Trump Disebut Coba Akses Kode Nuklir tapi Dihalangi Jenderal Caine

Wisnu Arto Subari
22/4/2026 06:18
Trump Disebut Coba Akses Kode Nuklir tapi Dihalangi Jenderal Caine
Donald Trump.(Al Jazeera)

SITUASI politik di Washington DC dilaporkan memanas setelah muncul klaim mengejutkan mengenai upaya Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengakses kode nuklir negara. Laporan tersebut menyebutkan bahwa keinginan sang presiden dihentikan langsung oleh pejabat militer berpangkat tinggi.

Informasi itu diungkapkan oleh pensiunan analis CIA, Larry Johnson, dalam program YouTube Judging Freedom. Johnson menyebutkan bahwa dalam pertemuan darurat pada Sabtu (18/4), Trump mencoba mendapatkan akses ke kode nuklir. Namun langkah tersebut dijegal oleh Jenderal Dan Caine.

"Salah satu laporan yang muncul dari pertemuan di Gedung Putih adalah bahwa Trump ingin menggunakan kode nuklir. Jenderal Dan Caine berdiri dan berkata, 'Tidak'. Dia menggunakan hak istimewanya sebagai kepala militer," ujar Johnson. Ia menambahkan bahwa insiden tersebut memicu pertengkaran besar di lingkungan kepresidenan.

Ketegangan di Ruang Situasi

Meskipun tuduhan mengenai akses kode nuklir ini belum diverifikasi secara independen, laporan ini memperkuat spekulasi mengenai keretakan hubungan antara Trump dan penasihat militernya. Sebelumnya, beredar kabar bahwa Trump sempat dikeluarkan dari Ruang Situasi (Situation Room) selama misi penyelamatan penting terkait konflik dengan Iran.

Para pejabat senior pemerintahan diduga khawatir dengan temperamen presiden yang dianggap mudah meledak. Ketidakpastian sikap Trump dikhawatirkan dapat membahayakan operasi militer yang sedang berjalan, terutama setelah penghancuran pesawat AS oleh pasukan Iran awal bulan ini.

Konteks Konflik AS-Iran:

Ketegangan bersenjata telah pecah sejak 28 Februari, menyusul serangan udara gabungan AS-Israel ke target strategis Iran. Sebagai balasan, Iran menutup jalur pelayaran vital di Selat Hormuz dan menyerang berbagai lokasi di Timur Tengah. Hingga saat ini, hanya gencatan senjata sementara yang tercapai tanpa ada perjanjian damai permanen.

Respons Keras dari Teheran

Di pihak lain, Iran menunjukkan sikap yang tidak kalah keras. Mohammed Bagher Qalibaf, kepala negosiator sekaligus Ketua Parlemen Iran, menegaskan melalui unggahan di platform X bahwa pihaknya tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman.

"Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman. Republik Islam telah bersiap untuk mengungkapkan kartu baru di medan perang," tulis Qalibaf pada Selasa (21/4) pagi.

Kekhawatiran global meningkat mengingat Iran diyakini memiliki teknologi pengayaan uranium yang mumpuni, meskipun secara resmi tidak diakui sebagai negara bersenjata nuklir. Ketidakpastian mengenai tujuan Trump mengakses kode nuklir AS menambah lapisan kecemasan baru dalam krisis geopolitik ini.

Isu Kesehatan dan Perilaku Eksentrik

Selain masalah kebijakan luar negeri, Trump tengah menjadi sorotan karena perilakunya yang dianggap tidak menentu. Beberapa hari lalu, ia menuai kritik tajam setelah melontarkan komentar seksis di atas panggung yang membuat audiens terdiam.

Rumor mengenai kondisi kesehatan sang presiden juga merebak di media sosial. Sejumlah pengamat mengeklaim melihat tanda-tanda peringatan medis dari cara berdiri Trump yang dianggap tidak biasa dalam beberapa penampilan publik terakhirnya. Hingga berita ini diturunkan, pihak Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi terkait klaim Larry Johnson maupun spekulasi kesehatan tersebut. (Mirror US/I-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya