Iran Ingatkan Biaya Signifikan Ekonomi Global akibat Blokade Pelabuhan

Wisnu Arto Subari
21/4/2026 06:47
Iran Ingatkan Biaya Signifikan Ekonomi Global akibat Blokade Pelabuhan
Ilustrasi.(Freepik)

KETEGANGAN di Selat Hormuz kembali memanas setelah para pejabat tinggi Iran mengeluarkan peringatan keras terkait blokade Amerika Serikat (AS) terhadap pelabuhan-pelabuhan mereka. Teheran menegaskan bahwa tindakan tersebut akan menimbulkan biaya signifikan bagi ekonomi global yang saat ini tengah bergejolak.

Peringatan ini muncul seiring dengan melonjaknya harga minyak mentah global pada Senin (21/4) pagi. Kenaikan ini dipicu oleh aksi saling target terhadap kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran vital Selat Hormuz oleh militer AS dan Iran.

Ancaman Keamanan Jalur Energi

Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, melalui unggahan di platform X, menyatakan bahwa ekspor minyak Iran tidak dapat dibatasi secara sepihak. Ia menekankan bahwa dunia tidak bisa mengharapkan keamanan pelayaran yang gratis bagi pihak lain sementara akses ekonomi Iran ditutup.

Aref memperingatkan bahwa komunitas internasional kini dihadapkan pada dua pilihan sulit yaitu mendukung pasar minyak bebas untuk semua atau menghadapi risiko biaya signifikan bagi semua orang akibat gangguan pasokan energi.

"Stabilitas harga bahan bakar global sangat bergantung pada pengakhiran yang terjamin dan berkelanjutan terhadap tekanan ekonomi serta militer terhadap Iran dan sekutunya," tulis Aref dalam unggahan yang dikutip media pemerintah Iran.

Harga Minyak Brent Tembus US$96

Dampak dari retorika dan ketegangan militer ini langsung terasa di pasar komoditas. Harga minyak mentah Brent berjangka global melonjak melewati angka US$96 per barel pada Senin. Angka ini membalikkan tren penurunan yang sempat terjadi pada Jumat pekan lalu, saat Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sempat menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk pelayaran internasional.

Di sisi diplomatik, posisi Iran tetap keras. Teheran dilaporkan telah menolak desakan pemerintahan Donald Trump untuk menghadiri putaran pembicaraan damai lanjutan yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, minggu ini.

Konteks Geopolitik:

Selat Hormuz merupakan jalur arteri utama distribusi minyak dunia. Gangguan sekecil apa pun di wilayah ini secara historis selalu memicu lonjakan inflasi energi global dan ketidakpastian pasar keuangan dalam mata uang berbagai negara.

Kritik terhadap Manipulasi Pasar

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Ghalibaf, turut melontarkan kritik tajam yang ditujukan kepada para pelaku pasar dan pemerintah AS. Ia menuduh ada praktik vibe-trading atau perdagangan berdasarkan sentimen semu yang dimanfaatkan untuk memanipulasi pasar minyak dan obligasi pemerintah AS.

Ghalibaf menuduh Presiden Donald Trump menggunakan narasi konflik melalui media sosial untuk menciptakan volatilitas yang menguntungkan pihak tertentu. "Kutipan di luar konteks ditambah FOMO (fear of missing out) yang dibuat-buat adalah cara mengambil keuntungan perang tingkat dasar," cetus Ghalibaf.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di Selat Hormuz masih dipantau ketat oleh pelaku pasar global, mengingat posisi tawar Iran yang besar terhadap stabilitas pasokan energi dunia. (Forbes/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya