Harga Minyakita kian Melambung, Pemkot Pekanbaru Kumpulkan Distributor

Rudi Kurniawansyah
29/4/2026 05:56
Harga Minyakita kian Melambung, Pemkot Pekanbaru Kumpulkan Distributor
Ilustrasi(MI/Rudi Kurniawansyah)

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Pekanbaru mengumpulkan sejumlah distributor besar penjualan minyak goreng kemasan Minyakita, di Komplek Perkantoran Pemerintah, Tenayan Raya.

Pertemuan yang dipimpin Plh Asisten II Setdako Pekanbaru Zulhelmi Arifin, ini dilakukan dalam upaya mengkonfirmasi produksi, ketersediaan dan alur distribusi pasokan Minyakita yang didistribusikan di wilayah Riau, khususnya Kota Pekanbaru.

"Pemko Pekanbaru ingin mengetahui secara pasti penyebab melonjaknya harga Minyakita di pasar. Makanya kita kumpulkan para distributor," kata Zulhelmi Arifin, Selasa (28/4).

Harga minyak goreng Minyakita di Pekanbaru saat ini melonjak tajam, berkisar Rp19.000 hingga Rp20.000 per liter. Padahal, harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah adalah Rp15.700 per liter. Pasokan Minyakita ini pun terbatas di pasar sehingga sempat alami kelangkaan.

Pertemuan dengan distributor tersebut dilangsungkan bersamaan dengan Rapat Koordinasi Inflasi secara zoom bersama Kementerian Dalam Negeri dan stake holder terkait yang juga membahas tentang harga dan ketersediaan komoditas pangan beras dan minyak goreng.

Hadir dalam rapat tersebut perwakilan dari Perum Bulog Riau Kepri, PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), PT. Wilmar Nabati Indonesia, PT. Intibenua Perkasatama.

Zulhelmi mengaku terkejut ketika mengetahui bahwa harga Minyakita kini sudah menembus Rp20.000 per liter. 

Karena itulah, dengan penelusuran dan pengecekan ke seluruh distributor ini, diharapkan bisa terlacak kemana saja penyaluran Minyakita ini dan mengapa harganya bisa jauh melampaui HET Minyakita Rp15.700.

Ia pun meminta agar permasalahan Minyakita ini segera ditindaklanjuti dengan menurunkan tim, Pemko bersama Satgas Pangan ataupun Saber Harga Pangan.

''Segera kita tindaklanjuti untuk penelusuran terlebih dahulu dengan memastikan alokasi di tingkat distributor. Kita akan bekerja sama dengan kepolisian untuk memastikannya,'' ujarnya.

Sementara perwakilan Wilmar Nabati mengungkapkan bahwa pada bulan sebelumnya, mereka hanya mengalokasikan 35 persen dari produksi kepada perum Bulog. Namun, bulan ini Wilmar mengalokasikan 100 persen produksi Minyakita melalui perum Bulog. 

Sejauh ini ada penurunan alokasi, dari sebelumnya sebanyak 35.000 dus, menjadi 20.000 dus. Adapun per dus berisi 12 pouch.

Wakil Pemimpin Wilayah Bulog Riau Kepri, Ria Sartika mengatakan pengalokasian melalui perum Bulog diperuntukkan untuk penyaluran bantuan pangan periode Februari-Maret serta alokasi untuk program stabilisasi Pasokan harga pangan (SPHP).

Untuk SPHP dan pasar, Bulog memberikan harga Rp14.500. Adapun dengan selisih harga yang diberikan tersebut, mitra masih bisa mendapatkan keuntungan yang cukup, bila mengacu pada HET Rp15.700 per liter.

Ia menjelaskan, terkait penambahan alokasi, itu bisa jadi diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan daerah-daerah lain di Indonesia yang kerjasamanya dilakukan oleh kantor pusat, di Jakarta dalam rangka melaksanakan penyaluran bantuan pangan.

''Alhamdulillah, untuk kita di Riau, ketersediaan untuk Minyakita sudah mencukupi. Hanya saja untuk penyalurannya, dilakukan berproses, karena bantuan pangan bukan hanya minyak goreng, tapi juga ada beras,'' ujarnya.

Sementara itu, perwakilan PT Inti Benua Perkasatama (Musimas Group)- produsen Minyakita di Dumai, Gultom mengungkapkan kalau sebelumnya, perusahaan memang memasok sebanyak 35 persen kepada Perum Bulog. Namun, pada tahun 2026, pasokan bertambah menjadi 65 persen.

Sedangkan sisanya dikelola melalui distributor, di antaranya PT Wahana (D1), dengan distributor 2 (D2) PT Kotamas Permai (KMP), Bulog dan BUMD Pangan Riau Bertuah (PRB). 

''Untuk harga jual dari D1 ke D2, Rp15.700,'' ungkapnya.

Kabid Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Pekanbaru, Dinal Husna mengatakan bahwa tujuan dari pertemuan adalah memastikan data tentang jumlah pasokan minyak goreng yang dialokasikan pabrikan.

''Kalau penugasan ke Bulog, itu sudah jelas bisa di trace datanya kemana penyalurannya. Sementara yang lain, sejauh ini kita tidak mengetahui datanya, sehingga tidak tahu, alokasi yang ada di Riau ini dari mana saja asalnya, dan kemana penyalurannya,'' pungkasnya.(RK/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya