Di Tengah Gejolak Global, Ekonomi RI Tetap Solid

M Ilham Ramadhan Avisena
08/4/2026 20:44
Di Tengah Gejolak Global, Ekonomi RI Tetap Solid
Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.(Antara)

PEMERINTAH menilai kondisi perekonomian nasional tetap solid di tengah tekanan global, termasuk dinamika konflik di Timur Tengah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut kinerja ekonomi Indonesia masih kompetitif di level negara G-20.

Usai Rapat Kerja Kabinet Merah Putih di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (8/4), Airlangga mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di posisi kuat. "Kondisi perekonomian kita baik, dan perekonomian kita di antara negara G-20 kita hanya lebih rendah dari India, dengan pertumbuhan di triwulan IV 5,39%," ujarnya.

Harga komoditas energi justru menunjukkan tren penurunan. Harga minyak mentah West Texas Intermediate tercatat turun ke US$96,7 per barel dan Brent ke US$95,23 per barel. Sementara itu, harga kelapa sawit juga mengalami sedikit penurunan, meski masih bertahan di atas US$1.192.

Dari sisi domestik, konsumsi masyarakat tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional. Airlangga menjelaskan konsumsi berkontribusi sebesar 54% terhadap produk domestik bruto (PDB), mencerminkan daya beli yang relatif terjaga. 

Ketahanan pangan pun dinilai kuat, dengan produksi beras tahun 2025 mencapai 34,7 juta ton dan stok Bulog sebesar 4,6 juta ton.

Pemerintah juga memperkuat ketahanan energi melalui kebijakan biodiesel.

"Kita sudah menyepakati per 1 Juli B50, di mana itu meningkatkan ketahanan anggaran dari savings sebesar Rp48 triliun," kata Airlangga. 

Kebijakan itu sekaligus memperkuat peran APBN sebagai peredam gejolak ekonomi (shock absorber), didukung peningkatan penerimaan pajak sebesar 14,3% atau Rp462,7 triliun hingga Maret, serta sektor manufaktur yang masih ekspansif.

Di sisi fiskal, kata Airlangga, Presiden Prabowo Subianto mewanti-wanti komitmen menjaga stabilitas. Rasio utang dipertahankan di kisaran 40%, jauh di bawah batas maksimal undang-undang sebesar 60%. Defisit anggaran juga dijaga di level 3% hingga akhir tahun.

Dengan indikator makro yang stabil, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 dapat melampaui 5,5%. 

Cadangan devisa yang mencapai US$151,9 miliar per Februari 2026 turut memperkuat ketahanan eksternal, ditopang stabilitas sistem keuangan domestik.

Koordinasi dengan Bank Indonesia juga terus diperkuat, termasuk melalui kebijakan triple intervention di pasar spot, DNDF, dan non-delivery forward guna menjaga stabilitas rupiah. Suku bunga acuan (BI Rate) tetap berada di level 4,75%.

Selain itu, pemerintah melanjutkan kerja sama bilateral currency swap dengan sejumlah negara seperti Tiongkok, Jepang, Australia, Malaysia, Korea Selatan, dan Singapura, serta membuka peluang ekspansi ke negara lain.

Di sektor transportasi dan ibadah haji, pemerintah berupaya meredam dampak kenaikan biaya energi. Penyesuaian harga avtur yang diikuti insentif pajak membuat kenaikan tiket pesawat hanya berkisar 9% hingga 13%. Sementara itu, biaya haji justru diturunkan Rp2 juta per jemaah.

Pemerintah menanggung dampak kenaikan avtur agar tidak membebani masyarakat.

"Dengan demikian tidak ada kenaikan biaya haji dan ini di-absorb untuk 220 ribu yang akan menjadi jemaah haji. Anggarannya Rp1,77 triliun dibebankan kepada APBN," pungkas Airlangga. (Mir)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya