Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK orang mengira bulan akan terlihat sama di mana pun berada. Tapi kenyataannya, bulan bisa tampak berbeda, bahkan terlihat miring atau terbalik, tergantung dari mana kita melihatnya di bumi.
Fenomena ini sering bikin bingung, terutama saat membandingkan foto bulan dari negara yang berbeda. Sekilas terlihat seperti bentuknya berubah. Padahal, yang berubah bukan bulan itu sendiri, melainkan sudut pandang pengamat.
Secara ilmiah, fase bulan selalu sama di seluruh dunia. Fase ini ditentukan oleh posisi matahari, bumi, dan bulan dalam satu garis orbit.
Artinya, ketika bulan sabit atau purnama terjadi, semua orang di bumi melihat fase yang sama di waktu yang sama.
Namun, orientasi atau arah tampilan bulan bisa berbeda. Di belahan bumi utara, bagian terang bulan bisa terlihat di sisi kanan, sementara di belahan selatan justru terlihat di sisi kiri.
Perbedaan ini terjadi karena bumi berbentuk bulat. Setiap orang melihat langit dari sudut yang berbeda, sehingga tampilan bulan seolah ikut berputar.
Efeknya mirip seperti melihat objek yang sama dari posisi berbeda, bentuknya tetap, tapi tampilannya bisa terasa berubah.
Selain itu, rotasi bumi juga berpengaruh. Dalam satu malam, posisi bulan di langit terus bergeser dari terbit hingga terbenam, membuat orientasinya terlihat berubah dari miring, tegak, lalu miring lagi.
Bumi memiliki kemiringan sekitar 23,5 derajat, sementara orbit bulan juga tidak sejajar sempurna dengan bumi.
Kombinasi keduanya membuat sudut pandang manusia terhadap bulan terus berubah sepanjang waktu.
Dalam kondisi tertentu, bulan bahkan tampak sedikit “mengangguk” atau bergeser. Fenomena ini dikenal sebagai librasi.
Perbedaan tampilan bulan bukan ilusi optik, apalagi perubahan bentuk fisik. Ini murni soal perspektif.
Bulan tetap sama. Tapi karena kita melihatnya dari posisi yang berbeda di permukaan bumi, tampilannya pun ikut terlihat berbeda.
Fenomena sederhana ini jadi pengingat, bahwa apa yang terlihat berbeda belum tentu benar-benar berubah, kadang, hanya sudut pandangnya saja yang tidak sama. (NASA Science/Z-10)
Badan Antariksa Eropa (ESA) membuka proyek sains warga Space Warps. Publik diajak mencari lensa gravitasi langka dalam data Teleskop Euclid yang belum pernah dipublikasikan.
Peneliti ungkap bagaimana materi gelap membantu pembentukan lubang hitam supermasif di awal semesta, memecahkan misteri temuan teleskop James Webb.
Astronom berhasil memetakan Supercluster Vela yang selama ini tersembunyi. Memiliki massa 30 kuadriliun matahari, struktur ini jadi salah satu objek terbesar di alam semesta.
Asteroid Apophis akan melintas dekat Bumi pada 13 April 2029. NASA memastikan aman, sekaligus jadi peluang langka untuk penelitian kosmik.
Asteroid 99942 Apophis akan melintas sangat dekat ke Bumi pada 13 April 2029. NASA memastikan tidak ada ancaman tabrakan dalam 100 tahun ke depan.
Okultasi asteroid Strenua akan terjadi 26 April 2026 pukul 19.41 WIB. Fenomena “gerhana bintang” ini langka dan dapat diamati dari Indonesia.
NASA mendukung misi European Space Agency ExoMars. Rover Rosalind Franklin ditargetkan meluncur 2028 untuk mencari jejak kehidupan di Mars.
NASA mempercepat ambisi ke Bulan lewat proyek MoonFall. Empat drone "hopper" akan dikirim untuk memetakan Kutub Selatan Bulan sebelum pendaratan astronot 2028.
Keempat astronot yang terdiri dari Reid Wiseman sebagai komandan, Victor Glover sebagai pilot, serta Christina Koch dan Jeremy Hansen.
Rover Curiosity NASA menemukan molekul organik kompleks di Kawah Gale, Mars. Temuan ini memperkuat kemungkinan adanya bahan penyusun kehidupan di masa lalu.
NASA telah resmi mengumumkan penugasan empat kru dari tiga agen antariksa berbeda untuk menjalankan misi SpaceX Crew-13.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved