Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA astronom berhasil mengidentifikasi puluhan "pita bintang" redup di pinggiran galaksi Bima Sakti. Penemuan besar ini dimungkinkan berkat algoritma baru yang mengolah data dari misi Gaia milik Badan Antariksa Eropa (ESA).
Fenomena yang dikenal sebagai stellar streams atau aliran bintang ini merupakan jejak bintang berbentuk melengkung. Aliran ini terbentuk ketika gugus bintang padat bergerak melewati medan gravitasi Bima Sakti, yang kemudian menarik dan merentangkan bintang-bintang tersebut menjadi pita panjang yang tertinggal di sepanjang lintasannya.
Rekan penulis studi yang juga astrofisikawan teoretis dari University of Michigan, Oleg Gnedin, memberikan gambaran sederhana mengenai fenomena langka ini.
"Ini seperti mengendarai sepeda dengan tas berisi pasir, namun tas tersebut berlubang. Butiran-butiran pasir itu ibarat bintang-bintang yang tertinggal di sepanjang lintasannya," ujar Gnedin dalam pernyataan resminya.
Penemuan ini sangat berharga karena bentuk dan gerak aliran bintang menyimpan catatan kekuatan gravitasi yang memengaruhi mereka dari waktu ke waktu. Hal ini menjadikannya alat bantu yang kuat untuk memetakan massa Bima Sakti, termasuk halo materi gelap yang selama ini sulit dideteksi. Materi gelap sendiri diyakini sebagai "lem" tak kasat mata yang menyatukan galaksi, namun belum pernah diamati secara langsung.
Studi yang dipimpin oleh Yingtian "Bill" Chen ini berhasil mengidentifikasi 87 kandidat aliran bintang yang terkait dengan gugus bola (kumpulan bintang kuno yang padat). Sebelumnya, kurang dari 20 aliran bintang yang berhasil ditemukan, itu pun sering kali ditemukan secara tidak sengaja.
Untuk menemukannya, Chen mengembangkan algoritma komputer bernama StarStream. Berbeda dengan metode lama yang hanya mengandalkan pola visual, StarStream bekerja berdasarkan model fisika. Tim kemudian menerapkan metode ini pada data Gaia yang memetakan posisi dan gerak miliaran bintang di Bima Sakti sejak 2014 hingga 2025.
"Ternyata jauh lebih mudah untuk menemukan sesuatu ketika Anda memiliki ekspektasi teoretis tentang apa yang Anda cari melalui gambaran fenomenologis yang sederhana," tambah Gnedin.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak aliran bintang tidak sesuai dengan ekspektasi klasik yang biasanya tipis dan sejajar. Beberapa aliran yang baru ditemukan justru lebih pendek, lebar, atau bahkan tidak sejajar dengan orbit gugus induknya. Hal ini mengindikasikan bahwa pencarian sebelumnya mungkin melewatkan struktur tersebut karena hanya fokus pada pola yang paling jelas.
Meski demikian, para peneliti mencatat bahwa tidak semua dari 87 kandidat tersebut akan terkonfirmasi sebagai aliran bintang asli karena adanya potensi kontaminasi dari bintang latar belakang yang tidak terkait.
Bill Chen menyatakan bahwa algoritma ini nantinya akan diuji lebih lanjut dengan observasi generasi berikutnya, termasuk Teleskop Ruang Angkasa Nancy Grace Roman milik NASA.
"Akan sangat mudah untuk menyesuaikan algoritma ini untuk misi masa depan. Begitu kita memiliki datanya, menerapkannya akan sangat mudah," pungkas Chen.
Penelitian ini telah diterbitkan secara resmi dalam The Astrophysical Journal pada 23 Maret lalu. (Space/Z-2)
Astronom berhasil memetakan Supercluster Vela yang selama ini tersembunyi. Memiliki massa 30 kuadriliun matahari, struktur ini jadi salah satu objek terbesar di alam semesta.
Simulasi kosmologis HyperMillennium menjadi yang terbesar di dunia, membantu ilmuwan memahami evolusi alam semesta, materi gelap, dan pembentukan galaksi.
Instrumen DESI berhasil memetakan 47 juta galaksi untuk menyelidiki energi gelap. Temuan awal menunjukkan potensi pergeseran paradigma dalam ilmu kosmologi.
Peneliti menemukan bukti baru ekspansi alam semesta mungkin lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. Apakah ini jawaban atas perdebatan panjang para astronom?
Peneliti berhasil memetakan medan magnet galaksi Bima Sakti secara mendalam. Terungkap adanya anomali unik di Lengan Sagitarius yang mengalir berlawanan arah.
Badan Antariksa Eropa (ESA) membuka proyek sains warga Space Warps. Publik diajak mencari lensa gravitasi langka dalam data Teleskop Euclid yang belum pernah dipublikasikan.
Peneliti ungkap bagaimana materi gelap membantu pembentukan lubang hitam supermasif di awal semesta, memecahkan misteri temuan teleskop James Webb.
Asteroid Apophis akan melintas dekat Bumi pada 13 April 2029. NASA memastikan aman, sekaligus jadi peluang langka untuk penelitian kosmik.
Asteroid 99942 Apophis akan melintas sangat dekat ke Bumi pada 13 April 2029. NASA memastikan tidak ada ancaman tabrakan dalam 100 tahun ke depan.
Okultasi asteroid Strenua akan terjadi 26 April 2026 pukul 19.41 WIB. Fenomena “gerhana bintang” ini langka dan dapat diamati dari Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved