Usia Alam Semesta Diprediksi Tersisa 33 Miliar Tahun Lagi

Nadhira Izzati A
29/4/2026 22:07
Usia Alam Semesta Diprediksi Tersisa 33 Miliar Tahun Lagi
Ilustrasi jaring kosmik, struktur skala besar alam semesta.(Dok: Science Photo Library)

PARA ilmuwan melalui survei Dark Energy Survey (DES) dan Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI) memprediksi sisa usia alam semesta hanya tinggal 33,3 miliar tahun lagi akibat perubahan laju ekspansi energi gelap.

Temuan ini menandai kembalinya teori Big Crunch, di mana kosmos tidak akan meluas selamanya melainkan menyusut kembali hingga hancur dalam satu titik padat.

Prediksi Baru Akhir Alam Semesta

Selama puluhan tahun, model kosmologi standar Lambda Cold Dark Matter (ΛCDM) meyakini bahwa alam semesta akan berakhir dalam kesunyian yang dingin atau "Big Freeze". Namun, data terbaru menunjukkan bahwa energi gelap bersifat dinamis, bukan statis. Hal ini memicu prediksi bahwa alam semesta memiliki tenggat waktu yang jauh lebih singkat dari perkiraan sebelumnya.

Penelitian ini mengeksplorasi model Axion Dark Energy (aDE), yang menggunakan partikel akson ultra-ringan sebagai pengganti konstanta statis. Dalam model ini, energi gelap yang semula mendorong galaksi untuk saling menjauh dapat berubah fungsi menjadi daya tarik gravitasi raksasa yang menarik kembali seluruh isi kosmos.

Saat penyusutan dimulai, radiasi latar belakang kosmik akan mengalami pergeseran biru (blueshift), mengubah suhu dingin menjadi panas ekstrem yang menghanguskan seluruh struktur ruang-waktu sebelum mencapai singularitas akhir.

Siklus Lahir dan Hancur

Implikasi dari temuan ini sangat mendalam bagi fisika teoretis. Jika teori "Big Crunch" terbukti benar, alam semesta kemungkinan besar tidak akan benar-benar berakhir secara permanen. Sebaliknya, setelah kehancuran total, kosmos diprediksi akan meledak kembali dalam "Big Bang" yang baru, menciptakan siklus kelahiran dan kematian yang berulang.

Meskipun prediksi ini tidak berdampak langsung pada keberadaan manusia, mengingat Matahari diperkirakan baru akan menelan Bumi dalam 5 miliar tahun ke depan, penemuan ini mengubah paradigma sains global. Alam semesta kini dipandang sebagai entitas yang memiliki masa hidup tertentu, bukan ruang hampa yang meluas tanpa batas.

Hingga saat ini, para ahli masih melakukan kalibrasi data untuk memastikan tidak ada kesalahan sistematis dalam observasi tersebut. Namun, pesan yang muncul dari data DES dan DESI sangat kuat: masa depan kosmos mungkin jauh lebih dinamis dan dramatis daripada yang pernah dibayangkan sebelumnya. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya