Harga Plastik Naik 10 Kali Lipat, Warga Diimbau Beralih ke Wadah Pakai Ulang

Naviandri
14/4/2026 20:58
Harga Plastik Naik 10 Kali Lipat, Warga Diimbau Beralih ke Wadah Pakai Ulang
Ilustrasi(Dok Istimewa)

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Bandung mengajak masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, khususnya untuk kebutuhan makanan dan minuman takeaway. Ajakan ini dicanangkan sebagai respon atas meningkatnya harga plastik yang cukup signifikan dan ini bukan hanya di Kota Bandung, tapi di daerah lain seluruh Indonesia.

"Kenaikan harga plastik bahkan mencapai hingga 10 kali lipat. Kondisi ini menjadi momentum penting untuk mendorong perubahan perilaku konsumsi masyarakat. Kalau plastik itu datang dari pabriknya dan kita tahu harganya meningkat sampai 10 kali lipat," ucap Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan Selasa (14/4).

Farhan menilai kenaikan harga plastik ini, dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk mengedukasi masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan kemasan, terutama plastik sekali pakai. Ia  mengajak masyarakat untuk mulai beralih menggunakan wadah yang dapat dipakai ulang, seperti tempat makan atau botol yang sudah dimiliki di rumah.

“Lebih baik menggunakan tempat botram yang ada di rumah untuk makanan takeawaye. Selain lebih ramah lingkungan, penggunaan wadah pakai ulang juga lebih ekonomis bagi masyarakat dalam jangka panjang," tandasnya.

Farhan menyebut, langkah ini juga diharapkan mampu mengurangi volume sampah plastik di Kota Bandung yang selama ini menjadi salah satu permasalahan lingkungan. Saat ini pendekatan yang dilakukan pemerintah lebih mengarah kepada kesadaran konsumen, bukan semata-mata pembatasan dari sisi produksi.

“Ini pendekatannya ke konsumen agar beralih dari kontainer plastik sekali pakai menjadi kontainer yang bisa dipakai ulang,” tandasnya.

Sementara itu kenaikan harga palstik juga sempat menghambat distribusi Minyakita di sejumlah daerah di Jawa Barat (Jabar). Namun kendati demikian persediaan Minyakita di wilayah Jabar dalam posisi aman 

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat, Nining Yuliastiani menjelaskan, keterlambatan distribusi Minyakita dan beras dari bantuan bahan pokok (bapok) dari pemerintah disebabkan masalah kemasan atau plastik pembungkus. Tapi sekarang sudah bisa teratasi.

"Memang karena ada keterlambatan itu sempat terjadi kenaikan harga Minyakita di pasar yang sedikit melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni, Rp15.700 per liter. Kami lihat masih di angka Rp15.800 sampai Rp15.900 per liter, ini karena keterlambatan pasokan kemasan, setelah dilakukan pengecekan ke Bulog dan ID Food," bebernya.

Nining menambahkan untuk pasokan kuota Minyakita untuk Jabar, itu sangat bergantung pada besaran ekspor Crude Palm Oil (CPO) secara nasional melalui kebijakan Domestic Market Obligation (DMO). Rata-rata pasokan Minyakita untuk Jabar sekitar 23.000 liter per bulan. Jadi tidak bisa dipastikan setiap bulan, bergantung pada posisi ekspor CPO.(H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya