Kenapa Bulan Terlihat Berbeda di Berbagai Belahan Bumi? Ini Jawaban Ilmiahnya

Abi Rama
13/4/2026 21:57
Kenapa Bulan Terlihat Berbeda di Berbagai Belahan Bumi? Ini Jawaban Ilmiahnya
Tampilan bulan ternyata bisa berbeda di tiap negara.(Dok. Freepik)

BULAN selama ini dikenal sebagai benda langit yang tampak sama dari mana pun di Bumi. Namun, ilmuwan mengungkap penampilannya sebenarnya bisa berbeda-beda, tergantung lokasi pengamat.

Dikutip dari Live Science, perbedaan itu bukan karena bentuk fisik bulan berubah, melainkan karena sudut pandang manusia dari permukaan Bumi tidak selalu sama.

“Cara kita melihat bulan dan bintang pada dasarnya bergantung pada perspektif,” kata Pamela Gay, ilmuwan senior di Planetary Science Institute.

Akibat perbedaan perspektif itu, bulan bisa tampak berputar, terbalik, atau memiliki orientasi yang berbeda di setiap wilayah.

Dari Kutub Utara ke Kutub Selatan, Bulan Bisa Tampak Terbalik

Perbedaan paling jelas terlihat antara Kutub Utara dan Kutub Selatan. Kawah Tycho, salah satu fitur paling ikonik di permukaan bulan, tampak berada di bagian bawah saat diamati dari Kutub Utara. Sebaliknya, dari Kutub Selatan, kawah itu terlihat berada di bagian atas.

Fenomena serupa juga terjadi di wilayah lain. Misalnya, orientasi bulan di Wellington, Selandia Baru, dapat tampak hampir 97 derajat berlawanan dibandingkan dengan yang terlihat di Los Angeles, Amerika Serikat.

Karena itu, pola “manusia di bulan” yang akrab bagi pengamat di belahan Bumi utara bisa tampak sangat berbeda bagi mereka yang berada di belahan selatan.

“Bagi pengamat di Sydney, bulan bisa terlihat seperti kelinci yang melompat ke bawah,” ujar Gay.

Tak hanya orientasi, fase bulan juga tampak berbeda antara belahan Bumi utara dan selatan. Di belahan utara, fase menuju purnama atau waxing terlihat bertambah dari sisi kanan ke kiri. Sementara di belahan selatan, bagian terang justru tampak melebar dari kiri ke kanan.

Dalam astronomi, waxing adalah fase ketika bagian bulan yang disinari Matahari dan terlihat dari Bumi makin besar dari malam ke malam, mulai dari sabit tipis, setengah, hingga purnama.

Menurut Catherine Miller, spesialis observatorium di Middlebury College, perbedaan ini terjadi karena orientasi cakrawala lokal terhadap posisi Matahari, Bumi, dan bulan tidak sama di setiap tempat.

“Ini merupakan hasil dari bagaimana bidang cakrawala lokal berorientasi terhadap posisi Bumi, bulan, dan Matahari,” jelasnya.

Di wilayah khatulistiwa, penampakan bulan bahkan bisa terasa lebih unik. Bulan sabit sering terlihat seperti perahu karena bagian terang tampak muncul dari bawah ke atas, bukan dari samping.

Bulan Bisa Terlihat Berputar dalam Semalam

Di sejumlah wilayah, terutama yang dekat khatulistiwa, bulan bahkan tampak seperti berputar saat bergerak dari timur ke barat dalam satu malam.

Miller menjelaskan, di daerah ini bulan dapat terlihat berputar hingga hampir 180 derajat. Itu terjadi ketika bulan melintasi titik zenit, yakni posisi tepat di atas kepala pengamat.

Namun, Gay menegaskan bahwa yang sebenarnya berubah bukanlah bulan, melainkan posisi pengamat saat mengikuti pergerakannya di langit.

“Bukan bulannya yang berputar, tetapi kita yang mengubah posisi tubuh untuk mengikutinya,” katanya.

Meski tampilannya bisa berbeda-beda, pada dasarnya semua orang di Bumi melihat sisi bulan yang hampir sama. Hal ini terjadi karena rotasi sinkron, yakni ketika bulan berputar pada porosnya dalam waktu yang sama dengan periode orbitnya mengelilingi Bumi.

Akibatnya, satu sisi bulan selalu menghadap ke Bumi. Meski demikian, sedikit goyangan alami yang disebut librasi membuat sebagian kecil permukaan bulan bisa tampak berbeda dari waktu ke waktu.

Secara keseluruhan, bulan memang tidak selalu terlihat sama di setiap negara. Perbedaan lintang, posisi pengamat, dan orientasi cakrawala membuat bulan bisa tampak terbalik, berputar, atau memperlihatkan arah fase yang berbeda.

Meski begitu, semua itu hanyalah soal perspektif. Secara fisik, bulan tetap merupakan objek yang sama bagi seluruh penghuni Bumi. (Live Science/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya