Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETEGANGAN di Selat Hormuz kembali memanas setelah para pejabat tinggi Iran mengeluarkan peringatan keras terkait blokade Amerika Serikat (AS) terhadap pelabuhan-pelabuhan mereka. Teheran menegaskan bahwa tindakan tersebut akan menimbulkan biaya signifikan bagi ekonomi global yang saat ini tengah bergejolak.
Peringatan ini muncul seiring dengan melonjaknya harga minyak mentah global pada Senin (21/4) pagi. Kenaikan ini dipicu oleh aksi saling target terhadap kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran vital Selat Hormuz oleh militer AS dan Iran.
Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, melalui unggahan di platform X, menyatakan bahwa ekspor minyak Iran tidak dapat dibatasi secara sepihak. Ia menekankan bahwa dunia tidak bisa mengharapkan keamanan pelayaran yang gratis bagi pihak lain sementara akses ekonomi Iran ditutup.
Aref memperingatkan bahwa komunitas internasional kini dihadapkan pada dua pilihan sulit yaitu mendukung pasar minyak bebas untuk semua atau menghadapi risiko biaya signifikan bagi semua orang akibat gangguan pasokan energi.
"Stabilitas harga bahan bakar global sangat bergantung pada pengakhiran yang terjamin dan berkelanjutan terhadap tekanan ekonomi serta militer terhadap Iran dan sekutunya," tulis Aref dalam unggahan yang dikutip media pemerintah Iran.
Dampak dari retorika dan ketegangan militer ini langsung terasa di pasar komoditas. Harga minyak mentah Brent berjangka global melonjak melewati angka US$96 per barel pada Senin. Angka ini membalikkan tren penurunan yang sempat terjadi pada Jumat pekan lalu, saat Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sempat menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk pelayaran internasional.
Di sisi diplomatik, posisi Iran tetap keras. Teheran dilaporkan telah menolak desakan pemerintahan Donald Trump untuk menghadiri putaran pembicaraan damai lanjutan yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, minggu ini.
Selat Hormuz merupakan jalur arteri utama distribusi minyak dunia. Gangguan sekecil apa pun di wilayah ini secara historis selalu memicu lonjakan inflasi energi global dan ketidakpastian pasar keuangan dalam mata uang berbagai negara.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Ghalibaf, turut melontarkan kritik tajam yang ditujukan kepada para pelaku pasar dan pemerintah AS. Ia menuduh ada praktik vibe-trading atau perdagangan berdasarkan sentimen semu yang dimanfaatkan untuk memanipulasi pasar minyak dan obligasi pemerintah AS.
Ghalibaf menuduh Presiden Donald Trump menggunakan narasi konflik melalui media sosial untuk menciptakan volatilitas yang menguntungkan pihak tertentu. "Kutipan di luar konteks ditambah FOMO (fear of missing out) yang dibuat-buat adalah cara mengambil keuntungan perang tingkat dasar," cetus Ghalibaf.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di Selat Hormuz masih dipantau ketat oleh pelaku pasar global, mengingat posisi tawar Iran yang besar terhadap stabilitas pasokan energi dunia. (Forbes/I-2)
Harga minyak dunia pada April 2026 fluktuatif di kisaran US$90-100 per barel. Simak analisis penyebab dan prediksi rata-rata harga minyak tahun ini.
IEA memproyeksikan penurunan permintaan minyak global terdalam sejak pandemi akibat blokade Selat Hormuz dan harga minyak fisik yang tembus US$150.
Pantau pergerakan harga minyak dunia per 9 April 2026. Simak analisis mendalam mengenai faktor geopolitik dan ekonomi yang memengaruhi harga minyak mentah
Pemerintah membuka peluang penyesuaian harga BBM nonsubsidi. RON 92 hingga Dex masuk hitungan, keputusan final masih menunggu evaluasi.
Ekonomi Indonesia tetap solid di tengah gejolak global. Pemerintah optimistis pertumbuhan tembus 5,5% didukung konsumsi kuat, stabilitas fiskal, dan kebijakan energi.
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
HARGA minyak dunia terus menunjukkan tren kenaikan meskipun Iran mengajukan proposal untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved