Astronom Berhasil Petakan Supercluster Vela yang Masif

Thalatie K Yani
28/4/2026 12:00
Astronom Berhasil Petakan Supercluster Vela yang Masif
Ilustrasi 3D yang menunjukkan ukuran Supergugus Vela dibandingkan dengan gugus galaksi lainnya.(Dr Jérôme Léca/RSA Cosmos/SARAO)

SETELAH satu dekade menjadi teka-teki, para astronom akhirnya berhasil memetakan "supercluster" galaksi misterius yang selama ini tersembunyi dari pandangan Bumi. Hasil penelitian terbaru menunjukkan struktur ini jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya dan kini dinobatkan sebagai salah satu objek paling masif di alam semesta yang diketahui.

Struktur yang dinamakan Supercluster Vela ini merupakan kumpulan dari setidaknya 20 gugus galaksi. Setiap gugus di dalamnya menampung ratusan hingga ribuan galaksi yang terikat oleh gravitasi menjadi satu kesatuan raksasa.

Tersembunyi di Balik Debu Bimasakti

Meskipun ukurannya luar biasa, Supercluster Vela baru ditemukan tahun 2016. Hal ini disebabkan  lokasinya yang berada di wilayah Zone of Avoidance atau Zona Penghindaran. Wilayah ini adalah area langit malam yang tertutup oleh cakram galaksi Bimasakti yang sangat padat dengan bintang dan debu kosmik, sehingga hampir mustahil untuk melihat apa yang ada di baliknya.

Awalnya, para ilmuwan menjuluki wilayah ini sebagai "Terra Incognita" (daratan tak dikenal). Namun, dalam studi terbaru yang diunggah ke server pracetak arXiv, tim peneliti berhasil memetakan Vela dengan mengukur pergerakan galaksi di sekitar tepiannya.

Skala yang Mencengangkan

Data terbaru mengungkapkan Supercluster Vela memiliki lebar sekitar 300 juta tahun cahaya, kira-kira 3.000 kali lebih lebar dari galaksi Bimasakti kita. Massanya pun tak kalah fantastis, yakni setara dengan 30 kuadriliun matahari.

Renee Kraan-Korteweg, astronom dari University of Cape Town yang merupakan salah satu penulis studi tersebut, menyatakan kegembiraannya atas konfirmasi ukuran struktur ini.

"Kami senang dapat mengonfirmasi bahwa supercluster ini adalah struktur skala besar yang koheren, sebanding dalam ukuran dan massa dengan beberapa supercluster terbesar dan terkenal di alam semesta lokal," ujar Kraan-Korteweg kepada Live Science.

Vela kini tercatat lebih masif daripada Laniakea, supercluster tempat Bumi dan Bimasakti berada, dan menduduki peringkat kedua setelah Supercluster Shapley sebagai struktur galaksi terbesar yang pernah ditemukan. Tim peneliti juga memberinya nama baru: Vela-Banzi, yang dalam bahasa Xhosa (bahasa asli Afrika Selatan) berarti "mengungkap secara luas."

Menembus Kabut Kosmik dengan Teknologi Radio

Untuk memetakan wilayah yang tertutup debu ini, para peneliti menggabungkan 65.000 pengukuran jarak galaksi dengan 8.000 observasi redshift baru. Tantangan terbesarnya adalah kepadatan bintang di Bimasakti yang menutupi hingga 20% langit malam.

"Jutaan hingga miliaran bintang yang membentuk cakram (Bimasakti) begitu padat dan dekat sehingga kita tidak bisa dengan mudah melihat menembusnya," tulis Kraan-Korteweg.

Solusinya, tim menggunakan teleskop radio MeerKAT di Afrika Selatan. Teleskop ini mampu mendeteksi gelombang radio dari awan gas hidrogen raksasa yang menembus debu kosmik. Teknologi ini memungkinkan ilmuwan mengukur pergerakan galaksi yang sebelumnya tidak terlihat oleh cahaya tampak.

Pemetaan struktur masif seperti Vela sangat penting bagi dunia sains. Dengan memahami ukuran dan kecepatan objek terbesar di alam semesta, para astronom dapat mengonfirmasi dan menyempurnakan model kosmologi mengenai bagaimana alam semesta terbentuk dan berkembang. (Space/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya