Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BULAN selalu menjadi bagian penting dari kehidupan di Bumi. Ia mengatur pasang surut laut, membantu menstabilkan iklim, bahkan menjadi sumber cahaya malam bagi berbagai makhluk hidup. Namun, di balik perannya yang besar, ada fakta menarik yang mungkin belum banyak diketahui bahwa Bulan ternyata sedang menjauh dari Bumi sedikit demi sedikit setiap tahun.
Melansir dari laman BBC, para ilmuwan mendapatkan temuannya ini melalui pengukuran presisi tinggi dengan memantulkan sinar laser ke reflektor yang dipasang oleh para astronot dalam misi Apollo pada akhir tahun 1960-an hingga 1970-an.
Hasil pengukuran tersebut menunjukkan bahwa Bulan bergerak menjauhi Bumi sekitar 3,8 sentimeter setiap tahun, kira-kira secepat kuku manusia tumbuh.
Fenomena ini berkaitan langsung dengan pasang surut air laut di Bumi. Tarikan gravitasi Bulan menyebabkan air laut menonjol, membentuk tonjolan pasang yang selalu mengarah ke Bulan. Namun, karena Bumi berputar lebih cepat daripada Bulan mengorbit, tonjolan air itu terdorong sedikit ke depan.
Tonjolan inilah yang memberikan tarikan balik kepada Bulan dan membuat energinya bertambah. Ketika Bulan mendapatkan energi ekstra, orbitnya melebar, sehingga ia bergerak menjauh dari Bumi. Di saat yang sama, Bumi justru kehilangan energi rotasi sehingga kecepatannya melambat.
Akibatnya, durasi satu hari di Bumi bertambah panjang dari waktu ke waktu. Data ilmiah menunjukkan bahwa sejak akhir 1600-an, panjang hari meningkat sekitar 1,09 hingga 1,78 milidetik per abad. Sekilas tampak tidak berarti, tetapi jika diakumulasikan selama miliaran tahun, efeknya menjadi besar.
Faktanya, miliaran tahun lalu satu hari di Bumi hanya berlangsung kurang dari 13 jam. Kini, satu hari mencapai 24 jam, dan proses pemanjangannya masih terus terjadi.
Berdasarkan studi geologi dan simulasi komputer terbaru, Bulan pernah berada jauh lebih dekat dengan Bumi. Sekitar 3,2 miliar tahun lalu, jaraknya hanya sekitar 270.000 km atau sekitar 70% dari jarak yang kita lihat saat ini. Pada masa itu, kondisi Bumi juga sangat berbeda. Lempeng tektonik baru mulai aktif, dan mikroorganisme laut sedang berkembang pesat.
Namun, yang menarik, laju kemunduran Bulan tidak selalu sama. Dalam beberapa periode sejarah Bumi, Bulan menjauh lebih cepat maupun lebih lambat. Misalnya, 550–625 juta tahun lalu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa Bulan mungkin menjauh hingga 7 cm per tahun, hampir dua kali lipat laju saat ini.
Interaksi lautan dan benua juga berperan penting. Bentuk Samudra Atlantik Utara sekarang ini ternyata memiliki ukuran yang sangat ideal untuk menciptakan efek resonansi pasang surut, sehingga pasang menjadi lebih kuat dan membuat Bulan menjauh lebih cepat. Jika ukuran samudra ini sedikit berbeda, efek tersebut mungkin tidak terjadi.
Simulasi juga memprediksi bahwa ratusan juta tahun dari sekarang, pola resonansi baru akan muncul ketika benua bergerak dan membentuk superkontinen baru. Artinya, laju menjauhnya Bulan terus berubah sesuai konfigurasi Bumi.
Selain faktor alami, kini ilmuwan menemukan bahwa perubahan iklim modern ikut memengaruhi kecepatan rotasi Bumi. Mencairnya es di kutub dan gletser akibat pemanasan global membuat lebih banyak air bergerak ke lautan, memperbesar tonjolan air laut dan menambah perlambatan rotasi Bumi, meskipun sangat kecil.
Efek kecil ini cukup untuk memengaruhi penambahan atau pengurangan detik kabisat pada sistem jam atom dunia. Beberapa ilmuwan memprediksi bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia mungkin perlu menghapus satu detik dari jam resmi internasional, bukan menambah. Namun, perubahan iklim membuat fenomena itu tertunda hingga sekitar tahun 2029.
Selain Bulan dan lautan, penelitian terbaru mengungkap bahwa inti dalam Bumi kini berputar lebih lambat dibanding mantel Bumi. Perubahan ini terdeteksi melalui analisis gelombang seismik gempa bumi sejak tahun 1991 hingga 2023.
Pelambatan inti ini juga diperkirakan memengaruhi panjang hari meski sangat kecil, sekitar seperseribu detik. Tetapi penemuan ini menambah wawasan baru bahwa kecepatan rotasi Bumi dipengaruhi oleh proses-proses dari permukaan hingga ke pusat planet.
Dalam teori, Bulan memang terus menjauh. Namun, dalam kenyataannya, Bulan hampir pasti tidak akan melarikan diri dari orbit Bumi sepenuhnya. Proses ini terlalu lambat, dan Matahari diperkirakan akan memasuki fase kehancuran jauh sebelum Bulan benar-benar terlepas.
Bahkan pada skala waktu jutaan atau miliaran tahun ke depan, perubahan terbesar lebih mungkin dipengaruhi oleh pergerakan benua dan kondisi laut, bukan oleh hilangnya Bulan.
Sumber: BBC
Ilmuwan Tiongkok identifikasi dua mineral langka, magnesiochangesite-(Y) dan changesite-(Ce), dari sampel Bulan misi Chang’e-5. Simak dampaknya bagi sains.
Ilmuwan Tiongkok temukan dua mineral baru di Bulan, Magnesiochangesite-(Y) dan Changesite-(Ce), dari sampel Chang'e-5. Total mineral Bulan kini jadi 8.
Terungkap alasan ilmiah mengapa manusia hanya melihat satu sisi Bulan. Simak fenomena tidal locking dan fakta misi Artemis II terbaru.
Kenapa bulan bisa terlihat berbeda di tiap negara? Ternyata bukan berubah bentuk. Ini penjelasan ilmiah soal orientasi bulan yang sering bikin bingung.
Menurut para astronom, perbedaan ini terjadi karena faktor perspektif. Posisi pengamat di Bumi terutama perbedaan garis lintang membuat orientasi Bulan terlihat berbeda
Tampilan bulan ternyata bisa berbeda di tiap negara. Faktor lintang dan perspektif pengamat membuat bulan tampak terbalik, berputar, atau beda fase.
Ilmuwan memprediksi pembentukan superbenua Pangea Ultima dalam 250 juta tahun ke depan akan memicu suhu ekstrem hingga 50°C dan mengancam kepunahan mamalia.
NASA merilis foto terbaru dari misi Artemis II, memperlihatkan sisi lain Bulan yang selama ini selalu hanya memperlihatkan satu wajah yang sama ke Bumi.
Misi Artemis II milik NASA mencatat sejarah baru dalam eksplorasi antariksa setelah para astronautnya berhasil menempuh jarak terjauh dari Bumi
Astronaut Artemis II terpukau melihat Bumi dari luar angkasa hingga menunda makan. Foto NASA ungkap keindahan planet biru dari kapsul Orion.
Empat astronot dalam misi Artemis II membagikan potret bumi dari luar angkasa yang langsung menarik perhatian publik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved