Harga Plastik Melejit Imbas Konflik Timur Tengah, Pakar UNAIR Ingatkan UMKM segera Berinovasi

Faishol Taselan
13/4/2026 19:16
Harga Plastik Melejit Imbas Konflik Timur Tengah, Pakar UNAIR Ingatkan UMKM segera Berinovasi
KANTONG SINGKONG: Petugas dari evoware menunjukan kantong berbahan dasar singkong pada pameran yang diselenggarakan bersamaan dengan Our Ocean Converence (OOC) 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa (30/10/2020).(Antara)

KETEGANGAN geopolitik di kawasan Teluk yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat mulai berdampak pada sektor ekonomi riil di Indonesia. Salah satu dampak yang paling dirasakan adalah melejitnya harga bahan baku plastik. Menanggapi fenomena ini, Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM dari Universitas Airlangga (UNAIR), Atik Purmiyati, mengingatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk segera melakukan langkah inovasi strategis.

Atik Purmiyati, yang merupakan akademisi dari Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR, menekankan bahwa ketergantungan pada plastik konvensional di tengah ketidakpastian global sangat berisiko bagi keberlangsungan usaha. Ia mendorong pelaku UMKM untuk tidak hanya pasrah pada keadaan, tetapi aktif mencari solusi alternatif.

Strategi Adaptasi UMKM: Dari Efisiensi hingga Substitusi

Menurut Atik, ada beberapa strategi yang dapat ditempuh oleh pelaku usaha untuk menyiasati kenaikan biaya produksi tanpa harus membebani konsumen dengan kenaikan harga yang drastis.

  • Pengurangan Volume Produk: Melakukan penyesuaian ukuran atau volume produk agar harga jual tetap kompetitif di pasar.
  • Diversifikasi Pasar: Mencari ceruk pasar baru yang mungkin tidak terlalu sensitif terhadap perubahan harga kemasan.
  • Substitusi Bahan: Beralih ke kemasan ramah lingkungan (biodegradable) yang berbahan dasar pati jagung, tebu, singkong (cassava bag), hingga serat nanas.

“Akan tetapi, penggunaan kemasan ramah lingkungan bagi UMKM dinilai masih kurang masif. Oleh karena itu, diperlukan edukasi besar-besaran untuk menumbuhkan pemakaian kemasan ramah lingkungan,” ujar Atik di Surabaya, Senin (13/4).

Edukasi dan Ekonomi Perilaku

Lebih lanjut, Atik menjelaskan bahwa edukasi tidak hanya menyasar produsen, tetapi juga konsumen. Masyarakat perlu didorong untuk mulai terbiasa menggunakan tas belanja guna ulang (reusable), menerapkan prinsip isi ulang (refill), serta membawa wadah makanan sendiri.

Dalam perspektif ekonomi perilaku (behavior economics), perubahan pola konsumsi masyarakat secara kolektif dapat memengaruhi permintaan pasar. Hal ini pada akhirnya akan memaksa produsen untuk beradaptasi dengan preferensi konsumen yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Tips Efisiensi: Atik menyarankan UMKM melakukan pembelian bahan kemasan ramah lingkungan secara kolektif. Dengan membeli dalam jumlah besar bersama pelaku usaha lain, UMKM bisa mendapatkan harga yang lebih murah melalui skema economies of scale.

Peran Pemerintah sebagai Regulator

Dari sisi kebijakan, Atik menegaskan pentingnya peran pemerintah sebagai market regulator. Pemerintah diharapkan mengambil langkah aktif untuk mencegah harga plastik semakin liar di pasaran melalui:

  1. Stabilisasi harga bahan baku produksi strategis.
  2. Pengawasan ketat pada rantai distribusi bahan baku plastik.
  3. Pengendalian spekulasi harga di tingkat distributor.
  4. Pemberian insentif bagi industri hulu plastik agar pasokan tetap stabil.

Program stabilisasi ini harus dibarengi dengan pendampingan inovasi kepada UMKM. Tujuannya adalah memperkuat daya beli masyarakat melalui pengendalian inflasi dan peningkatan pendapatan sektor informal.

Menutup keterangannya, Atik mengingatkan bahwa berdasarkan Sistem Data Terpadu Koperasi dan UMKM (SIDT-UMKM), sektor ini berkontribusi sebesar 60-61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 97% tenaga kerja nasional.

“Namun, tidak semua UMKM memiliki daya tahan yang sama. Perlu perhatian serius dari pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi dalam meningkatkan inovasi agar mereka bisa bertahan menghadapi gejolak ekonomi dan politik, baik skala nasional maupun global,” pungkasnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya