IEA: Permintaan Minyak Global Anjlok akibat Perang Iran

Wisnu Arto Subari
15/4/2026 05:56
IEA: Permintaan Minyak Global Anjlok akibat Perang Iran
Ilustrasi.(Freepik)

BADAN Energi Internasional (IEA) pada Selasa (14/4) memproyeksikan bahwa permintaan minyak global akan mengalami penurunan paling tajam sejak pandemi covid-19. Ini karena gangguan terbesar terhadap pasokan minyak global yang berasal dari perang Iran akan memicu penurunan permintaan besar-besaran akibat kelangkaan dan harga yang tinggi.

Dalam laporan pasar minyak bulanan yang dirilis pada hari Selasa, IEA memproyeksikan bahwa permintaan minyak akan menurun sebesar 80.000 barel per hari (bpd) tahun ini dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya yang menunjukkan peningkatan sebesar 640.000 bpd.

IEA mengatakan bahwa sejauh ini, pengurangan terbesar dalam penggunaan minyak dilaporkan di Timur Tengah dan kawasan Asia Pasifik, terutama untuk nafta, LPG, dan bahan bakar jet.

Namun, penurunan permintaan ini diperkirakan akan menyebar luas karena kelangkaan dan harga yang lebih tinggi terus berlanjut.

IEA menegaskan kembali bahwa gangguan pasokan minyak yang sedang berlangsung, disebabkan oleh penutupan Selat Hormuz di tengah Perang Iran, ialah gangguan terbesar dalam sejarah.

Badan tersebut juga memproyeksikan bahwa produksi minyak global pada 2026 akan menurun sebesar 1,5 juta barel per hari dari tahun lalu. Ini membalikkan perkiraan sebelumnya yang memperkirakan peningkatan sebesar 1,1 juta barel per hari.

Konflik yang sedang berlangsung dan blokade Selat Hormuz, yang membawa 20% pasokan minyak dunia, memicu volatilitas besar di pasar berjangka minyak mentah. Meskipun demikian, patokan global Brent Crude Futures tetap di bawah US$120 per barel, sebagian besar berkisar sekitar US$100. 

Namun, laporan IEA mencatat bahwa harga minyak mentah spot--tempat barel minyak fisik di dunia nyata diperdagangkan--jauh lebih tinggi. Laporan tersebut menyebutkan harga minyak mentah fisik naik hingga US$150 per barel yang menunjukkan kekurangan yang akut. Badan tersebut mencatat, "Dengan negara-negara pengimpor minyak berebut untuk mendapatkan barel pengganti dari persediaan yang semakin menyusut."

Laporan tersebut mencatat bahwa prospek gencatan senjata permanen masih belum jelas saat ini dan proyeksinya mengasumsikan dimulai kembali pengiriman minyak dan gas secara teratur dari Timur Tengah pada pertengahan tahun, tetapi di bawah tingkat sebelum konflik. Namun IEA menambahkan, "Kami menyadari bahwa skenario ini mungkin terlalu optimis, mengingat tingginya tingkat ketidakpastian tentang bagaimana situasi tersebut dapat berkembang." (Forbes/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya