Kanselir Jerman Friedrich Merz Sebut AS 'Dipermalukan' Iran dalam Negosiasi

Thalatie K Yani
28/4/2026 05:34
Kanselir Jerman Friedrich Merz Sebut AS 'Dipermalukan' Iran dalam Negosiasi
Kanselir Jerman Friedrich Merz melontarkan kritik pedas terhadap strategi negosiasi Donald Trump. Ia menyebut kepemimpinan Iran berhasil "mempermainkan" AS.(X)

KANSELIR Jerman Friedrich Merz melontarkan penilaian tajam terhadap mandeknya pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Merz secara terbuka menyebut pemerintahan Donald Trump telah "dipermainkan" oleh Teheran di meja perundingan, sebuah pernyataan yang diyakini bakal memperdalam keretakan transatlantik antara AS dan sekutu NATO-nya.

Komentar ini muncul setelah Presiden Donald Trump membatalkan kunjungan negosiator AS ke Islamabad, Pakistan, untuk pembicaraan tidak langsung dengan delegasi Iran. Sebelumnya, putaran negosiasi yang dipimpin Wakil Presiden AS, JD Vance, juga berakhir buntu tanpa kemajuan berarti.

Berbicara di hadapan mahasiswa di Marsberg, Merz menyiratkan tim Trump telah kalah strategi.

"Orang-orang Iran jelas sangat mahir dalam bernegosiasi, atau lebih tepatnya, sangat mahir dalam tidak bernegosiasi, membiarkan orang-orang Amerika melakukan perjalanan ke Islamabad dan kemudian pergi lagi tanpa hasil apa pun," ujar Merz.

Ia menambahkan dengan nada keras, "Seluruh bangsa (AS) sedang dipermalukan oleh kepemimpinan Iran, terutama oleh kelompok yang disebut Pengawal Revolusi. Karena itu, saya berharap hal ini segera berakhir secepat mungkin."

Selat Hormuz

Pernyataan Merz ini berbanding terbalik dengan upaya Trump yang mencoba mencitrakan kebuntuan tersebut dalam cahaya positif. Trump sebelumnya mengklaim kepada Fox News bahwa AS memegang "semua kartu" dan tinggal menunggu Teheran untuk menghubungi mereka.

Di tengah ketegangan ini, Iran mengajukan proposal gencatan senjata baru yang berfokus pada pembukaan Selat Hormuz. Namun, Teheran mengesampingkan pembahasan krusial mengenai senjata nuklir, rudal, dan sanksi untuk dibahas di kemudian hari. Iran bahkan menyiapkan undang-undang yang mewajibkan kapal-kapal membayar "biaya jasa" untuk melewati selat tersebut, sebuah gagasan yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO) karena dianggap tidak memiliki dasar hukum.

Tekanan Ekonomi dan Aliansi Rusia

Meskipun Iran mencoba menggunakan blokade Selat Hormuz sebagai alat tawar, kondisi ekonomi dalam negeri mereka kian kritis. IMF memprediksi kontraksi ekonomi Iran sebesar 6,1% tahun ini dengan inflasi mencapai hampir 70%.

Untuk memitigasi dampak blokade AS, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi baru-baru ini bertemu dengan Vladimir Putin di Moskow. Dalam pertemuan tersebut, Putin berjanji bahwa Rusia akan melakukan segalanya demi kepentingan Iran dan perdamaian kawasan.

Analis hubungan Rusia-Iran, Nikita Smagin, mencatat bahwa jika blokade laut terus berlanjut, Laut Kaspia dan jalur darat melalui Rusia akan menjadi satu-satunya rute perdagangan Iran yang tersisa menuju pasar global.

Dilema Politik Trump

Di sisi lain, Trump menghadapi tekanan politik domestik yang cukup besar. Ia dihantui oleh tingginya harga bahan bakar dan inflasi di AS, serta keinginan untuk menyelesaikan krisis ini sebelum jadwal pertemuan dengan Xi Jinping pada pertengahan Mei.

Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, berpendapat bahwa Trump mungkin salah menilai ketahanan Teheran. Meskipun ekonomi Iran menderita, rezim tersebut dianggap bersedia menyerap biaya yang jauh lebih tinggi dalam pertempuran eksistensial ini dibandingkan sensitivitas politik yang dialami Trump di dalam negeri. (The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya