Perajin Tahu-Tempe di Priangan Timur Keluhkan Naiknya Harga Kedelai hingga Plastik

Kristiadi
13/4/2026 20:26
Perajin Tahu-Tempe di Priangan Timur Keluhkan Naiknya Harga Kedelai hingga Plastik
Perajin tahu di Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya terpaksa mengurangi produksi setelah harga kacang kedelai, plastik dan garam merangkak naik disebabkan adanya konflik Timur Tengah dan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel dengan Iran masih berper(MI/Kristiadi)

PARA perajin tahu dan tempe di wilayah Priangan Timur kini tengah menghadapi tekanan ekonomi yang berat. Kenaikan harga bahan baku utama, mulai dari kacang kedelai impor hingga plastik kemasan, memaksa para pelaku usaha mikro ini mengurangi volume produksi demi menjaga kelangsungan usaha.

Lonjakan harga ini ditengarai sebagai dampak berantai dari eskalasi konflik di Timur Tengah serta ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi global tersebut memicu kenaikan biaya logistik dan harga komoditas yang merembet hingga ke tingkat perajin lokal.

Harga Plastik Melonjak 40 Persen

Imin Muslimin, salah seorang perajin tahu tempe di Kota Tasikmalaya, mengungkapkan bahwa ratusan perajin di wilayah Priangan Timur kini mulai menjerit. Menurutnya, harga kacang kedelai impor saat ini telah merangkak naik ke kisaran Rp10.800 hingga Rp11.000 per kilogram, dari harga sebelumnya yang berada di angka Rp9.000 per kilogram.

Kenaikan paling signifikan justru terjadi pada bahan penunjang seperti plastik dan garam. "Beban paling besar saat ini adalah plastik, yang semula Rp650 ribu kini naik menjadi Rp1 juta per bal, atau naik sekitar 40%. Selain itu, harga garam juga melonjak dari Rp90 ribu menjadi Rp150.000 per karung," ujar Imin, Senin (13/4).

Daftar Kenaikan Bahan Baku:
Bahan Baku Harga Lama Harga Baru
Kedelai Impor (kg) Rp9.000 Rp10.800 - Rp11.000
Plastik (per bal) Rp650.000 Rp1.000.000
Garam (per karung) Rp90.000 Rp150.000

Produksi Dikurangi demi Bertahan

Kondisi ini membuat hasil produksi harian tidak lagi sebanding dengan nilai penjualan. Akibatnya, banyak perajin yang terpaksa menghentikan operasional sementara atau mengurangi kapasitas produksi mereka. Imin sendiri mengaku biasanya membutuhkan 3 kuintal kedelai per hari, namun kini harus melakukan penyesuaian.

Meski biaya produksi membengkak, para perajin di Priangan Timur sejauh ini masih berupaya mempertahankan harga jual di pasar sebesar Rp5.000 per potong tanpa mengurangi ukuran produk. Hal ini dilakukan agar tidak kehilangan konsumen, meskipun margin keuntungan menipis drastis.

"Kenaikan harga kedelai dan plastik ini dipicu konflik Timur Tengah. Bagi kami para perajin, situasi ini terasa seperti ikut berperang, namun kami berperang melawan mahalnya harga bahan baku agar dapur tetap bisa mengepul," pungkas Imin.

Para pelaku usaha berharap ada intervensi dari pemerintah untuk menstabilkan harga bahan baku di tingkat daerah, mengingat tahu dan tempe merupakan sumber protein utama bagi masyarakat luas. (AD/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner