Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
INSTRUMEN Spektroskopi Energi Gelap (DESI) secara resmi telah menyelesaikan misi lima tahunnya untuk membangun peta 3D kosmos terbesar yang pernah ada. Proyek ambisius ini dirancang untuk menyelidiki energi gelap, kekuatan misterius yang mendorong percepatan ekspansi alam semesta.
Meskipun sempat menghadapi tantangan pandemi dan kebakaran hutan yang melanda observatorium pada 2022, tim DESI berhasil menyelesaikan peta ini lebih cepat dari jadwal pada Selasa (14/04) malam. Terletak di Teleskop Nicholas U. Mayall, Arizona, DESI menggunakan 5.000 "mata" serat optik untuk mengintip jauh ke masa lalu alam semesta.
"DESI telah melampaui ekspektasi. Ini adalah pencapaian besar karena tim mampu menyelesaikan program survei yang sangat ambisius tepat waktu dan sesuai anggaran," ujar Klaus Honscheid, ilmuwan utama operasi instrumen DESI dari The University of Ohio.
Data yang dikumpulkan DESI jauh melampaui prediksi awal. Dari target 34 juta objek, DESI berhasil mengamati 47 juta galaksi dan kuasar, wilayah pusat galaksi yang ditenagai oleh lubang hitam supermasif, serta lebih dari 20 militer bintang terdekat. Pencapaian ini menandai peningkatan enam kali lipat dibandingkan observasi galaksi sebelumnya.
Keberhasilan ini menjadi sangat krusial bagi para fisikawan. Pasalnya, energi gelap mencakup sekitar 70% dari total materi dan energi di alam semesta, namun para ilmuwan masih belum mengetahui secara pasti apa sebenarnya kekuatan tersebut.
Analisis awal terhadap data tahun pertama DESI telah memicu gelombang kejutan di komunitas sains. Temuan tersebut memberikan petunjuk kekuatan energi gelap mungkin melemah seiring waktu.
Jika temuan ini terkonfirmasi oleh data lengkap dari peta lima tahun, hal tersebut akan menjadi pergeseran paradigma besar. Model standar kosmologi saat ini, yang dikenal sebagai model Lambda Cold Dark Matter (LCDM), memprediksi bahwa kekuatan energi gelap seharusnya konstan dan tidak berfluktuasi.
"Ini adalah pergeseran paradigma utama. Melemahnya percepatan yang diamati oleh DESI tidak lagi dapat dijelaskan dengan konstanta kosmologis," kata Nathalie Palanque-Delabrouille, kolaborator DESI dari Berkeley Lab. "Ini bisa menjadi penemuan paling menarik dalam kosmologi sejak penemuan energi gelap itu sendiri."
Pengerjaan proyek masif ini melibatkan lebih dari 900 ilmuwan dari 75 institusi di 14 negara. Meskipun misi pemetaan awal telah selesai, tugas DESI masih jauh dari kata usai. Data yang telah terkumpul akan dianalisis secara mendalam untuk memperjelas evolusi alam semesta selama 11 miliar tahun terakhir.
Karya ilmiah pertama berdasarkan program lima tahun penuh DESI diperkirakan akan mulai diterbitkan sepanjang tahun 2027. Hingga saat itu, selesainya misi awal ini tetap berdiri sebagai tonggak sejarah ilmiah yang luar biasa dalam upaya manusia memahami asal-usul dan nasib akhir alam semesta. (Space/Z-2)
Studi terbaru dari DES dan DESI mengungkap potensi kiamat kosmik melalui teori Big Crunch, memprediksi sisa usia alam semesta hanya 33,3 miliar tahun
Simulasi kosmologis HyperMillennium menjadi yang terbesar di dunia, membantu ilmuwan memahami evolusi alam semesta, materi gelap, dan pembentukan galaksi.
Penelitian baru menunjukkan usia alam semesta bisa berbeda dari 13,8 miliar tahun. Fenomena Hubble tension dan energi gelap jadi faktor utama.
Ilmuwan berhasil memetakan 669 juta galaksi menggunakan Dark Energy Camera (DECam).
Penelitian baru ungkap ekspansi alam semesta mungkin melambat dan energi gelap mulai melemah. Temuan ini bisa mengubah pandangan kosmologi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved