Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
LONJAKAN harga bahan baku plastik global yang dipicu ketidakpastian ekonomi dan konflik Timur Tengah mulai terasa hingga ke tingkat pedagang eceran di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Makassar tengah dihadapkan pada tekanan baru. Bukan hanya ongkos produksi yang membengkak, tetapi juga harga plastik kemasan yang melonjak drastis hingga 30 hingga 50 persen dalam beberapa pekan terakhir.
Rini, pemilik Toko Rodeo Plastik di Jalan Toddopuli, mengaku kewalahan. Setiap harinya, ia harus menyaksikan daftar harga dari distributor yang terus berubah tanpa pola yang jelas.
Bukan hanya pedagang, konsumen pun mulai menunjukkan reaksi beragam, mulai dari kaget hingga meluapkan kekesalan.
“Yang paling cepat naik itu plastik kantongan bening. Kalau yang hitam kan KW, naiknya tipis. Tapi yang bening, sekali lagi, cepat sekali,” keluh Rini.
Menurutnya, ketidakpastian harga menjadi ujian paling berat. Dalam sistem distribusi normal, pedagang masih bisa mengatur strategi stok. Namun sekarang, hampir semua jenis plastik kebutuhan sehari-hari mengalami lonjakan.
“Diskon paket 30 persen yang biasanya ada sekarang hilang. Jadi harganya kembali ke modal penuh. Itu artinya naik 30 persen. Ada juga yang sampai 50 persen,” ungkap Rini.
Dampaknya, banyak pedagang kecil yang terpaksa mengurangi jumlah stok atau bahkan menghentikan pembelian beberapa jenis plastik yang dianggap terlalu mahal.
Situasi diperparah dengan pasokan yang tidak stabil. Stok lama yang tersisa ludes saat bulan Ramadan, dan stok baru datang dengan jumlah terbatas.
Ironisnya, jenis plastik yang sebelumnya jarang dibeli konsumen justru kini menjadi primadona karena harganya relatif lebih rendah.
“Banyak barang kosong. Susah. Sekarang barang-barang yang kurang laku jadi laku. Kita mau apa? Orang cari yang murah, tapi tidak ada yang murah,” tutur Rini.
Ia mencontohkan, plastik yang biasa dihargai murah kini naik Rp1.000 per bungkus. Angka yang mungkin terlihat kecil, tetapi sangat memberatkan bagi pedagang yang mengandalkan volume penjualan harian.
Reaksi konsumen pun tak kalah beragam. Sebagian mencoba memahami, namun tidak sedikit yang meluapkan kekesalan langsung di depan konter.
“Kalau mau beli silakan. Kita juga dapat seharga ini. Tidak mungkin kita mau kasih di bawah harga modal,” kata Rini dengan nada pasrah.
Meski kesal, konsumen tetap membutuhkan plastik. Hingga saat ini, belum ada pengganti yang efektif untuk kantong plastik, terutama untuk membungkus makanan berkuah, mie, dan lauk-pauk basah. “Pasti membutuhkan plastik begitu. Ini kebutuhan,” tegasnya.
Rini mengaku sumber pasokannya berasal dari distributor lokal yang bekerja sama dengan sales.
Ia menduga kenaikan ini ada kaitannya dengan dinamika global, termasuk konflik di Timur Tengah yang mempengaruhi rantai pasok bahan baku plastik. Meski begitu, ia mengaku tak punya daya untuk mengubah keadaan.
“Tidak ada strategi. Kita mau bagaimana? Terima saja. Mau orang beli, silakan. Mau tidak? Yang penting kita jelaskan kendalanya dari mana. Tapi kalau orang mau marah-marah, buat apa kita jelaskan? Tidak masuk,” ucapnya.
Dengan harga yang terus bergerak naik dan tanpa kepastian kapan akan stabil, para pedagang plastik di Makassar kini hanya bisa bertahan sambil berharap tekanan ini segera mereda.
Sementara itu, konsumen dan UMKM harus merelakan ongkos produksi dan belanja harian mereka ikut terdongkrak. Atau bahkan rela tidak lagi menggunakan plastik.
"Saya kalau ada yang mau beli gorengan, saya tulis depan gerai, tolong bawa tempat, karena kami sudah tidak menyiapkan bungkusan," jelas Nurlia, salah satu penggiat UMKM di Rappokalling, Makassar. (LN/E-4)
KENAIKAN harga kantong plastik di Batam dalam beberapa pekan terakhir mulai berdampak nyata pada kebiasaan masyarakat.
KETEGANGAN geopolitik di kawasan Teluk yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat mulai berdampak pada sektor ekonomi riil di Indonesia.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, usulkan penggunaan daun pisang sebagai alternatif plastik, merespons kenaikan harga plastik yang berdampak pada masyarakat.
MENTERI Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyatakan pemerintah sedang menyiapkan strategi komprehensif untuk menghadapi lonjakan harga plastik.
Kenaikan biaya modal ini tidak hanya menggerus margin keuntungan, tetapi juga berpotensi mengganggu keberlangsungan usaha di tengah daya beli masyarakat yang menurun.
PELAKU UMKM di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, merasakan dampak naiknya harga plastik. Penaikan yang mencapai 80-100% tersebut berdampak langsung terhadap biaya produksi.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan pemerintah terus mengantisipasi dampak fluktuasi harga bahan baku plastik terhadap harga pangan pokok, khususnya beras dan gula.
Ketua DPR Puan Maharani mendorong masyarakat dan UMKM beralih ke kemasan alami seperti daun pisang di tengah lonjakan harga plastik.
Pemkot Ambon siapkan aturan pembatasan dan dorong warga beralih ke bahan ramah lingkungan. Harga kantong plastik di Ambon melonjak hingga 50 persen.
Keterlambatan distribusi Minyakita dan beras dari bantuan bahan pokok (bapok) dari pemerintah disebabkan masalah kemasan atau plastik pembungkus.
PARA perajin tahu dan tempe di wilayah Priangan Timur kini tengah menghadapi tekanan ekonomi yang berat.
Meskipun masih banyak tersedia bahan pengganti yang ramah lingkungan, namun tidak seluruhnya dapat menggantikan plastik untuk menunjang gerak usaha.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved