cahaya bintang tampak bergetar dan berubah warna.
Perubahan definisi sains umumnya memerlukan perdebatan panjang dan pemungutan suara oleh para ilmuwan dari seluruh dunia, bukan melalui perintah eksekutif.
Suhu permukaannya diperkirakan mencapai 1.900 derajat Celsius, yang cukup panas untuk melelehkan batuan menjadi lautan magma global yang membentang hingga ribuan kilometer
Pada 28 Februari, enam planet akan muncul sesaat setelah matahari terbenam. Enam planet tersebut, yaitu Merkurius, Venus, Neptunus, Saturnus, Uranus, dan Jupiter.
Kemiringan Bumi pada porosnya menjadi penyebab dari pergeseran jalur Matahari ke utara pada waktu yang sama setiap tahunnya.
Februari 2026 menghadirkan parade planet langka. Merkurius, Venus, Neptunus, Saturnus, Uranus, dan Jupiter akan terlihat bersamaan, puncaknya pada 28 Februari.
Fenomena astronomi langka akan menyapa langit Bumi pada akhir Februari 2026 lewat peristiwa yang dikenal sebagai parade enam planet.
Gerhana Matahari total adalah salah satu pertunjukan langit paling menakjubkan yang bisa disaksikan manusia. Tapi ada kabar mengejutkan: fenomena itu tidak akan selamanya ada.
Sayangnya, Gerhana Matahari Cincin sempurna kali ini tidak melewati wilayah Indonesia dan hanya melintasi wilayah terpencil di Antartika.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved